Menyeret Pelajar Dalam Pusaran Politik

ilustrasi
Oleh : Sahir Nopi
 
Kini makin jelas bahwa anak-anak SMA dan SMK yang turun ikut demonstrasi emang dikoordinir. Sudah banyak video dan foto yang menunjukkan mereka berasal dari 1 sekolah atau yayasan yang sama. Bagi mereka ikut demo ya menyenangkan. Ngapain berada di kelas kalo makin tambah pusing. 
 
Pendidikan kita sudah murni sekolahan yang prosesnya lebih banyak memeras otak dibandingkan dengan lebih fokus eksplorasi pengetahuan atau minat anak. 
 
Kembali soal demo siswa sekolah  sebenarnya kalo konteks nya seperti 98 tidak ada problem. Mereka turun dan bergerak membantu orang tua yang kehilangan pekerjaan, terintimidasi karena kritis, ladang direbut militer, tidak bebas memilih dan lain sebagainya. Sekarang, apa yang mau dituntut? 
Media sudah bebas, militer sudah tidak lagi bisa asal nagkep orang, informasi mudah didapat bahkan ruang-ruang aspirasi terbuka lebar. Aspirasi bisa disalurkan kemana-mana. Bukan hanya ke institusi2 yang punya fungsi pengawasan, media massa, media sosial bahkan LSM tersebar seantero nusantara. 
 
Kita bahkan bisa ikut nemantau pembahasan RUU di DPR, bisa ajukan kajian untuk usulkan pasal atau penghapusan pasal bahkan menolak RUU yang masuk sebagai program legislasi. 
 
Nah, anak-anak itu rawan dipolitisasi, rawan diadudomba bahkan rawan dikorbankan. Jangan dikira demo tidak membahayakan apalagi sejak 2014 ketika capres hanya 2. Politisasi atas beragam masalah sangat terasa. Para kelompok kepentingan tidak bertarung dalam ranah terbuka dan fair. Mereka menyeret-nyeret semua masalah atas nama rakyat. 
 
Karena itu, hati-hatilah anak-anak sekolah kalo diajak demo
Thursday, September 26, 2019 - 12:45
Kategori Rubrik: