Merefleksi Cara Membangun Indonesia Ala Jokowi

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Jika dana itu tidak dipakai untuk membangun infrastruktur (jalan, jalan tol, bandara, pelabuhan, bendungan, MRT, LRT), kira-kira dana itu kemana ya? Mungkin juga seperti tahun-tahun sebelumnya, akan habis tanpa meninggalkan warisan berupa fasilitas apapun. Bisa untuk subsidi BBM, listrik, rapat koordinasi kementerian, rapat DPR, studi banding, kunjungan kerja, kunjungan luar negeri, workshop akhir tahun dan habis begitu saja tanpa bekas. Kita sudah lama dan sering mengalami itu. Dana lari ke kantong-kantong pribadi.

Seorang istri ASN di kementerian dalam negeri bercerita order jadi nara sumber dari pemda-pemda seluruh Indonesia untuk suaminya berkurang drastis akhir-akhir ini. Tapi dia rela demi Indonesia yang lebih baik meski secara pribadi penghasilan suaminya jauh berkurang..

Ada yang menghitung bahwa dengan jumlah penumpang dan tarif tiket MRT seperti sekarang, maka kembali modalnya terjadi dalam 48 tahun. Dia lupa bahwa gara-gara kemacetan Jakarta, tiap tahun terjadi kerugian sebesar 67 trilyun (Bappenas) bahkan ada yang mengestimasi 100 trilyun. Dan itu semua yang nanggung kita-kita pengguna jalan di Jakarta. Pasti saja produsen mobil dan motor Jepang nggak suka MRT. Sudah pasti.

Masak masih percaya mereka saudara tua? Saudara tiri yang kejam mungkin iya dan para pejabat kita dulu-dulu suka sama saudara tiri. Bahkan ketika ada yang ingin bikin mobil nasional justru dibully, bukannya disupport. Itulah khas watak kita.(padahal sekarang sedang berproduksi di daerah Boyolali,

https://otomotif.kompas.com/…/ternyata-esemka-masih-ada-dan…)

Puluhan tahun rel kereta api nggak pernah diperbaiki, layanan kereta api dibiarkan merana, masyarakat dininabobokkan dengan BBM murah dan lomba beli mobil dan motor pribadi.
Jepang tersenyum, kita terlena.

Jika negara berjalan dengan irama seperti sekarang, memang tidak aneh kita akan masuk 10 negara ekonomi terbesar dalam beberapa tahun mendatang.

Tapi ingat kita memakai terlalu banyak LPG yang 2/3 kebutuhannya diimpor. Listrik lebih murah dari LPG. Defisit perdagangan kita disumbang oleh impor migas sebesar 8,6 Milyar dollar pada 2018. Sumbangan defisit sektor migas 14,6 milyar dollar dan non migas surplus 6 milyar dollaran. Ini akibat impor 17,6 juta Kl bensin dan 6 juta an kl Solar.Sementara kita punya sawit yang potensial untuk menjadi biofuel. Produktivitas sawit tiap Ha tidak bisa ditandingi tanaman lain di Eropa maupun di Amerika. CPO kita banyak ditolak di Eropa, kesempatan bagus mengubah jadi biofuel untuk pengganti bahan bakar fosil. Ada 17 juta orang yang hidup dari tanam-menanam sawit dan proses ikutannya.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Monday, April 1, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: