Menyikapi Polemik Cadar Di UIN Jogja

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Budaya Arab yang patriarkis mempengaruhi banyak aturan yang mengatur sendi kehidupan. Saya kira ini relevansi pentingnya pemilahan yang historis dan normatif.

Misalnya, diabad 21 ini, setelah ada banyak perempuan hebat menjadi Presiden, Perdana Menteri, dan banyak perempuan yang memangku jabatan publik, masih ada agamwan yang berpandangan perempuan haram bisa bisa baca tulis. Katanya, jika perempuan bisa baca tulis orang tuanya berdosa. Saya pernah bertemu dengan ajengan yang berpandangan demikian.

Dalam film "12 Strong", keyakinan yang sama terkonfirmasi dikalangan islam radikal, teroria seperti Taliban. Mereka mempunyai keyakinan sama; wanita haram bisa baca tulis.

Film 13 Strong yang diangkat dari kisah nyata menceritakan 12 orang anggota khusus kesatuan Green Beret ditugaskan untuk melakukan misi berbahaya di Afghanistan setelah kejadian 9/11. Bersama Aliansi utara melumpuhkan pasukan Taliban dan sekutunya.

Dalam film ini, Taliban mengeksekusi suami istri yang mengajari anaknya baca tulis. Adegan ini menjadi titik tekan bahwa perang Amerika 3 dekade di Timur Tengah adalah untuk menghilangkan cengkraman islam radikal dibanyak negara Islam. Dan bukan penjajahan atau penguasaan.

Cadar, hemat saya, seperti 'fatwa haram belajar baca tulis bagi wanita', bagian dari streotif subordinasi perempuan dari laki-laki. Simpelnya, kenapa laki-laki yang "ngaceng", syahwat, berhasrat, tapi perempuan yang disuruh menutup muka. Namun demikian banyak wanita yang menganggap inilah ajaran Islam. Itu hak masing-masing individu untuk meyakini atau mengingkarinya.

Sayangnya, keyakinan ini tidak berdiri sendiri, kebanyakan cadar sepaket dengan gagasan islam puritan, pemurnian Islam yang menganggap kelompok lain belum Islam atau kurang Islam. Tengok saja keluarga teroris, baik pelaku maupun istri pelaku bercadar. Meskipun tentu saja tidak semua yang bercadar adalah teroris.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Tuesday, March 6, 2018 - 19:45
Kategori Rubrik: