Menyikapi Resto Babi Yang Ditutup Di Makassar

ilustrasi

Oleh : Otto Rajasa

Silakan Melaksanakan Keyakinanmu

Sebagian umat Islam menutup warung yg jualan menu daging babi untuk non muslim. Sebagian lainnya melarang orang beternak babi. Sebagian lainnya menghambat umat lain mendirikan tempat ibadah : gereja, pure, dll.

Ayat Al-Quran dan Hadis Sahih yg seolah berlawanan

Ayat yg menarik disimak untuk fenomena ini adalah QS Al Kaafiruun ayat 6 : Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Ayat ini jelas sekali memberi batas umat Islam agar tidak mengotak-atik ataupun mengganggu keyakinan agama lain. Orang yg menyembah Tuhan Yesus, Yahwe, Brahma, Visnu, Ahura Mazda, Thor, Odin, dll, seharusnya ya biarkan saja. Tentu saja saling menghargai harus ada. Umat lain juga harus membiarkan dan menghargai umat Islam menyembah Allah.

Implikasi agama seterusnya juga demikian. Jika umat lain meyakini bahwa mereka boleh makan babi, umat Islam tidak boleh melarangnya. Jika umat lain ingin mendirikan gereja, pura, vihara untuk menyembah Tuhan mereka umat Islam juga tidak boleh mengganggu. QS Al Kaafiruun ayat 1-5 menjelaskan dengan gamblang hal ini. Kalian menyembah Tuhan yg tidak aku sembah. Demikian juga aku menyembah Tuhan yg tidak kalian sembah. Jadi umat Islam yg melarang umat lain memelihara babi dan makan babi karena menurut Islam itu haram tentu tidak melaksanakan lakum diinukum waliyadiin (bagimu agamamu, bagiku agamaku) dengan baik. Lalu apa yg membuat sebagian umat Islam resek mengurusi umat lain?

Hadis Sahih Tentang Kemungkaran

Nabi bersabda dalam sahih Muslim : barangsiapa melihat kemungkaran maka ubahlah dg tangannya (diperangi, didorong, dibela, dll), apabila tidak mampu maka ubahlah dengan lisan (ini juga terkandung makna lewat tulisan) dan jika tidak mampu dengan tangan dan lisan maka ubahlah dengan hati (doa). Dan yg terakhir adalah selemah-lemahnya iman.

Definisi kemungkaran adalah ucapan dan perbuatan yg tidak diridai Allah. Karena Allah itu sebutan Tuhan umat Islam tentu kemungkaran yg dimaksud disini adalah yg mengenai umat Islam sendiri bukan umat lain.

Nah orang2 Islam yg resek terhadap umat lain itu tidak memahami ayat dan hadist ini dengan baik. Mereka melihat ternak babi dan warung babi yg dimakan non muslim itu sebagai kemungkaran. Padahal bagi non muslim babi itu halal (kecuali Yahudi dan Advent yg sama dengan umat Islam mengharamkan babi). Mereka melihat pendirian gereja, pure, vihara yg digunakan untuk beribadah umat lain itu sebagai kemungkaran. Ini kekeliruan yg fatal. Sangat tidak sesuai dengan QS Al Kaafiruun ayat 1 hingga 6. Seharusnya yg meyakini babi halal silakan pelihara babi jg makan babi. Umat yg menyembah Tuhan di gereja biarkanlah dengan tenang membangun gereja, dll.

Tetapi mereka berkilah melaksanakan hadis sahih tentang kemungkaran itu. Menurut urutan tata perundangan dalam Islam hukum tertinggi adalah ayat Al-Quran. Nomor dua adalah Al Hadist. Al Hadist adalah penjabaran hukum Alquran. Al Hadist tidak mungkin bertentangan dengan Alquran. Jika nampak bertentangan tentu pemahaman kita saja yg keliru. Dan wajib kembali ke hukum Alquran.

Jika umat Kristen beribadah di gereja tentu itu bukan kemungkaran, jadi tidak layak seorang muslim menghambat pendirian gereja.

Jika umat non muslim makan babi itu juga bukan kemungkaran yg harus dilawan.

Disebut kemungkaran jika umat Islam yg makan babi. Umat Islam beribadah di gereja menyembah Yesus. Juga kemungkaran umum lainnya : korupsi, mencuri, merampok, menganiaya, membunuh, memperkosa, dll. Jika ini terjadi wajib bagi seluruh umat Islam merubahnya dengan hati, lisan maupun tangan secara langsung. Agar kemungkaran itu tidak merusak lebih parah sendi kehidupan!

Jadi mari laksanakan QS Al Kaafiruun secara menyeluruh. Mari saling menghargai keyakinan masing2. Hapuskan segera SKB dua menteri karena itu berlawanan dengan Alquran. Mari hargai setiap warga negara Indonesia untuk melaksanakan keyakinan dan agamanya masing-masing.

Baldatun tayyibatun wa rabbun ghafuur!!!

Sumber : Status Facebook Otto Rajasa

Thursday, August 1, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: