Merasakan Kehadiran Soekarno Melalui Jokowi

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Lamat-lamat suara radio transistor merk Sinar pada pagi itu, kakek yg berjualan warung sarapan menghentikan pekerjaannya sejenak. Soekarno meninggal lirihnya, 21 Juni 1970, Indonesia berkabung, langit ikut berduka. Saya sudah berusia 15 tahun saat itu, hanya mendengar tanpa emosi, buliran air mata diujung mata kakek menandakan dia berduka atas kematian pahlawan dan proklamator yg luar biasa itu, dan kelak saya baru tau kejatuhannya adalah drama politik dan kemanusiaan yg paling diluar nalar bangsa Indonesia. itulah sebuah mahakarya rezim orba yg tidak bisa kita biarkan bercengkerama didalam pikiran anak-anak muda Indonesia kedepan. Disana ada rekayasa luar biasa yg perlu penjelasan entah kapan, karena sekarang antek-anteknya masih bergentayangan menutupi kejadian yg menyakitkan yg pernah kita rasakan.

Penggantian kekuasaan yg dipaksakan, kekajaman yg dilakukan atas diri seorang pahlawan diluar batas kemanusiaan, menelantarkan raganya, menyiksa batinnya, bahkan saat sakit dia di jaga dokter hewan, keterlaluan. Sejarah berlumuran darah yg pernah membantai ratusan ribu saudaranya sendiri untuk melegitimasi bahwa tindakan keji itu untuk membela negeri bukan dirinya sendiri, ngeri kata yg pantas disematkan atas sebuah tindakan kesetanan bermotif kekuasaan.

 

 

Panjang dan tak ada habisnya membicarakan sosok Soekarno sekaligus predator Soeharto, sama-sama menorehkan sejarah, yg satu menorehkan perjuangan, yg satu mencatatkan kebiadaban. Perjuangan Soekarno yg tak sempat terlesaikan sekarang dijelmakan melalui sosok Jokowi

Pria dari bantaran kali yg lahirnya sama dengan tanggal dimana Soekarno meninggalkan bangsa Indonesia, entah kebetulan atau ada rahasia Tuhan. Sepak terjangnnya sebagai orang biasa, anak desa yg hidupnya selalu ditempa kesulitan, kini dihadirkan untuk melanjutkan cita-cita bangsa Indonesia yg pernah ditanamkan oleh Soekarno, yg telah diabaikan oleh manusia-manusia lupa daratan, menjadi presiden 32 dan 10 tahun hanya menghasilkan bekas mengenaskan, mencabik hak rakyat dan memangsa semua yg dirasa sebagai saingannya. Menomorsatukan keluarga dan koloninya tanpa merasa Indonesia ini bukan milik nenek moyangnya, tapi warisan pendiri nusantara yg berhati mulia.

Jokowi dengan Nawa Cita, sekarang sedang berkarya. Dalam suasana dicerca oleh manusia-manusia kera, dia terus bekerja dengan kejujuran, keyakinan dan segala tekad bulatnya bahwa Indonesia pasti bisa berjaya. Restorasi sedang dijalankan, dia korbankan imej yg cuma untuk jabatan dan kekuasaan, hanya satu dibenaknya, Indonesia bermasa depan, karena anak muda yg akan melanjutkan, bukan mulut para sirkus bermoral rendah.

#Revolusi mental dijalankan, bukan beli susu sapi basi untuk dibagikan. Jokowi dan NKRI harga mati.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Monday, October 30, 2017 - 22:45
Kategori Rubrik: