Mereka Bukan Ulama

ilustrasi

Oleh : Makinuddin Samin

Siapa sebenarnya ulama: para tukang ceramah atau para alim yang tunduk kepada keagungan Allah?
.
Konsep ulama bisa ditemukan di dua tempat dalam Al-Qur’an. Pertama, QS Fatir ayat 28 “..sesugguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyala ulama..” jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya (ayat 27) maka pengertian ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan kauniyah (ilmu alam). Kedua, QS Asy-Syu’ara’ ayat 196-197 “ Dan Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar (disebut) dalam kitab-kitab terdahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya." Berdasarkan dua ayat tersebut, disimpulkan bahwa ulama adalah orang yang memiliki pengatahuan ilmu kealaman dan ilmu keagamaan, dengan pengetahuan itu seseorang bisa menggunakannya untuk mengantarkan dirinya dan orang lain pada rasa khasyyah (tunduk) kepada Allah.
.
Apa tugas para alim sebagai pewaris Nabi? 1) Tablig (menyampaikan) QS al-Maidah ayat 67; 2) Tabyin (menjelaskan) QS an-Nahl ayat 44; 3) Tahkim (memutuskan perkara) QS al-Baqarah ayat 213; dan 4) Uswah (contoh yang baik) QS al-Ahzab ayat 21.

 

Sejak masa Banu Umayyah berkuasa, predikat alim (ulama) lebih ditekankan pada seseorang yang memiliki pengetahuan agama saja dengan spesialiasi: fukaha (ahli fiqih), mufasir (ahli tafsir), muhaddist (ahli hadist), mutakallim (ahli kalam), mutawasif (ahli tasawuf) dll. Karena itu orang-orang hebat seperti al-Khawarizmi, al-Biruni, dan Ibnu Hayyan tidak disebut ulama, mereka hanya disebut ahli Ilmu Kauniyah. Begitu juga failasuf (filosof) dan hukama’ (orang-orang yang memiliki kebjaksanaan) seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina, kecuali Ibnu Rusyd dan al-Ghazali adalah dua orang ilmuan kauniyah sekaligus ulama sebab mereka juga ahli fikih (Ibnu Rusyd), sedangkan al-Ghazali selain ahli fiqih, dia juga ahli tasawuf, kalam, dan ilmu kealaman (Sumber: Ensiklopedi Islam Huruf SYA-ZUN buku ke-5).
.
Perhatikan, jika ada seorang penceramah, bukan orang alim, yang hanya bisa misuh/memaki, mengghibah, hanya bisa menjelaskan "bibir" perempuan, apalagi hanya seorang tukang pukul tanpa memiliki khasyyah (ketundukan) kepada Allah, kemudian kalian sebut mereka ulama, maka kalianlah yang sebenarnya sedang merawat ketololan!

Sumber : Status Facebook Makinuddin Samin

Wednesday, July 1, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: