Menyikapi Kekejian Teror Selandia Baru

ilustrasi

Oleh : Vinanda febriani

"Aku benci kafir!," teriak lantang seorang anak seusai diberikan tontonan tentang insiden penembakan di sebuah Masjid di New Zealand.
"Pokoknya aku benci kafir, kafir pembunuh, kafir jahannam!," lanjutnya penuh semangat.
.
Lalu datang seorang dewasa menemui anak tersebut seraya bertanya keheranan, "Dek, ada apa kok berteriak-teriak kasar seperti itu?,". Lantas ia menjawab, "Aku benci kafir! Mereka telah membunuh saudara Muslim ku di New Zealand. Aku benci mereka semua. Kafir jahannam! Tunggu saja pembalasanku!".
.
"Kalau kamu benci kafir, buang saja bajumu. Buang sepatumu, tas mu, dan pergilah jauh dari rumahmu. Sebab ada banyak campur tangan orang-orang 'kafir' disana". 
.
"Maksudmu, kak?" 
.
"Bajumu itu, kau tahu? Apakah kau yakin bajumu adalah 100% produk orang muslim? Apakah kau yakin sepatu, tas dan rumahmu itu 100% produk orang muslim?,"
.
"Ya aku yakin! Aku membelinya di toko orang muslim, rumahku juga dibuat oleh tetanggaku orang-orang Muslim,"
.
"Baiklah kalau begitu. Lantas, apakah kau yakin bahan-bahan pembuatan atau prosesnya tidak melalui campur tangan orang yang kau sebut kafir itu?"
.
"Tidak ada!"
.
"Dek, dengarkan aku. Bajumu ini telah melalui beribu kali sentuhan tangan. Mulai dari penanaman pohon kapas, kapas dipetik, sampai jadi benang, sampai jadi kain, hingga jadilah baju seindah yang kau pakai itu. Tangan-tangan yang mengerjakan bajumu, tidak sepenuhnya tangan orang-orang muslim. Tidak hanya tangan, mesin-mesin yang digunakannya pula bukan sepenuhnya produk Muslim. Kalau kamu benci orang yang kau bilang kafir itu, buang saja bajumu dan barang-barang yang dibuat melalui sentuhan tangan orang-orang 'kafir'. Pakailah barang yang benar-benar dibuat oleh orang muslim tanpa campur tangan kafir,"
.
"Tapi kan, kak. Mereka telah membunuh saudara kita di luar sana,"

"Kita sangat mengecam tindakan itu. Tetapi yang perlu kamu pahami, tidak semua 'kafir' adalah penjahat. Anggap saja mereka yang jahat adalah oknum. Kamu juga harus paham bahwa ada lebih banyak orang 'kafir' yang berlaku baik kepada Muslim. Selebihnya kamu tahu, justru kitalah yang berbuat jahat kepadanya, karena di wilayah kita, negara kita, mereka berjumlah sedikit. Sering kali kita tak berbuat adil kepadanya. Sudahlah dek, kita tak usah membenci mereka. Selama mereka tak memusuhi dan tidak menentang kita. Toh di Indonesia ini, tidak ada istilah kafir atau muslim. Semua bersaudara dan saling gotong-royong membangun bangsa yang adil, makmur, aman dan damai. Kalau kamu memusuhi satu dari mereka, tandanya kamu belum siap dengan keberagaman yang ada di Indonesia," jelas orang dewasa itu panjang lebar.
.
Anak tersebut hanya terlihat mengangguk-angguk sambil berpikir.
.
"Pesanku untukmu, dek. Jangan pukul rata orang 'kafir' itu jahat. Kalau orang kafir jahat, kamu tidak akan pernah bisa menikmati hasil karyanya. Ya seperti bajumu itu. Jika mereka jahat, mereka tidak akan pernah membolehkan karyanya dipakai oleh kita. Namun karena mereka baik hati, maka kita boleh memakai produk-produknya. Berterima kasihlah kepada mereka dan manusiakanlah mereka. Jangan membenci, kebencianmu kepada suatu kaum hanya akan membawa malapetaka dan ketidak adilan. Sayangilah semua orang sebagai saudara. Soal nanti mereka baik atau tidak dengan kita, terserah mereka. Yang penting kita sudah memanusiakan mereka seutuhnya."
.
"Baik kak, aku paham. Kalau begitu, ku cabut perkataanku tadi. Aku menyayangi orang-orang kafir yang telah berbuat baik kepadaku".
.
"Nah, begitu kan enak dengarnya. Lebih enak lagi, kalau istilah kafir kamu ganti dengan 'non muslim'.
.
"Baiklah, kak. Aku menyayangi non muslim yang baik kepadaku dan saudara muslim ku"
.
"Anak cerdas. Sana mandi dulu. Salam untuk kedua orang tuamu,"

"Baik, kak"
Kemudian si anak masuk ke dalam rumahnya. Sementara itu, orang dewasa yang berbincang dengannya tadi berjalan menuju warung kopi untuk melaksanakan agenda rutinan Ngutang Kopi di warung tetangga.

Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani

Sunday, March 17, 2019 - 15:00
Kategori Rubrik: