Mer(d)eka

Oleh: Freedy Van Der Pundulay

Menjelang hari euforia menyambut kemerdekaan yg kesekian puluh kalinya.
Kemeriahan selebrasi tanpa pernah mampu memaknai arti perjuangan sejati.
Mari kita buka memori ttg rentetan kejadian yg memukul wajah sendiri, tidak lagi bicara tragedi, mari bicara ttg esok hari kejadian yg sama akan terus berulang lagi.

 

Semboyan negara Demokrasi, hanyalah sebatas tirai penutup atas segala kekejian yg sering terjadi, persekusi, intimidasi dan ribuan kekerasan di balik dalih menyuarakan pendapat.
Semboyan bhineka hanya sebatas kamuflase untuk tetap merangkul kaum minoritas agar tidak memberontak dari segala ketarasingan dan tekanan.
Semboyan Tuhan Esa tidaklah bertujuan untuk mengantarkan anak bangsa pada pemahaman spiritual, namun pemaksaan untuk meyakini sesuatu yg berada diluar wilayah akal logika.

Kemerdekaan tidak nyata merdeka di negeri ini. Perbedaan pandangan dalam segala hal berbuah keterasingan. Perbedaan bukan lagi warna, perbedaan tidak lagi menjadi alasan bukti kita memiliki akal fikiran.
Kekinian perbedaan adalah alasan bertindak kesemenaan, tumpuan untuk membenarkan segala penindasan atas yg berbeda.

Euforia kemerdekaan dalam penyambutannya tidak pernah mampu menjadikan sebagian kita lebih baik. Lebih bijak, lebih mengedepankan rasa.
Segudang kegiatan euforia itu bagian dari segudang polemik yg tak berkesudahan. Kita lebih menyuka pada hal hal semu, berbela kasihan atas kesusahan dengan cara like postingan. Menyuka pada takut rugi kemudian berdoa seolah doa lebih baik dari tindakan.

Satu waktu seorang ateis sekaligus seorang aktivis sosial berkata.
"saya tak pernah melihat sejatinya kemerdakaan di republik ini, bahkan untuk mengatakan merdeka saja kita tidak benar benar merdeka. Kemedekaan tak akan pernah ada di negeri yg melandaskan prinsip kehidupan berbangsa pada nilai ketuhanan yg sejatinya diluar wilayah akal manusia" (Riki Seprianto).

Ya.. Berketuhanan yg Esa adalah tembok penghalang untuk mencapai kemerdekaan sejati. Sehingga kedepannya pun kemerdekaan hanya milik mereka yg bertuhan. Tidak lagi hak seluruh anak bangsa.  
Wajar kiranya sekolompok agamaisme dinegeri ini selalu merongrong dan menggonggong merecoki pemahaman. Menjadi racun kehidupan yg semestinya kita merdeka memilih atau tidak percaya sama sekali.

Kemerdekaan sejati, kemaren.. Sekarang.. Dan seterusnya hanyalah kemerdekaan semu. Pribadi kita tidak akan pernah benar benar merdeka. Bahkan pribadi yg menusantara yg merepresantikan nilai nilai indonesia terkekang tak lagi merdeka.

Seperti kata Riki Seprianto di Podium Samoa
"Kemerdekaan indonesia adalah kemerdekaan dari keterjajahan bangsa lain. Tapi tidak akan pernah mampu merdeka dari penjajahan anak bangsanya sendiri".

Mer(d)eka!!!

(Sumber: Facebook Freedy Van Der Pundulay)

Sunday, August 9, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: