Mer C Tidak Lagi Netralkah?

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Semula saya sangat salut dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada para relawan medis yang tergabung dalam MER-C. Mereka begitu gigih tak kenal takut masuk ke daerah konflik khususnya di Maluku dan bahkan di Timur Tengah untuk membantu korban konflik sosial dan perang tanpa kenal lelah. Bahkan mereka juga pernah berinisiatif membangun Rumah Sakit di Gaza Palestina. Luar biasa.

Apa dan siapakah MER-C ?
Medical Emergency Rescue Committee atau lebih kita sebagai MER-C adalah sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela dan mobilitas tinggi.

MER-C awalnya didirikan oleh sekumpulan alumni Universitas Indonesia (UI) di Jakarta pada 14 Agustus 1999, yang mempunyai tujuan untuk memberikan pelayanan medis bagi korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Pada mulanya MER-C didirikan untuk melakukan tindakan medis untuk membantu korban konflik di Maluku, Indonesia Timur. Kemudian pada perkembangannya MER-C juga aktif membantu tindakan medis korban perang di daerah Timur Tengah khususnya di jalur Gaza Palestina.

Namun ketika saya mendengar dengan seksama konferensi pers pimpinan MER-C terkait peristiwa kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta lalu, seketika simpati saya terhadap MER-C anjlok ke titik nadir. Mengapa ?

Karena MER-C dengan terang benderang mengatakan bahwa korban kerusuhan yang terdiri dari perusuh yang berniat meluluh lantakkan kota Jakarta sebagai korban kejahatan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Ini jelas "judgment" yang sama sekali tidak fair. Karena pada kenyataannya justru para perusuhlah yang memprovokasi pihak keamanan negara untuk bertindak tegas. Bagi saya apa yang telah dilakukan oleh aparat keamanan negara adalah tindakan mencegah agar aksi kerusuhan tidak meluas dan tidak semakin destruktif dan anarki.

MER-C telah menafikan suatu realita bahwa para perusuh itu bukan demonstrasi rakyat secara yang spontan. Tapi tindakan anarki oleh kelompok orang yang jelas-jelas dimobilisasi dan diorganisir oleh kelompok tertentu yang merasa tidak puas karena kalah secara konstitusional dalam kontestasi Pilpres 2019.

Bukti-bukti temuan dari pihak POLRI telah menunjukkan dengan jelas bahwa kerusuhan pada 22 - 23 Mei 2019 tersebut adalah suatu kegiatan yang terencana dengan tujuan anarkis dan destruktif. Sama sekali bukan bentuk unjuk rasa damai. Hal ini bisa dibuktikan dengan telah disiapkannya amunisi perang oleh otak kerusuhan. Bahkan ada indikasi kuat beberapa korban yang tewas akibat luka tembak dengan 'single bullet' dari samping yaitu peluru tajam yang jelas-jelas BUKAN berasal dari senjata anggota POLRI. Karena POLRI hanya dibekali dengan peluru karet.

Keterangan pers yang dilakukan MER-C dalam 3 bahasa yaitu Indonesia, Inggris dan Jerman seolah-olah dengan sengaja membuat dan menggiring opini publik dalam negeri maupun dunia internasional terhadap suatu peristiwa hanya berdasarkan asumsi dan keberpihakan semata. Bukan berdasarkan hasil investigasi yang berbasis data dan fakta yang sebenarnya. Menurut saya seharusnya akan lebih elegan kalau MER-C dengan obyektif menunggu hasil investigasi resmi dari pihak otoritas keamanan negara yaitu POLRI atau berdasarkan temuan dari Komnas HAM.

Dengan konferensi pers yang dilakukan oleh MER-C tersebut menurut saya MER-C telah menyimpang dari tujuan awal organisasi tersebut yang katanya akan menjunjung tinggi netralitas dan profesionalitas. Karena secara nyata MER-C terlihat telah menunjukkan keberpihakan pada kelompok tertentu dan sama sekali mengabaikan hasil temuan dari aparat kepolisian.

Penggiringan opini yang menyesatkan tersebut mengingatkan kita terhadap drama "White Helmet" di Suriah yang telah membuat konflik di wilayah tersebut menjadi berkepanjangan, semakin membara dan banyak memakan korban jiwa yang tidak terukur. Meskipun drama rekayasa yang paling menjijikkan tersebut akhirnya telah dapat terbongkar secara memalukan.

Apakah MER-C berencana berbuat serupa itu ? Saya tidak tahu. Mudah-mudahan tidak. Tapi apa yang dilakukan MER-C dengan membuat opini tanpa data dan terkesan memihak kelompok tertentu dan kemudian mempublikasikan ke dunia internasional tersebut membuat saya kecewa dan mempertanyakan obyektivitas dan tujuan yang ingin dicapai oleh pihak MER-C.

Quo Vadis MER-C ?

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Friday, May 31, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: