Menyelidiki Kematian Covid 19 dan 100 Dokter

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

Sebenernya bukan menyelidiki juga sih. Gw sengaja bikin judul provoke

Tapi emang harus diselidiki kok. Harus ada investigasi.

Dasarnya adalah definisi angka kematian Covid 19 dan alat ukurnya. Catat baik-baik, angka kematian Covid 19 itu data mentah surveillance (semacam kegiatan penelitian) yang masih perlu divalidasi, diuji reliabilitasnya, diolah dan dianalisa.

Jangankan masyarakat awam, jurnalis aja belum tentu paham apa itu surveillance, apa itu data surveillance. Mereka belum tentu tahu cara membaca dan memperlakukan angka-angka itu.

Angka positif dan angka kematian Covid 19 dijadikan dasar untuk harus takut pada Covid 19, menyimpulkan virusnya berbahaya. Padahal, alat ukur untuk kejadian positif Covid 19 itu PCR tok. Yang penting positif aja uji swabnya, ga perlu lihat lain-lain, udah bisa masuk ke angka positif covid. Sesuai definisi operasionalnya.

Sedang untuk angka kematian, yang penting positif swab atau yang penting ada ARDS. Lalu dimakamkan secara covid, masuk angka kematian covid. Emang definisi operasionalnya begitu, ga salah kalau parameternya guideline surveillance covid19.

Padahal, tujuan surveillance ini adalah untuk mencegah penularan dan pengobatan penyakit Covid 19. Sampai-sampai harus melanggar privasi pasien, yaitu membuka data rekam medisnya. Tapi yang dibuka hanya hasil tes covid dan kejadian ARDS nya saja.

 

Melanggar privasi pasien, tapi demi menyelesaikan pandemi. Oke, itu bisa diterima. Tapi, kalau memang ingin betul-betul menyelidiki pandemi ini, dibutuhkan data lengkap dan detil.

Bagaimana kita bisa dapatkan gambaran yang tepat suatu penyakit pada pasien, jika hanya berpegangan hasil tes swab saja? Bagaimana cara mengendalikan variabel pengganggu serta mencari korelasi kondisi satu dengan lainnya?

Kalau mau buka data itu jangan setengah-setengah. Bisa menyesatkan. Daripada setengah-setengah, lebih baik tidak usah dibuka untuk umum.

Termasuk data 100 dokter meninggal itu, kalau mau fair, buka semua rekam medisnya. Beberkab perjalanan penyakitnya. Kapan dan dimana tertular, kondisi awal hingga meninggal, riwayat penyakit, hasil pencitraan organ.

Beberkan, semua atau tidak usah sama sekali.

Sumber : Status Facebook Nurul Indra

Friday, September 11, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: