Menyikapi Terorisme Di Rutan Mako Brimob

Ilustrasi
Oleh : Ahmad Rahma Wardhana
 
Alhamdulillaah, tragedi di Mako Brimob sudah selesai. Ada evaluasi yg harus dilakukan, terutama di manajemen penjara beserta perangkat keamanannya. Pemerintah harus mengakui (serta memperbaikinya, tentu saja) bahwa sebagian pemicunya adl kedua hal tersebut.
 
Namun demikian, tidak berarti kita melegalkan kekerasan yg dilakukan oleh para teroris itu. Apalagi membela perilaku keji ini dg dalih apapun. Bahkan termasuk tuduhan pencitraan kubu politik yg sedang memegang amanah pemerintahan RI. Jika sampai ada yg menyampaikan hal tsb (tuduhan pencitraan), bagi sy, sungguh telah mati nuraninya. Sementara kepada anggota kepolisian yg gugur dlm tugas, semoga Allaah Ta'aala mengganjar kalian dg rahmat-Nya yg Maha-agung dan Menyeluruh.
 
Selain itu, sbg masyarakat bangsa dan negara, kita juga harus semakin sadar bahwa kejahatan atas nama Islam itu nyata keberadaannya.
 
Islam tak pernah mengajarkan kekejian, bahkan dlm keadaan perang sekali pun. Namun pembela dan pelaku atas tafsir selain itu benar-benar ada dan hidup berkembang di Indonesia kita tercinta.
 
Tidak semua yg kritis kepada pemerintah dan/atau bahkan anti-negara NKRI berafiliasi dg para pembajak Islam tsb, tapi realitasnya, para pembajak Islam alias teroris-teroris itu, memanfaatkan kedua kubu tsb dg narasi-narasi cantik nan (seolah-olah) mulia: Islam terzhalimi. Lebih jauh lagi, teroris-teroris tak berperasaan ini dg percaya diri menggunakan isu HAM dg berlebihan, sedemikian rupa sehingga, pemerintah dan negara adl pelanggar HAM terberat di dunia.
Begitu pula dg isu anti-Amerika Serikat (US). Benar bahwa sejarah terorisme modern berkaitan erat dg peran US pada masa perang dingin dg Uni Soviet yg meradikalkan sebagian kecil umat Islam atas nama perjuangan anti-Soviet. Benar pula, bahwa saat ini pengaruh US kpd semua pemerintah dan negara di seluruh penjuru dunia itu eksis.
 
Tapi sungguh sebuah kebodohan jika terorisme atas nama Islam di negeri kita digambarkan sebagai sebuah garis lurus perintah/koordinasi antara US, Indonesia, dan terorisme itu sendiri, dg mengabaikan faktor-faktor lain yg sangat kompleks dan rumit. Mengapa bodoh? Karena tidak mau berpikir menguraikan persoalan yg sesungguhnya dan memilih sebodoh-bodohnya sikap: memosisikan diri sbg korban kemudian menunjuk orang lain sbg pelaku, dg kata "pokoknya" sbg penekanan.
 
Sungguh sikap yg bertentangan dg ajaran al-Qur'an tentang anjuran utk berubah dg ikhtiarnya sendiri.
 
Maka mari bersama-sama, kita berusaha menjalankan Islam dg baik dan benar sembari terus memberikan kontribusi terbaik bg bangsa dan negara melalui kritik konstruktif yg solutif sbg bentuk nyata ikhtiar utk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.
 
Terakhir, sy ingin mengingatkan pentingnya sebuah institusi negara dlm kehidupan keagamaan dan spritualitas umat, pada konferensi internasional ulama thariqah sedunia bertemakan "Bela Negara: Konsep dan Urgensinya menurut Islam", di Pekalongan 2016 yg lalu.
 
Hasilnya ada sembilan poin penting. Empat di antaranya akan sy kutip sbg penutup tulisan ini:
 
Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.
 
Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.
 
Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.
 
Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.
 
Demikian, semoga bermanfaat.

Sumber : Status Facebook Ahmad Rahma Wardhana

 

Thursday, May 10, 2018 - 16:15
Kategori Rubrik: