Menyongsong Asa

ilustrasi
Oleh : Karto Bugel
 
Kenapa makanan di hotel bintang 5, rumah makan dengan bintang Michelin atau restauran ternama selalu dibuat terlihat sempurna?
Enakkah?
Seharusnya enak. Bahkan sangat enak dan tak berlebihan bila itu dibilang sempurna. Tak mungkin hanya sekedar penampilan dan aroma mampu menggantikan keutamaan apa itu makanan. Citarasa.
Yang jelas, ada proses panjang, ada pola trial dan error hingga standar mutu prima untuk hidangan itu boleh tampil disana. Namun selalu tentang tujuan menjadi paling "enak" adalah apa target utamanya.
Kenapa dijamin pasti enak?
Tukang masaknya pasti ahli, dan tak kalah penting adalah bahan-bahannya. Selalu harus yang terbaik demi bentuk, warna hingga rasa yang nanti akan didapat.
"Bagaimana bila bahan-bahannya bukan yang terbaik? Bahkan bahan terburuk misalnya?"
Yang jelas, si koki akan pusing. Namun masakan akan tetap menjadi enak, seharusnya bisa dilakukannya. Sempurna? Hmm.., Itulah kenapa dia disebut koki. Bukan tukang ledeng.
Demikianlah Presiden RI. Selalu bahan baku berkualitas menjadi hambatannya. Siapapun dia, selalu bertemu masalah yang sama.
Memilih menteri, adalah tentang koalisi kita berbicara. Memilih Pangab atau Kapolri, harus dari jendral bintang 3 yang ada.
Bagaimana kualitas mereka yang akan menjadi menteri, Pangab, Kapolri dan hingga Jaksa Agung, kompromi adalah satu-satunya cara bisa didiskusikan. Presiden tak memiliki kuasa menentukan kualitas bahan.
"Normalkah?"
Bukan hanya di Indonesia, semua negara di dunia berjalan dengan cara seperti itu. Menjadi berbeda soal bahan yang disediakan. Negara dimana ketika hukum menjadi panglima tertinggi, tak sulit memilih bahan tersebut. Hampir semua yang disodorkan sebagai bahan, adalah mereka yang sudah teruji.
"Emang di Indonesia kenapa?"
Ingat seorang Ahok yang selalu sibuk berbicara tentang teori pembuktian terbalik?
Kita akan dihadapkan pada kondisi tak masuk akal tapi terjadi dan dianggap wajar.
Mereka melaporkan harta kekayaannya dalam LHKPN berjumlah Rp 20 milar tapi gaji bulanan yang ada sebagai pegawai adalah Rp 20 juta misalnya.
Rumus matematika paling sempurna pun tak mampu membuat hitungan itu menjadi wajar apalagi masuk akal.
Bukankah bila mereka berpenghasilan Rp 20 juta dan bila yang ditabung pun berjumlah Rp 15 juta, baru akan didapat angka Rp 9 miliar dan itupun butuh waktu 50 tahun? Siapa yang sudah bekerja selama 50 tahun dan namun pensiun pada usia 58 tahun?
Mungkinkah? Bukan hanya terjadi, bahkan selalu seperti itu dari tahun ke tahun dan dari masa ke masa.
Sempurnakah bahan seperti itu? Dan bahan dengan kualitas seperti itu akan digunakan untuk membuat negara menjadi maju?
Mungkin benar tidak semua harus berasal dari pegawai dimana lembaga itu akan dipimpin, tapi bukankah untuk institusi tertentu harus dari jenjang dimana institusi itu ada?
Maka berharap Jokowi akan ngebut, jelas itu adalah mimpi. Jokowi ingin dicintai semua pihak, ikut saja ritme yang sudah ada.
"Kenapa Jokowi sekarang sangat dibenci?"
Dia kelewat iseng pingin perfect. Dia merasa kesulitan dan marah karena tak ada bahan bagus dia dapat miliki. Dia melihat ada kebiasaan yang harus dirubah.
Dia menginginkan perubahan radikal pada pada birokrasi sehingga budaya korupsi terhapus dikemudian hari. Paling tidak, Presiden yang akan datang bisa memiliki bahan yang lebih bagus dibanding yang dia miliki saat ini.
Dia hanya ingin matematika sederhana yakni pegawai negara berpenghasilan Rp 20 juta dan namun bisa memiliki tabungan Rp 20 miliar itu tak pernah ada lagi. Kenapa? Karena memang tuyul tidak pernah ada.
Untuk sesaat, Jokowi akan berusaha memasak dengan bahan apa adanya. Bahwa ternyata dia mampu berbuat luar biasa selama 5 tahun pertamanya, itu karena dia tidak ingin menjadi Presiden yang biasa-biasa saja. Dia tak pernah berhenti untuk menjadi luar biasa.
Bahwa predikat luar biasanya ternyata membuat dia menjadi musuh semua orang, bukankah demikian seharusnya seorang revolusioner?
Ya, Jokowi seorang revolusioner seperti dulu Soekarno pernah menjadi, adalah bukti bahwa negeri ini tak pernah kekurangan orang baik. Selalu muncul ketika pertiwi membutuhkannya.
"Trus apa targetnya?"
Paling tidak, bila di tahun 2024 nanti pembuktian terbalik LHKPN seperti ide Ahok bisa dilaksanakan, calon Presiden berikutnya akan mendapatkan bahan-bahan terbaik.
Presiden berikutnya akan dengan mudah memasak apapun dengan hasil jauh lebih sempurna sehingga bintang Michelin bukan hal mustahil didapatkan.
Jokowi adalah cerita tentang siapa yang berani keluar dari pakem. Melawan arus dan kemapanan yang sudah sangat membudaya meski berakibat tak baik baginya hingga harus dijatuhkan, disana konsep tentang revolusioner pantas kita sematkan.
Menjemput harapan, mungkin itulah yang ingin dia ajarkan.
.
.
.
RAHAYU
Sumber : Status Facebook Karto Bugel
Wednesday, September 23, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: