Merah Putih dan Politik Gendruwo Hizbut Tahrir

ilustrasi
Oleh :

Bendera merupakan identitas suatu bangsa yang di dalamnya kaya akan sejarah perjuangan bangsanya dlm membela tanah airnya, sebagai marwah suatu bangsa yg hrs dijaga, sebagai pemersatu bangsa tanpa membedakan suku, budaya dan agama.
Kita miris dg pemikiran sempit para pengasong khilafah ala Hizbut Tahrir perlu diwaspadai oleh generasi muslim Indonesia karena akan membahayakan bagi agama, bangsa dan negara NKRI.
Dengan beragam kamuflasenya mereka menyebarkan pemahamannya yang sudah masuk ke ranah pendidikan, di kampus-kampus dan sekolah-sekolah yang memang disokong dengan kesamaan visi ideologi dan pemahaman keagamaannya. Apalagi dengan semakin banyaknya sekolah pendidikan swasta jika tidak diawasi standar kurikulumnya oleh pemerintah maka akan tidak terkendalinya ragam pemahaman yang memang bertentangan dengan falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai konsensus para pendiri bangsa.
Generasi milenial sebagai penyambung tongkat estafet ke arah masa depan bangsa untuk kemajuan bangsanya, jika tidak dipupuk sejak dini maka dikhawatirkan akan mudah diprovokasi dan tidak lagi cinta terhadap tanah air dan bangsa sebagai tumpah darahnya.
Hal itu mesti disadari, karena tantangan itu bukan ilusi lagi saat ini. Jargon-jargon politik keagamaan manakala agama dijadikan alat politik untuk kekuasaan maka akan timbul sikap radikal yang terlahir dari sebuah ghirah fanatisme keagamaan dengan dosis berlebihan yang celakanya lagi dikonsumsi orang awam jika dijadikan sebuah keyakinan yang disangkanya bagian dari agama yang mendekati fardhu 'ain bagi dirinya untuk mendirikannya padahal hal itu sebagai sikap politik bagi yang memiliki kepentingan untuk berkuasa dengan segala caranya.
Pemikiran-pemikiran yang salah kaprah pun dihembuskannya sebagai cara politiknya. Dengan membangun opini dan narasi ketakutan yang di buatnya sendiri untuk di takutin sendiri dengan membagikan ketakutannya itu bagi orang lain mungkin inilah yang barangkali disebut politik gendruwo.
Mereka mencuci fikiran dengan melemahkan imun-imun positif dengan memasukkan imun-imun negatifnya sehingga timbul rasa keraguan di dalam dirinya, setelah itu dimasukkannya doktrin-doktrin politik yang ditaburi ayat-ayat keagamaan sebagai penguat doktrin politiknya. Maka dari itu banyak kita temui manusia-manusia dadakan yang bikin terkaget-kaget bahkan ada yang sampai gila.
Menghormati belum tentu dan bukan berarti menyembahnya atau meng-kultuskannya tapi tentunya dengan catatan. Nah catatan itulah sebagai tugas ulama asli yang sesungguhnya untuk menerangkannya.
Ulama yang mana ?
Tentunya yg mu'tabar jelas sanad keilmuannya gitu lho.
Bukan tukang provokasi untuk diajari makar, membunuh orang , bikin bom dengan memakai dalil-dalil yang tidak pada tempatnya.
Semoga damai negeri kita aman , nyaman dan ibadah pun tenang.
SEMOGA
 
Sumber : Status facebook Adjid Khan
Tuesday, September 22, 2020 - 20:15
Kategori Rubrik: