Menyikapi Teks Anti Yahudi dalam Islam

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Salah satu teks yang memicu perdebatan dalam Islam adalah teks tentang wacana anti Yahudi yang tersurat dalam Al-Qur'an dan sejumlah Hadis. Oleh sejumlah kalangan “Islam tekstual”, radikal-konservatif, dan kaum Muslim "unyu-unyu", teks ini dijadikan sebagai landasan teologis untuk memusuhi Yahudi. Dengan kata lain, bagi mereka, "memusuhi Yahudi berarti dicintai Allah dan mencintai Yahudi berarti dilaknat Allah" (coba bandingkan dengan sejumlah “teks Kristen” yang “pro-Yahudi”).

Memang seperti ditulis para penulis awal biografi Nabi Muhammad seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, Al-Baladhuri, atau yang paling fenomenal Al-Tabari, Nabi Muhammad dan generasi Muslim awal pernah melakukan penyerangan terhadap orang-orang Yahudi dari Bani Qurayza di Madinah (dulu bernama Yastrib) yang menyebabkan ratusan warga Yahudi terbunuh. Oleh orientalis Heinrich Graetz, kasus Bani Qurayza ini dianggap sebagai “bukti otentik” bahwa Islam adalah agama yang mengsponsori praktek genocide—sebuah istilah yang diciptakan oleh Raphael Lemkin yang belakangan berarti “kejahatan terhadap kemanusiaan”—sekaligus merefleksikan Islam sebagai “sebuah agama yang secara inheren anti-Yahudi.”

Harus diakui memang Islam memiliki sisi “sejarah gelap” kekerasan terhadap umat Yahudi maupun Nasrani. Kekerasan terhadap bangsa Yahudi ini tidak hanya ditunjukkan dalam tragedi Bani Qurayza tadi tetapi juga dalam beberapa kasus lain, misalnya, pembunuhan terhadap sejumlah pentolan Arab-Yahudi (sebut saja Ibnu Abdul Huqaiq, Yusair, dan Ka’ab Bin Ashraf) serta pelarangan suku Yahudi dari Bani Nadir. Perang terhadap kaum Nasrani juga dilakukan oleh kaum Muslim sejak masa-masa awal kekhalifahan Islam.

Meski demikian perlu dicatat bahwa kekerasan bukan monopoli agama Islam saja. Hampir semua agama di jagat raya ini tidak ada yang bersih dari konflik dan kekerasan masa silam. Penting juga untuk dicatat bahwa tidak semua teks, wacana, dan sejarah keislaman itu dipenuhi dengan sikap anti-Yahudi (atau anti-Kristen). Banyak sekali teks, wacana, dan sejarah keislaman tadi yang berisi pesan-pesan positif-konstruktif terhadap umat non-Muslim, khususnya Yahudi dan Kristen. Banyak pula praktek dan kasus-kasus perjumpaan Islam-Kristen-Yahudi yang berlangsung secara toleran dan damai.

Sejarah memang memiliki banyak wajah dan tafsir. Sayangnya masih banyak para pemeluk agama (termasuk para sarjana dan tokoh agama) yang hanya bergairah mereproduksi “sisi gelap” agama ketimbang “sisi terang”-nya, bernafsu mengfatwakan kebencian dan intoleransi ketimbang kecintaan dan toleransi agama.

Pembacaan cukup simpatik atas kasus Bani Qurayza diatas dilakukan oleh Karen Armstrong (“Muhammad”) atau Norman Stillman (“The Jews of Arab Lands”). Kedua sarjana ini berargumen bahwa kasus kekerasan terhadap etnis Yahudi itu harus dibaca dan dipahami dalam konteks spesifik sejarah sosial-politik waktu itu bukan dalam konteks doktrinal. Artinya, perang Islam-Yahudi pada waktu itu lebih karena dorongan aliansi politik-ekonomi-kesukuan ketimbang perdebatan teologi.

Dengan kata lain, kasus konflik Muslim versus Yahudi itu bukan lantaran akidah dan iman mereka yang “sesat” (atau Judaisme sebagai “agama tapir” sehingga harus diperangi dan diislamkan) tetapi karena dilatari oleh kasus-kasus spesifik menyangkut politik-ekonomi (seperti “tribal partnership” atau “tax-free market”).

Jika memang Islam secara inheren (baik dari aspek teologi-keagamaan maupun sosial-politik) anti-Yahudi (tanpa kecuali), kenapa banyak dijumpai teks, praktek, dan sejarah keislaman yang ramah, toleran, dan damai dengan komunitas Yahudi? Harap dicatat: konflik kaum Muslim awal itu hanya dengan sejumlah kelompok / tokoh Yahudi tertentu saja bukan dengan semua umat Yahudi.

Karena itu jangan dijadikan “kasus spesifik” diatas sebagai alasan untuk “memerangi” umat Yahudi. Kalau, misalnya, saya mengkritik atau “berkonflik” dengan FPI atau HTI bukan berarti lantas saya secara inheren memusuhi atau berkonflik dengan umat Islam karena FPI atau HTI jelas bukan representasi kaum Muslim. Atau, misalnya lagi, kalau saya mengkritik Rizieq Shihab bukan berarti saya membenci semua ulama apalagi dia itu kan “komandan Satpol PP”, bukan ulama.

Setiap teks memang selalu ada konteks, setiap ayat selalu memiliki sejarah. Maka jika membaca teks tanpa melihat konteks dan membaca ayat tanpa meninjau sejarah seperti yang dilakukan oleh “kelompok tekstual” itu, yang terjadi adalah “kesalahpahaman permanen”. Nah, sekarang sudah paham kan? Mikir ya, dikiiittt aja…

Jabal Dhahran, Arab Saudi

 

(Sumber: Facebook Sumanto)

Tuesday, May 31, 2016 - 12:15
Kategori Rubrik: