MerdekA Belajar Merdeka Berpikir

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Salah satu berkah virus Corona bagi dunia pendidikan adalah giatnya beberapa kampus mempersiapkan cara pembelajaran online. Kita dipaksa untuk mencari cara-cara lebih baik untuk menjaga kualitas pengajaran dalam kondisi yang serba sulit sekarang ini.

Dunia pendidikan menjadi salah satu bidang yang harus bekerja keras mensikapi perubahan saat ini. Hal-hal yang selama ini menjadi kebiasaan dalam belajar mengajar mungkin akan ditinggalkan beberapa tahun mendatang.
Memprediksi seperti apa cara manusia hidup di masa depan akan semakin sulit. Dalam perkembangan teknologi yang demikian cepat prediksi itu tidak bisa disamakan dengan keadaan satu abad lalu misalnya.

Tahun 1920 orang-orang di Nusantara masih menanam padi, memakai kain, mereka pergi kemana-mana dengan jalan kaki, beberapa bersepeda. Wanita mengabdi pada suami sebagai ciri wanita yang baik. Tiga puluh tahun kemudian, 1950 kehidupan tidak banyak berubah. Orang masih bercocok tanam, orang masih pakai kain dan juga bepergian dengan jalan kaki atau bersepeda. Wanita yang baik tetap wanita yang mengabdi pada suami dan keluarga. Kondisi itu tetap berlangsung hingga beberapa puluh tahun kemudian. Tidak banyak berbeda.

Tapi bagaimana kira-kira kehidupan pada tahun 2050? Apakah mahasiswa masih belajar di kelas? Apakah para dosen masih duduk di kursi di depan para mahasiswa? Apakah kita masih menggunakan mobil berbahan bakar minyak? Apa masih ada pedagang keliling? Akankah anak kita nanti akan dengan mudah mengubah wajahnya dengan operasi plastik? atau nanti transgender akan menjadi hal biasa? Dan banyak lagi hal-hal yang sulit diprediksi. Dunia pendidikan harus mengantisipasi, jenis pendidikan dan kompetensi apa yang harus diberikan pada anak didik sehingga mereka nanti mampu menghadapi hidup dengan mulus tanpa banyak kendala.

Konsep merdeka belajar kampus merdeka merupakan terobosan dari menteri Nadiem. Salah satu cara menghadapi dunia masa depan yang sulit. Mahasiswa dan para siswa dibebaskan memilih pelajaran apa yang menurut mereka penting. Mereka juga boleh memilih belajar di kelas, magang di perusahaan, magang di pemda, pemdes atau merancang kegiatan sendiri. Itu semua bisa dikonversi ke dalam SKS. Ini terobosan besar.

Ada beberapa kendala yang perlu diantisipasi. Ketika nanti mahasiswa begitu bergairah ingin magang di industri, apakah industri siap menampung? Ada berapa banyak BUMN yang ada di Indonesia? Sementara sekian ratus ribu mahasiswa membutuhkan tempat magang yang siap menampung mereka. Dari sekian puluh BUMN itu berapakah yang kinerjanya bagus sehingga pantas menjadi tempat magang. Apakah industri siap memberi tugas2 yang sesuai dengan kapasitas mahasiswa? Jangan2 nanti mahasiswa disuruh mengetik dan entry data karena industri tidak siap menampung mahasiswa magang. Lalu bagaimana jika mahasiswa ingin mengambil kuliah di universitas lain, apakah kampus-kampus yang ditinggalkan mengijinkan? Mungkin satu dua tidak masalah. Namun jika jumlahnya ratusan akan menjadi sulit. Ini hal-hal yang harus diantisipasi.

Dari sekian rancangan pembelajaran yang mencerminkan merdeka belajar dan kampus merdeka, ada satu hal penting yang perlu dipikirkan: merdeka berpikir. Ini akan menjadi dasar penting dari merdeka belajar. Karena jika siswa atau mahasiswa tidak biasa untuk merdeka berpikir akan menghambat kemerdekaan belajar.

Selama ini seakan masih ada hambatan ketika seseorang berani berpikir merdeka. Sering dicap menuhankan akal atau dianggap kurang beriman jika seseorang mengoptimalkan penggunaan akalnya. Padahal dari catatan sejarah, para ilmuwan baik yang Yahudi , Kristen atau katolik , para penemu hebat sekelas Einstein, Newton, Thomas Alfa Edison dan banyak ilmuwan lain selalu berani berpikir merdeka. Jauh dari ketakutan. Teori F=ma atau E=mc2, V=RI jelas bukan berasal dari kitab suci. Teori-teori itu tidak bertentangan dengan hukum alam atau hukum Tuhan. Justru itulah wujud adanya hukum alam. Teori itu ditemukan dari eksplorasi alam yang tanpa henti, kerja keras dan tanpa dikungkung berbagai ketakutan. Harari penulis buku Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons for 21st Century menggambarkan bahwa para ilmuwan Yahudi justru meninggalkan Yeshiva dan menuju laboratorium ketika berhasil menemukan teori dan teknologi canggih. Para ilmuwan Kristen Katolik meninggalkan gereja menuju laboratorium ketika menemukan vaksin, obat, teknologi atau teori lain.

Penulis Yuval Harari menceritakan bagaimana orang-orang Yahudi di negaranya, Israel, dibatasi dalam belajar . Mereka tidak diberi kesempatan mempelajari hal lain di luar belajar Taurat. Bahkan ada doktrin manusia Yahudi adalah manusia pilihan. Jadi dunia yang mereka kenal adalah dunia menurut versi mereka. Bagi mereka dunia ini berjalan karena peran Yahudi. Mereka tidak mengenal budaya lain seperti China atau India yang sudah berkembang sebelum Abraham atau Ibrahim lahir. Orang Yahudi jelas tidak berperan besar dalam perkembangan masyarakat sebelum abad 19 & 20. Dia mengkritik masyarakatnya sendiri.

Begitu pun orang Islam, menurut Harari, diajari bahwa budaya masyarakat jahiliyah begitu buruk sebelum Islam datang. Padahal dunia mengenal banyak budaya tinggi telah berkembang sebelum Islam datang pada abad 7. Kebudayaan Mesopotamia, Mesir kuno, China , India dan juga Persia berkembang pesat baik dalam pembangunan fisik, tata kelola pemerintahan, hubungan kemasyarakatan, kesehatan, dll. Bahkan budaya Jawa sudah berkembang jauh sebelum Islam datang ke sini. Begitu juga orang Kristen Katolik. Mereka masing2 merasa paling berperan dalam pengembangan dunia menjadi seperti sekarang.
Hal -hal seperti ini mestinya diajarkan secara terbuka. Begitu saran Yuval Harari. Sehingga masyarakat mengenal sejarah alam semesta ini secara lebih utuh. Bukan penggalan-penggalan sejarah budaya menurut versi kelompok tertentu yang didominasi oleh budaya atau agama tertentu.

Kemerdekaan berpikir di sini juga mirip apa yang diceritakan Harari. Kita sekarang mulai dibatasi dengan sejarah atau budaya versi tertentu, budaya tertentu dicoba direduksi. Tidak diperkenalkan adanya budaya2 lain yang berkembang yang telah membentuk dunia seperti sekarang. Ketika kita mencoba berpikir bebas, merdeka, sering dihambat dengan ketakutan. Hambatan berupa penanaman ketakutan sering beredar dimana-mana. Kita tidak terbiasa berpikir merdeka. Bahkan sering penggunaan akal justru dihambat. Seakan penggunaan akal berseberangan dengan iman, dengan pengamalan agama. Padahal dalam agama diajarkan bahwa agama itu untuk orang yang berakal.

Narasi-narasi agama yang menghambat kemerdekaan berpikir sekarang banyak sekali beredar. Akal selalu dilawankan dengan iman. Menurut saya merdeka belajar akan berhasil jika dibarengi dengan merdeka berpikir. Jika merdeka berpikir masih belum tumbuh, merdeka belajar tidak banyak menghasilkan terobosan. Atau kalau tidak ilmu hasil olah pikir akan dikalahkan dengan ajaran-ajaran berdasarkan keyakinan yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Tuesday, March 17, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: