Mereka Lebih Cinta Turki dibanding Negeri Sendiri

Oleh : Salman Rais

Jika boleh diberikan 3 keinginan oleh Jin Arab, saya ambil satu harapan Kembalikan Mursi. Ya serius, kembalikan Muhammad Mursi ke jabatannya sebagai Presiden Mesir. Mursi sosok yang normal di negara tengah kacau, tengah mengalami periode demokratisasi yang telat 20 tahun.

Dia jadi ikut kacau, karena latar belakang keterpilihannya, yakni kaum Islam politik, Ikhwanul Muslimin. Walau demokrasi memenangkannya, Mesir tidak. Secara tabiat, Mesir berideologi sekuler, agama hanya bagasi belakang, tempat menyimpan barang barang yang tidak bisa di taruh di depan.

Mesir lebih mengutamakan sejarah pra Islam, mereka membuat atraksi besar di Nil, mereka restorasi parawisata di Giza, mereka percantik Obelisk. Mereka ingin tetap terlihat sebagai negaranya Horus dan Ra. Tentu saja ini membuat gerah Islamist. Bagaimanapun Islamist ingin mesir kembali ke era di mana Islam pertama kali melakukan aneksasi dan menjadikannya provinsi kekhalifahan.

Lalu tiba musim semi di Afrika Utara. Mubarak yang kuat jatuh. Pemilu diadakan, hasilnya Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu. Anggota Ikhwanul muslim di Indonesia ikut euforia. Di era tersebut sebetulnya Erdogan di Turki pun tengah berkuasa, tapi kalah tenar dibanding Mursi. Tapi bencana tiba, militer yang solid menolak perubahan haluan Mesir menuju khalifah Islam versi Ikhwanul Muslimin. Mereka menolak negara mereka menjadi provinsi lain dari kekhalifahan Islam versi Ikhwanul Muslimin. Mesir adalah negara berdaulat, bukan provinsi. Pikir militer, akhirnya mereka berkongsi dengan sekuleris dan menjatuhkan Mursi.

Rusaknya demokrasi di Mesir adalah contoh buruk tidak ada nya ideologi pemersatu, tapi bagaimanapun semua orang di sana adalah korban, baik militer maupun ikhwanul korban ambisi sendiri, dan simpati pada Mursi sejauh ini masih berada dalam koridor kebenaran. Adapun, simpati pada militer Mesir sejauh ini juga dapat dikatakan berada dalam koridor permakluman. Mursi benar tapi kita sulit maklum pada upayanya diam diam merubah haluan demokrasi. Militer salah, tapi kita maklum karena mereka ingin selamatkan negara dari perubahan haluan.

Maka dari itu, jika ada Jin Aladin, saya berharap Mursi bisa dikembalikan ke posisinya. Lebih baik para fans group Ikhwanul di Indonesia mengelu-elukan Mursi, dibandingkan mengelu-elukan Erdogan yang tiran.

Ya. Ada perbedaan besar dan menganga lebar dari keduanya. Walau keduanya sama sama satu ideologi Ikhwanul Muslimin. Mursi lebih halus, masih ada sisi welas asih, dia gagal mengendalikan negara dan menundukkan kudeta karena dia welas asih. Tapi Erdogan, tanpa ampun, sosok tiran yang galak, yang pernah memenjarakan remaja karena politik, membredel media massa, memenjarakan ribuan hakim, karena politik. Haluannya pun berbeda dengan Mursi. Erdogan lebih liberal, dan sanggup berkerjasama dengan Israel. Mencirikan gerakan politik yang luwes.

Tampak sekilas, Erdogan bukan tauladan bagus untuk orang Asia seperti kita, sebagaimana kita 15 tahun terakhir ini telah sama sama mengusir kepemimpinan diktator dan tirani dari Istana Negara. Tetapi, absennya Mursi yang teduh dan welas asih, dan betapa tokoh politik lokal Ikhwanul Muslimin di Indonesia jadi bulan-bulanan akibat ulah sendiri, membuat fansboy Ikhwanul Muslimin mengalihkan afeksinya ke Erdogan. But it’s okay. Fine fine ajah..

Sejatinya afeksi pada pemimpin asing, wajar wajar saja. Sesatu yang normal lumrah, dan tidak perlu dilarang-larang. Bagaimanapun, orang Indonesia ada yang menganggumi Mikail Gorbachev, tokoh welas asih asal Russia yang mengakhiri perang dingin. Ada yang menganggumi Margaret Thatcer, mantan PM Inggris yang dijuluki di wanita besi. Obama, Vladimir Putin, Fidel Castro, Lee Kuan Yew, Mandela, siapa pula yang tidak mendapatkan inspirasi dari mereka. Semuanya tokoh hebat, patut dikagumi.

Dan bagaimana dengan Erdogan? Lah ya silahkan kagumi, tidak ada yang larang. Dia bagus. Bagai Cao Cao di era Three Kingdom, tangan besinya walau berlumur darah tetap bisa membuat Turki berada dalam grip tepat, baik secara ekonomi atau politik di kawasan yang bertetangga dengan ISIS, Iran, dan Suriah yang tidak stabil.

Tapi menganggumi Erdogan, seraya memburukkan pemimpin sendiri, membuat marwah dan harga dirimu rendah dihadapan bangsa lain. Tidakkah kau mengerti arti dari pameo “Right or Wrong is My Country” Mau jelek, bopeng, mau ngaco, ancur, belepotan, korup, pemimpinnya, negaranya, mau kek comberan, mau atapnya sebentar lagi rubuh, ini rumah kita, ini comberan kita, ini bopengnya kita, ini milik kita, ini negara kita.

Lebih menyedihkan di sosial media, mereka orang Indonesia, makan di Indonesia, berbahasa Indonesia jarang memasang bendera nasional kebanggaan kita, MERAH PUTIH yang kakek nenek kita sendiri berdarah darah mengibarkannya. Tapi sebagian orang Indonesia senang mengibarkan bendera Turki di wall mereka. Jika ini sekedar karakter budaya massa, sebuah potongan hyperrealitas di mana simbologi internasional menjadi milik siapa saja, dipakai oleh siapa saja, maka itu tidak masalah. Tapi yang jadi masalah, mereka benar benar “menurki” sampai ke darah dagingnya.

Lebih parah lagi, mereka berharap keburukan pada Indonesia, ramai ramai berharap Indonesia mengalami kondisi kudeta, setelah sempurna sebagai negara demokrasi terbesar di Asia. Karena benci Jokowi, mereka berharap Indonesia yang hancur berdarah-darah dan bukan Turki. Mereka tidak rela Erdogan dikudeta, tapi mereka rela jika Indonesia mengalami kudeta. Sejenis anakronisme yang akut.

Mereka sudah diberikan nikmat demokrasi yang stabil, nikmat yang telah berdarah-darah diupayakan dalam waktu singkat cukup 70 tahun, sementara negara lain masih bermimpi bisa demokrasi luar dalam, memilih pemimpin langsung sampai harus saling perang saudara.

Kita tidak pernah perang saudara, ada pemberontakan di era 50 an, tapi pemberontakan skala bunyi jangkrik, keras tapi kecil, berisik tapi tidak signifikan, nafsu gede tenaga kurang. Lalu kenapa mereka ini begitu haus darah ingin negara hancur dan kacau balau seraya mengagung-agungkan Turki? Apakah mereka agen ganda Turki? Punya paspor Turki? Lantaran Indonesia salah satu negara yang menolak dwi kewarganegaraan. Sekalinya jadi Indonesia setia sebagai Indonesia jangan yang lain.

Penulis jelek jelek hafal sedikit sejarah Turki lantaran senang baca sejarah, dan juga tahu bahwa Raymond Westerling yang membunuh 4000 orang Sulawesi adalah keturunan Turki-Grekko, bahkan Westerling mengagungkan darah Turki nya, pernah bilang “Saya Turki, orang Turki terlahir sebagai prajurit.”

Walau senang membaca hal hal berbau Turki dengan para Sipahi nya, kagum dengan hurrem Sultan yang cantik, senang menonton permainan Hakan Cahlanoglu, ikut senang untuk Turki yang bisa bergabung dengan Uni Eropa, bagi penulis Indonesia tetap nomor satu, di bawah pimpinan siapapun. Termasuk bila Prabowo yang penulis tidak pilih sebagai presiden menjadi pemimpinnya. Karena penulis mencintai demokrasi kita, sebagaimana kecintaan Muhammad Hatta yang berharap demokrasi di Indonesia bisa berjalan sebagaimana yang kita jalankan saat ini.

Sekali lagi, bangun, sadar, kembali normal, kalian bangsa Indonesia, kalian warga negara Indonesia. Turki pun tidak mengakui kalian, orang Turki pun tidak ingin menerima kalian mengungsi dan bikin conclave, tengok orang Kurdi, yang ratusan tahun masih berada di satu tanah, satu atap, satu wilayahpun di diskriminasi luar dalam, karena beda budaya dan adat istiadat.

Impian khalifah Islam dengan Turki sebagai negara utama dan Indonesia sebagai provinsi Anda kosong bung.. Kekhalifahan Turki sejatinya penjajahan bangsa Turk ke Balkan, ke Armenia, Georgia, Krimea, Syria, Hijaz, Mesir,  yang ditolak dalam hati oleh bangsa bangsa itu sendiri. Jika mereka ridho dan rela, sudah dari dulu Balkan, Armenia, Georgia, Krimea, Syria, Yordan, Irak, Saudi, Mesir, Libya, gabung dengan Turki dan menyebut diri Uni Turki.

Dan penulis yakin, kudeta kemarin hanya gerbang pandora yang dibuka, dan Erdogan dalam hal ini tidak efektif lagi sebagai pemimpin besar untuk para Attarturk. Satu hal yang saya sayangkan sendiri, karena saya pun diam diam kagum dengan Erdogan, tapi kagum pakai otak, bukan hoax.***

Sumber : Gugah.id

Thursday, September 1, 2016 - 08:45
Kategori Rubrik: