Merah Putih Umar Patek

Oleh : Awan Kurniawan

Badai Arrabian springs, hawa panasnya terbawa hingga Indonesia. Indonesia menjadi negara yang paling banyak kedua mengirimkan milisi bergabung bersama kelompok teror al-Dawla al-Islamiya fi al-Iraq wa al-Sham (Daesh).

Sepanjang Januari-Juni 2017, 161 orang atau 52 keluarga WNI yang dideportasi dari Turki karena hendak bergabung dengan al-Dawla al-Islamiya fi al-Iraq wa al-Sham (Daesh) telah kembali ke Indonesia. Mereka berasal dari 12 provinsi di nusantara.

Berdasarkan data LSM C-SAVE, provinsi dengan pengikut terbanyak adalah Jawa Barat, dengan jumlah 13 keluarga. Disusul Jawa Timur dengan 10 keluarga, Jawa Tengah 8 keluarga, Lampung 5 keluarga, DKI Jakarta dan Banten masing-masing 4 keluarga. Juga Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan Barat, Aceh, Batam dan Sumatera Selatan masing-masing 1 keluarga.

Radikalisme dan terorisme tidak bisa di anggap pepesan kosong lagi. Dalam arena demokrasi ideologi bisa berkembang secara nyaman.

Kaum fundamentalis dapat meraih dukungan dengan menyebar beragam Propaganda kebencian, Hoax dan fitnah terhadap mereka di luar kelompoknya. Opini publik pun direbut dengan mengatasnamakan kondisi ekonomi umat yang terpuruk, sentimen terdzalimi, dan ragam sikap terkalahkan.

Bukan hanya lewat media sosial, tapi juga lewat ceramah penyebar kebencian yang berlindung di balik demokrasi dan kebebasan berpendapat. Simpati ini makin menguat ketika kebencian tersebut menyentuh sesuatu yang memang dirasakan betul di akar rumput sebagai persoalan. Kesuksesan kelompok adalah keberhasilan mereka membangun identitas kolektif ”moderat”. Alhasil,malapetaka terorisme dan radikalisme mengintai di balik kerah baju

Dalam sebuah diskusi bertajuk “Membedah Gerakan Radikalisme - Terorisme dan Solusinya”, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengatakan, unsur terpenting dari radikalisasi adalah adanya proses transfer ideologi. Proses itu sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif terhadap pola pikir seseorang dalam memandang sebuah ajaran atau pemahaman. Radikalisasi bisa berdampak negatif jika meyakini cara kekerasan dalam menyebarkan suatu pemahaman.

Titik vital program deradikalisasi yang adalah kontra wacana. Cara tersebut pernah dilakukan oleh pemerintah Spanyol untuk meredam kelompok radikal yang menggunakan ayat-ayat kitab suci.

Untuk itu, kita memiliki Pancasila dan nasionalisme guna mengisi rongga gelap demokrasi. Pancasila sebagai kolektivitas bekerja memisahkan demos dari non-demos, moderat dari radikal.

Cara yang di tempuh pihak BNPT dengan menjadikan Pancasila dan Nasionalisme sebagai kontra opini nampaknya mulai menuai buahnya. Beberapa waktu lalu seorang sahabat mengirimkan sebuah link video yang berisi pengakuan Hisyam alias Umar Patek salah satu Narapidana terorisme bom bali saat menjadi petugas upacara bendera.

Kita juga sebelumnya lewat pemberitaan media di suguhi pengakuan anak Amrozi yang memilih mengakhiri jalan dendam pada NKRI yang di pendamnya 10 tahun lebih. Ia yang sebelumnya menolak hormat bendera namun akhirnya memilih mencintai negeri ini dan menjadi pengibar bendera dalam upacara HUT RI ke -72 di Desa Tenggulun.

Senada dengan anak Amrozi.Dalam video yang di kirimkan sahabat tersebut pengakuan Umar patek menyebutkan bahwa Nasionalisme, Pancasila dan mewujudkan cinta kasih bukanlah berhala yang harus di hindari. Hal ini makin menjadi oase nasionalisme bagi kita semua.

Bukan pertama kalinya Umar Patek menjadi petugas upacara bendera merah putih di HUT kemerdekaan Indonesia. Manusia yang pernah dihargai 1 juta dolar oleh pemerintah Amerika Serikat itu setidaknya sudah tiga kali menjadi petugas upacara bendera di Lapas Sorong, Sidiharjo.

Dalam video tersebut, Umar tetap ingin mengibarkan bendera merah putih meskipun sering mendapat ancaman karena dianggap pengkhianat oleh kelompok teroris.

Sejak memilih bergabung dengan NKRI pada tahun 2015 lalu ia meminta sendiri untuk menjadi petugas upacara bendera. Ia menyiapkan sendiri seragam mulai baju, peci, celana bahkan sepatu yang ia beli dari uangnya sendiri.

Umar Patek menjadi contoh bagaimana Pancasila dan Nasionalisme bisa menjadi kontra wacana ideologi teror. Kita bisa melihat bagaimana bibir umar patek bergetar saat ia mengisahkan kebanggaannya mengenakan pin garuda pancasila di pecinya.**

Sumber : facebook Awan Kurniawan

Saturday, August 19, 2017 - 18:15
Kategori Rubrik: