Menyerang, Kejengkang

Oleh: Iyyas Subiakto
Hadirnya Jokowi sebagai presiden penuh liku, serangan, dan ancaman.
Memang bisa dimaklumi karena banyak yg tak rela hadirnya orang baik ditengah kerusakan yg parah. Ya merekalah perusak berjilid itu sejatinya, para penyerangnya adalah orang yg tak ingin Indonesia jaya.
Di periode kedua kepemimpinannya membangun Indonesia yg sesungguhnya, justru begitu banyak halang rintang yg datang, bukan saja dari lawan politik tapi dari dalampun Jokowi di kerjai.
 
Di tengah pandemi yg menguras tenaga dan runtuhnya ekonomi dunia dan Indonesia, disanalah para penyerang melakukan aksinya. Berpura² bicara namun niatnya menjerumuskan, sampai ada yg terang²an memakzulkan, semua ditekuk bungkuk.
Lihat saja JK yg baru saja melepas jabatan wapres dia langsung ngegas mengganas. Bahkan ditengarai settingan Imam banci pulang dia ikut senang, kita tak mengatakan dia yg ngongkosi, tapi statementnya bisa dicurigai, bahwa kepulangan itu memang dibantu dalang.
Sayang mereka lupa Jokowi adalah pemegang kunci tempat wayang dipetikan. Sekarang terbukti sang wayang tidur telentang di lantai tahanan Bareskrim menunggu tuntutan beruntunnya, bohiernya mati akal dan terjungkal.
Begitu gilanya para penyerang yg akal manusianya seolah hilang. Musibah saja dijadikan ajang menyerang, liat statement anak mami si jenggot manis AHY yg komennya murahan ttg kecelakaan Sri Wijaya. Ditambah Andi Nurpati nanya Mensos kenapa gak ke Sulbar.
Andi Nurpati itu seujung kuku kelingkingnya Risma pun tak ada kalau soal kerja, tapi kalau bicara dan gaya Risma pasti kalah sama dia. Sebelum ini juragan gedenya juga bicara vaksin dan bla bla seperti biasa, dia masih lupa tumpukan kegagalannya saat jadi presiden seperti ikan sarden.
Kita out dari tumpukan sarden. Kita melongok ke dalam. Heboh si mbok Ribka yg bangga jd anak PKI bla bla kita gak ngurus.
Namanya Ribka Tjiptaning Proletariyati, menarik dan mungkin hanya ada 1 nama ini di Indonesia. Proletar adalah bahasa yg dipakai kaum komunis yg artinya kaum tertindas, kaum yg tak punya ruang tawar. Makanya komunisme punya cita² menjadikan manusia sama rasa, sama rata. Ini menyalahi kodrat manusia yg selalu ingin lebih dari yg lainnya. Dan Tuhan memang membuat manusia harus saling berlomba dalam kebaikan.
Dan Ribka yg mulia, tidak bisa membawa ruh namanya, dia begitu merendahkan lawan bicaranya, didepan forum di gedung sakral DPR dia mengumbar emosinya. Dia bukan proletar, tapi dia sudah menjadi bgt sangar, dia mau menaikkan harga tawar, karena sebelum ini ada Khabar nafsunya jadi Menkes ambiyar.
Dia merendahkan orang dgn profesi menteri dan segudang jabatan sukses sebelumnya. Budi Gunadi Sadikin, mantan Dirut Bank Mandiri, Dirut Inalum yg meng akuisisi Freeport. Ribka hanya wakil rakyat yg dipilih 42.000 suara dari daerah Jabar. Ngendon di Komisi IX membidangi Ketenaga Kerjaan dan Kesehatan. Sayang prilakunya kesetanan, sampai vaksin yg diusahakan menyelamatkan rakyat dia tolak.
Andai dia jujur bicara dgn dirinya, yg pernah bangga menjadi anak PKI, sebenarnya apa yg dia ban
ggakan ttg isu PKI. Apakah komunisnya, sifat pemberontakannya, atau apanya. Mungkin saja sikapnya memang output dari DNA yg sesungguhnya.
Arogansi kesewenang²an, mengatakan vaksin rongsokan, Jokowi tidak disuntik vaksin yg sama, adalah umpatan memalukan seorang sarjana S2, tapi akhlaknya seperti tak ada. Dia bicara tanpa bukti empirik, dan berani mengumpat tanpa dasar. Sampai dia bertanya Jokowi pembisiknya siapa, mungkin artinya kok milih Menkes yg bukan dokter seperti dirinya.
Dia lupa Jokowi adalah presiden terpilih karena prestasinya, bukan karena partainya, justru partailah yg harus berterima kasih karena ikut naik diangkat Jokowi. Dulu pernah Bu Mega menyebut Jokowi petugas partai, dan dalam acara rakornas dia datang sbg presiden tidak diberi waktu utk berpidato. Untung kemudian cepat siuman, kalau tidak bisa jadi partai siluman.
Jokowi itu terpilih dgn 85,6 jt suara, itu adalah karena pribadinya bukan rekayasa, padahal di periode kedua nyaris mesin partainya tak bekerja. Jadi kalau RTP merendahkan Jokowi, dia perlu kaca cermin berlapis untuk melihat dirinya secara utuh.
Prilaku buruk itu bukan saja mencoreng dirinya sebagai anggota DPR yg mulia, karenanya PDIP juga kena imbasnya. Walau Hasto membelanya, terlanjur rekaman mulut dan gestur arogannya beredar kemana-mana.
Kita tidak tau sikap Bu Mega, apakah PDIP takut kehilangan suara 42.000 dari RTP, atau proletar masih relevan dgn wong cilik, kita tak bisa merabanya. Tapi yg pasti seperti yg Harun Masiku, semua akan berlalu.
Tidak memastikan tapi dari yg sudah terjadi, penyerang Jokowi satu-satu dihabisi, dia diam dalam sunyi. Tapi seperti katanya.
SETIAP GERAKAN YG MENGARAH KEPADA PENGKHIANATAN KEPADA RAKYAT PASTI DIA HABISI. ITU JANJI JOKOWI, JADI JANGAN COBA MAIN API.
 
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)
Sunday, January 17, 2021 - 21:45
Kategori Rubrik: