Menyelamatkan Bangsa dari Zombie Berbaju Agama

Oleh: Denny Siregar

 
Ada satu masa, saya dan beberapa teman NU keliling bertemu dengan bos-bos perusahaan ternama di Jakarta..
 
Kami bukan meminta sumbangan, tetapi meminta mereka untuk membuka masjid2 dan mushala2 di perusahaan - baik itu di gedung maupun di pabrik - kepada ustad2 muda NU supaya bisa mengisi disana. Mengingat betapa bahayanya pemikiran radikalis yang sudah menyebar ke segala elemen termasuk di perusahaan swasta. Dan peran penting itu ada di Takmir. Dialah yang mengatur siapa yang boleh bicara di masjidnya..
 
 
 
Memang tidak mudah. Banyak dari mereka yang tidak memberi jawaban pasti. Rata-rata kami lihat memang karena mereka tidak begitu perduli.
 
Mungkin itu bukan urusan bos besar, tapi kami memang ingin membangun kepedulian mereka yang selama ini abai terhadap situasi. Padahal bisa saja, benih terorisme ada di tempat ibadah di perusahaan mereka..
 
Bukan rahasia lagi, bahwa tempat2 ibadah sudah banyak dikuasai kaum radikalis. Ceramah2 agama ketika shalat Jumat di masjid perusahaan, seringkali juga menyerang suku dan agama bos mereka sendiri. Kata-kata China dan Kafir seakan menjadi menu wajib tanpa mereka sadari bahwa mereka juga mencari makan di tempat orang yang mereka caci..
 
Dan yang bisa membaui keberadaan mereka hanyalah ustad2 muda NU, karena mereka punya ilmu agama yang mumpuni.
 
Tapi sayang, perjalanan keliling mengetuk pintu2 perusahaan itu tidak berjalan seperti yang diharapkan. Ada beberapa alasan. Alasan yang paling banyak kami temui adalah karena takut berurusan dengan kelompok2 berbaju agama itu. Urusannya dengan bisnis mereka yang tidak ingin terganggu hanya gara2 mencampuri masalah agama yang bukan ranah mereka..
 
Sama seperti stasiun2 televisi...
 
Meskipun mereka tahu bahwa banyak ustad2 yang bermasalah, tapi mereka tetap mengundangnya sebagai pengisi acara agama.
 
Ada dua alasan kenapa begitu. Pertama, karena produser acaranya adalah bagian dari kelompok radikal. Kedua, karena rating. Selama ini pendapatan televisi terjaga dengan ustad2 itu, tanpa perduli isi materinya. Selama orang suka, jual saja..
 
Perjalanan menyelamatkan negeri ini dari zombie2 berbaju agama memang tidak mudah. Orang dibelakang layarnya pintar, jaringannya kuat, solid dan militan, dan sudah sejak lama mereka mengisi acara di stasiun2 televisi.
 
Dana mereka juga kuat, sehingga bisa membeli slot2 acara untuk mereka isi dan perlahan mencuci otak pemirsa di rumah. Mereka juga begitu profesional dalam segi manajemen sehingga "dana perjuangan" bisa mereka dapat.
 
Meski begitu, saya yakin, suatu saat para pengusaha dan pemilik stasiun televisi akan menyadari bahayanya kelompok radikal itu. Tapi kesadaran itu biasanya terlambat, ketika ternyata kelompok ini yang mengendalikan situasi..
 
Seperti kanker, kelompok radikal ini sudah mencengkeram begitu dalam dan lama. Dan untuk memberantasnya harus bertahap, seperti kemoterapi. Juga membutuhkan waktu yg lama..
 
Tapi disanalah menariknya. Ada niat dan ada usaha. Karena sesungguhnya disitulah kewajiban manusia. Sebab HASIL itu adalah hak Tuhan semata.
 
Semoga negeri ini bisa terlindungi dari pemikiran2 radikal yang ingin merubah dasar negara ini.
 
Seruput ?
 
Denny Siregar
Monday, May 21, 2018 - 10:45
Kategori Rubrik: