Meragukan Kapasitas Saksi Ahli BPN, Jaswar Koto

ilustrasi

Oleh : Meilanie Buitenzorgy

Dear Netizens kepo sedunia,

Perlu kiranya saya update info soal “Prof” Jaswar Koto, berkat bantuan investigasi dari para netizen detektif.

Pertama, soal his current real job. Ada netizen yang menemukan profil ybs di website Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Lalu seorang ilmuwan diaspora berinisiatif bertanya ke UTM melalui email soal status ybs di UTM. Jawaban dari UTM: bahwa Jaswar Koto sudah tidak lagi bekerja di UTM terhitung sejak Mei 2019 dikarenakan berakhirnya kontrak kerja, dengan posisi terakhir sebagai Senior Lecturer.

**Bambang, tolong om Jaswar disuruh update CV ya! Penting!**

Lalu ada pula netizen yang berinisiatif menghubungi marketing Menara Hotel Resty Pekanbaru. ISOMAse, lembaga yang dipresideni Jaswar Koto diklaim berkantor di hotel tsb. Diperoleh informasi dari pihak Marketing, saat ini di Hotel Resty tidak ada ruangan yang disewakan untuk kantor.

Jadi, “Prof” Jaswar Koto saat ini ngantor dimana Bambang? Embuh…

Kedua, soal gelar professor ybs. Fyi, jenjang kepangkatan akademisi di Malaysia adalah sbb:

Lecturer --> Senior Lecturer --> Associate Professor --> Professor

Lalu bagaimana caranya Jaswar Koto bisa bergelar Professor, kalau sampai Mei 2019 ybs mentok di posisi Senior Lecturer saat berhenti kerja dari UTM?

Ya meneketehe Bambang! Lu tanya om Jaswar napa!

Tambahan kepo dari netizen lain, emangnya bisa gitu, S2 Master of Business lanjut ke S3 Engineering? Tolong dijawab juga, Bambang.

Lalu ada pula netizen yang teriak, don’t “kill” the messenger! Lihat dong isi kesaksiannya yang luar biasa cerdas dan logis.

Really?

REALLY?

Bukankah intisari dari “analisis audit forensic IT” Jaswar Koto terhadap website Situng di sidang MK adalah sebagai berikut:

“(diasumsikan) Terdapat 22.5 juta DPT siluman, dimana keseluruhan DPT siluman tersebut orangnya beneran ada (diistilahkan om Jaswar sebagai ghost voter), lalu (diasumsikan) seluruh 22.5 juta ghost voter tersebut datang mencoblos ke TPS-TPS, lalu (diasumsikan) keseluruhannya mencoblos #01. Maka perolehan suara #01 hitungan KPU yang 85.5 juta itu harus dikurangi 22.5 juta, tinggallah 63 juta. Sementara suara #02 tetap 65 juta. Jadi pemenangnya adalah #02 dengan prosentase 52%.”

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Esa…

“Analisis Anda itu mencakup sebaran seberapa besar?” tanya Sirra Prayuna kuasa hukum #01 geregetan.

“Dua puluh satu provinsi”, jawab om Jaswar.

Gubrak!

“Kajian terakhir saya 3 hari yang lalu sebenarnya ada 27 juta DPT siluman. Tapi saya stick pada angka 22.5 juta saja” sabda om Jaswar lagi di sidang MK.

Bambaaaaaang! Ini saksi lu sedang paparan audit forensic IT atau jualan mejik kom sik, kok bisa pakai diskon-diskonan segala?

Above all, lau lau udah tau kan kalau Situng bukan menjadi dasar KPU menentukan pemenang Pemilu?

Sudahlah. Pilpres ini masalah kecil, Agus. Pe-er besar bangsa kita adalah, merehabilitasi rusaknya daya literasi sebagian anak Bangsa gegara Pilpres. Itu!

Catatan:

Buat lau-lau yang sampai detik ini masih aja yakin racauan ngawur Jaswar Koto dapat membalik keadaan. Sini saya kasitau ya bro sis. Iya bisa aja sih, dengan syarat: Jaswar, Bambang dan BPN BISA membuktikan ada 22.5 juta pemilih #01 telah mencoblos #01 dengan berbekal DPT fiktif, dibuktikan SATU-SATU sampai terkumpul 22.5 juta orang.

Gimana guys? Mustahil ya?

YA EYALAH.

Makanya setop HALUSINASI dengan memperkuat daya NALAR dan LITERASI.

Sumber : Status Facebook Meilanie Buitenzorgy

Thursday, June 27, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: