Menyatukan Agama dan Komunisme

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Jika kita berpikir tentang menyatukan Agama dan Komunisme..., pasti jawabannya adalah....: Mustahil..., ibarat air dengan minyak..., tidak mungkin....!

Tapi tahukah kita..., bahwa ada tokoh yang memadukan agama dan jomunisme sebagai senjata perjuangan yang revolusioner.

Tokoh itu adalah Haji Misbach..., atau yang lebih dikenal dengan sebutan 'Haji Merah'.

"Komunisme mengajarkan untuk menentang kapitalisme..., itu tercakup di dalam Islam. Saya menerangkan hal itu sebagai (seorang) muslim dan komunis.”

Haji Misbach menuliskan kalimat itu..., dalam artikel yang tayang di surat kabar Soeara Moeslimin..., pada tahun 1926.

Artikel itu ditulis..., ketika Misbach sudah benar-benar terinternalisasi keyakinan pentingnya nilai-nilai pembebasan yang ia yakini..., paralel dengan prinsip-prinsip komunisme.

Namun sebelum sampai pada tahap itu..., kiprah Misbach dimulai sebagai pembela Islam yang gigih dan penuh gairah.

Mohammad Misbach..., atau Haji Misbach adalah tokoh unik dalam sejarah Indonesia.

Di samping menjunjung tinggi nilai-nilai Islam..., ia juga dikenal sebagai penganut setia komunisme.

Misbach sangat mengagumi kepribadian Nabi Muhammad..., sekaligus mengidolakan Karl Marx.

Soe Hok Gie dalam Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan (2005: 6)..., menjuluki Misbach sebagai Haji Revolusioner.

Misbach terlahir dengan nama Ahmad..., di Kauman..., Surakarta...., pada 1876.

Ia besar di lingkungan keluarga pedagang batik.

Sempat berganti nama menjadi Darmodiprono menjelang dewasa..., Ahmad dikenal sebagai Haji Mohammad Misbach..., setelah menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Ia pernah sukses meniti karier sebagai pedagang batik..., tapi pada akhirnya lebih sering menggumuli dunia jurnalistik dan intelektual di era pergerakan nasional itu.

Ketika Sarekat Islam (SI) dibentuk di Solo pada 1912..., Misbach menjadi sebagai salah satu anggotanya.

Misbach juga masuk sebagai anggota Muhammadiyah..., yang berdiri di tahun yang sama.

Nantinya..., SI dan Muhammadiyah justru dilawan habis-habisan oleh Misbach..., saat ia berada di kubu Sarekat Rakyat alias Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejak 1914..., ia aktif di Inlandsche Journalisten Bond (IJB) bersama Mas Marco Kartodikromo (Budiawan..., Mematahkan Pewarisan Ingatan, 2004:95).

Misbach juga menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin dan Islam Bergerak..., mendirikan sekolah-sekolah Islam..., dan menggagas ide pengembangan Islam yang sangat maju untuk ukuran jamannya.

Kendurnya perlawanan Tjokroaminoto dalam memperjuangkan kehormatan Islam..., membuat Misbach mulai merasa tidak cocok dengan Tjokroaminoto tersebut.

Misbach menyebut para tokoh di SI bukanlah muslim sejati.

Merekalah yang dimaksud Misbach dalam golongan Islam Lamisan..., kaum muslim terpelajar tapi rela menjadi penjilat demi menyelamatkan diri sendiri.

Menjelang era 1920-an itu..., SI memang sedang bergolak dan akhirnya terpecah menjadi dua sayap...: SI Putih pimpinan Tjokroaminoto..., serta SI Merah yang dimotori oleh Semaoen dan kawan-kawan.

Misbach dengan mantap menyeberang ke kubu merah..., yang segera beralih-rupa menjadi PKI.

Misbach..., adalah pembenci kapitalisme.

Maka..., ia menawarkan dua senjata untuk melawannya...: Islam dan komunisme.

Menurutnya..., dua kutub itu tidak selalu harus dipertentangkan..., bahkan bisa menjadi harmonisasi yang ideal.

Bersama komunisme..., kata Misbach..., Islam menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.

Dalam buku H.M. Misbach...: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya karya Nor Hiqmah (2000:36)...; Misbach mengakui bahwa pemikirannya sebagai seorang muslim semakin terbuka..., setelah ia mempelajari komunisme.

Tugas muslim sejati..., adalah berjuang menyelamatkan dunia dari kezaliman dan kekejian orang-orang munafik serta kaum kapitalis.

Islam mengajarkan umatnya untuk memberi jiwa dan kehidupan sosial..., kepada bangsa-bangsa yang terpecah-belah dan peradaban-peradaban yang mati.

Jadi..., Islam bukan akidah atau ritual semata..., tetapi juga cara hidup.

Begitu paparan Misbach.

Misbach menyerukan..., bahwa kaum muslim wajib memerangi kapitalisme..., imperialisme..., dan kemunafikan...; yang oleh Misbach dirupakan sebagai polisi..., pemerintah (kolonial dan Kasunanan)..., serta kaum Islam Lamisan.

Polisi adalah penindas..., pemerintah adalah pengisap..., serta muslim lamisan adalah pengkhianat yang munafik.

Untuk menjalankan misi itu..., orang Islam butuh senjata..., dan Misbach memilih komunisme.

Misbach sepakat dengan cara revolusioner..., untuk melawan ketidakadilan.

Ia juga menyetujui konsep sama rata sama rasa..., karena semua manusia itu sama derajatnya..., tanpa kelas..., dan yang mahatinggi hanyalah Tuhan.

Misbach sangat meneladani Nabi Muhammad..., tapi ia juga seorang pengagum Karl Marx.

“Beliau memperhatikan betul-betul akan nasib rakyat..., beliau tertarik sekali tentang ekonomi dan duduknya kaum miskin. Dari itu tuan Karl Marx dapat tahu dengan terang pokok atau sumber-sumber yang menyebabkan kekalutan dunia...,” kata Misbach soal Marx.

Bersenjatakan Islam dan komunisme..., kapitalisme harus dilawan...; karena mereka hanya bernafsu mencari keuntungan demi diri sendiri dengan menghalalkan segala cara.

Bagi Misbach..., Islam dan komunisme adalah solusi yang paling jitu.

Keduanya bersifat kerakyatan..., langsung membidik sasaran untuk kepentingan bersama

Akibat perlawanannya..., Misbach dibui.

Namun ia pantang jera..., dan terus menebar teror terhadap kaum penguasa...; baik pejabat kolonial maupun ningrat pribumi.

Ia pun dituduh sebagai aktor utama..., di balik berbagai aksi kerusuhan di Jawa.

Pada 20 Oktober 1923..., aparat kolonial menangkap Misbach dan memenjarakannya di Semarang.

Beberapa bulan berselang..., ia diberangkatkan menuju tanah pengasingan.

Misbach dibuang ke Manokwari..., Papua..., hingga wafat di sana karena terserang malaria pada 24 Mei 1926.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Friday, August 14, 2020 - 21:30
Kategori Rubrik: