Menyoal Masjid Dipakai Untuk Politik

Oleh : Aldi Bhumi

AKU SETUJU POLITIK D MESJID ASAL...

Tau penceramahnya dari partai mana. Masjidnya masjid partai apa. Harus d beritahukan dulu d awal k umatnya.

Kalau aku simpatisan PKS, tentu aku gak sudi ibadah d mesjid partai lain, apalagi mesjid partai banteng merah. Ada umat yg alergi sama mesjid mercy, ada jg umat yg ga suka partai unyu2.

Kan apes kalau simpatisan PKS dapet ceramah "kebenaran" menurut PDIP? Begitu juga sebaliknya.

Hargailah hak umat!!!

Masjid yg ingin terjun k politik WAJIB mewarnai masjidnya sesuai warna partainya. Setidaknya harus ada lambang partai d dinding masjid. Agar umat tdk merasa tertipu.

Kalau secara global umat Islam cuma terbagi 2, Sunni atau Syi'ah, secara lokal nanti setidaknya umat Islam terbagi 16. Sesuai banyaknya partai peserta pemilu selanjutnya.

1. Masjid PKB
2. Masjid Gerindra
3. Masjid Golkar
4. Masjid PDIP
5. Masjid Nasdem
6. Masjid Garuda
7. Masjid Berkarya
8. Masjid PKS
9. Masjid Perindo
10. Masjid PPP
11. Masjid PSI
12. Masjid PAN
13. Masjid Hanura
14. Masjid Demokrat
15. Masjid PBB
16. Masjid PKPI

Umat dapat d bai'at bila sudah mengetahui masjid partai apa yg d ikutinya. Dan umat hanya boleh beribadah d masjid sebuah partai bila sudah d bai'at.

Setelah itu baru penceramah bebas mendakwahkan "kebenaran" menurut versi dan pandangan politiknya masing2.

Tentunya, tergantung aliansi dalam pilkada, umat PDIP boleh ibadah d masjid PKS apabila sedang ada aliansi dalam pilkada antara PKS dan PDIP. Begitu pula partai lain.

Tidak akan ada umat yg merasa tertipu bila masjid menggunakan prinsip WYSIWYG (what you see is what you get).

Umat Islam sekitar 90% penduduk Indonesia. Tentunya masuk akal bila ceramah politik d masjid. Toh umat hanyalah suara dalam pemilu.

Ibadah umat ga penting. Yg penting pada foto apa pakunya mencoblos ketika d bilik suara.

Dulunya masjid menjadi pemersatu umat setiap habis pesta demokrasi yg memecah belah satu sama lain. Sekarang pemisahan itu harus terjadi d akar rumput, terjadi d rumah ibadah masing2.

Bersatu kita teguh?

Itu mah kuno.

Terpecah lagi ngetrend.

K depannya, pemisahan itu harus terjadi d level keluarga.

Bukan begitu om Gatot dan mbah Amien?

Our forefathers must be insane when they decide to reconcile with each other.

Ughhh... Ini satir, tapi aku mual sendiri nulisnya.

Para pendahulu kita sudah benar, dan larangan berpolitik d masjid adalah agar masjid tetap dapat menjadi faktor pemersatu umat.

Sesadis apapun tenun kebangsaan kita tercabik2, sejauh apapun kita terpisah satu sama lain,.. masjid tetap dapat menjadi perekat. D mana kita semua sama dan dapat bersatu kembali.

Mulai dari numpang pipis, sampai numpang sholat d masjid manapun, umat tdk perlu khawatir d tolak. Krn ibadah dalam masjid hanyalah padaNya, hanyalah karenaNya.

Om Gatot punya dua kategori bagi orang yang mewacanakan larangan berbicara politik dalam masjid.

"Satu, kalau dia umat muslim ia tidak tahu tentang agama. Kedua, kalau bukan umat muslim dia sok tahu tentang agama Islam," ujar Gatot di Masjid UGM, Jumat (4/5).

Om Gatot, bagiku ada tiga macam org Indonesia yg perbolehkan politik d masjid.

Satu, kalau dia org Indonesia, dia sok tahu soal Indonesia.

Kedua, dia politikus ambisius yg mencari jalan pintas dgn mengorbankan sila ketiga "Persatuan Indonesia" dalam mencapai tahta.

Ketiga, sebenarnya dia bukan org Indonesia.

#IniSatir

(kwek)

Sumber: Facebook Aldi Bhumi

Tuesday, May 8, 2018 - 16:15
Kategori Rubrik: