Menyikapi Perbedaan Politik

Oleh: Wahyudi Akmaliah

 

Kalau ada orang yang punya perbedaan pilihan politik, baik itu dalam lingkup keluarga, teman, ataupun kolega, saya biasanya diam dan sesekali mengiyakan saja, khususnya dalam interaksi offline. Bukan tidak setuju/mengalah, apalagi untuk menghindari konflik. Ini karena saya tahu, menjelaskan dengan argumen akan sia-sia di tengah irisan fanatisme figur dengan tautan agama yang nyaris menguat. Sebelumnya, saya akan sikapi dengan penjelasan dan argumen juga untuk mengklarifikasi pelbagai hal sebagai pentuk pengetahuan.

Setahun belakangan ini kemudian hal itu menjadi media eksperimentasi saya dengan terus mengobservasi. Saya benar-benar menghindari perdebatan. Menyikapi perbedaan politik dengan cara ini yang kemudian menjadi tulisan ternyata jauh lebih berguna. Meskipun, saya tahu, dengan cara ini, orang juga sedikit membacanya. Setidaknya, saya sudah menyatakan sikap. Apalagi, pengalaman personal yang saya alami, ternyata dialami juga oleh banyak orang.

 

 

Karena itu, kalau teman-teman perhatikan, hampir kebanyakan tulisan-tulisan pendek saya, merupakan gugatan sekaligus advokasi personal mengenai ketidaksetujuan saya dengan mengamplikasi tulisan yang berdampak jauh lebih luas. Ada satu wawancara saya di media online yang menjadi viral. Dalam satu WAG, ada yang tahu bahwa itu saya. Saya tidak berkomentar apa-apa; tidak menyalahi ataupun mengiyakan. Saya sengaja membiarkan itu.

Bahkan, saat saya masuk dalam satu grup yang kebanyakan secara politik berbeda dengan saya, saya lebih banyak diam dan cenderung pasif. Sebaliknya, saya benar-benar menikmati pola dan struktur pembahasan dan bagaimana afiliasi serta ideologi politik seseorang cenderung ke arah mana. Di sini, saya secara tidak langsung sedang belajar semacam etnograpi online dengan menghimpun data dan energi, baik itu negatif dan positif sebanyak mungkin.

Bagi saya, pertarungan yang saya mainkan adalah dengan tulisan, minimal melalui artikel pendek. Dengan cara ini, kalau orang membaca artikel pendek, akan tahu, betapa perdebatan kusir di tengah tradisi oral merupakan kesia-siaan, kecuali, kalau orang itu benar-benar ingin bertanya dan mengklarifikasi atas satu isu. Dengan cara ini setidaknya, saya mengurangi suara berisik dengan menciptakan kegaduhan kembali kepada orang-orang yang terus berisik tersebut.

 

(Sumber: Facebook Wahyudi Akmaliah)

Thursday, June 28, 2018 - 16:00
Kategori Rubrik: