Menyikapi Khilaf Gus Muwaffiq

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Ketika saya sedang duduk bersama Habib Luthti, sering sekali ada jamaah yang meminta advice beliau mengundang penceramah, untuk masjid, musola, kampung ataupun isntansi, biasanya ada 2 atau 3 nama yang disebut, dan salah satunya Gus Muwafiq, maklum beliau tahun-tahun terakhir sedang hit-hitnya.

Beliau pasti merekomendasikan untuk mengundang Gus Muwafiq, salah satu pertimbangannya Gus Muwafiq soft dalam menyampaikan materi. Soft dalam arti tidak menyinggung pihak lain, dan halus dalam menyampaikan materi.

Seperti saya sebutkan ditulisan sebelumnya, ketidak setujuan saya hanya untuk mengingatkan diri sendiri dan kawan-kawan seusia yang kadar pahamnya seperti saya. Orang biasa. Kalau yang alim, yang pandai baca kitab, saya gak ngurusi. Jadi jauh dari maksud mengkritik, menggurui atau merasa lebih pinter dari beliau, tidak sama sekali.

Tapi menyebut umbelan, rembesan, dekil atau sejenisnya kepada Nabi itu ekstra ordinery, karena Nabi loh. Menyebut Nabi Ibrahim anak tukang patung juga extra ordinary. Saya sudah menyinggungnya sebelum ini. Gus Muwafiq sendiri sudah membuat pernyataan resmi. Jadi secara subtansi masalah ini sudah clear.

Masalah ini hemat saya, cara Gusti Allah mendidik kita, karena pada akhirnya sama-sama belajar lagi tentang Syama'il Rasul wa rusul, karakteristik Nabi saw dan para rasul. Jadi manfaatnya lebih banyak buat kita yang awam daripada buat Gus Muwafiq yang alim.

Jadi mohon maaf kalau fans berat beliau merasa tidak nyaman dengan dua postingan sebelumnya. Sesama warna hijau tidak mungkin dengki apalagi saling gebuki. Saya juga pengagum beliau. Kalau ketemu pasti saya minta wefi bareng beliau, cekrek, cekrek aplot di fb. Akur toh?

Sumber : Status facebook Ahmad Tsauri

Tuesday, December 3, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: