Menyalahkan Korupsi

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Persoalan besar bangsa ini, berkata Ahok, adalah korupsi. Dulu, ketika masih normal, Kwik Kian Gie pernah ngendika, jika uang yang dikorupsi bisa kembali 30% saja, negeri ini akan membuat postur anggaran dan ekonomi nasional tumbuh kuat.

Wah, selama ini, untuk KPK dibentuk, 18 tahun? Apa hasilnya? Alih-alih memberi sumbangan, yang terjadi lembaga ad-hoc ini malah mbagusi. Sama dengan sarana-sarana demokrasi lain yang dilembagakan. Maunya jadi negara dalam negara. Apalagi dengan isu agama di dalamnya.

 

Hampir semua sarana yang dibangun manusia untuk ‘memayu hayuning bawana’, lama-lama berkesan sebagai siasat belaka. Partai politik yang untuk menyerap aspirasi publik dan pembedayaan masyarakat sipil, endingnya jadi kendaraan politik untuk korupsi. 

Sama persis dengan kasus yang dialami WSE (oleh media, apalagi televisi, jelas menunjuk pada Wahyu Sulaeman, komisioner KPU. Meski ini bukan satu-satunya dan pertama kali. Dulu ada Mulyana W. Kusumah, juga Anas Urbaningrum, dan lainnya lagi (meski ada beberapa yang selamat, terus kini jadi oposan yang sok kritis).

Hanya KPK yang ‘belum’. Entah belum terjadi atau belum konangan. MK, MA, DPR, Kementrian, sudah menyetor beberapa koruptor. Agama? Oh, ya, ini juga. Bahkan Kementrian Agama, menyetor Menteri Agamanya selaku koruptor, Suryadharma Ali. Partai politik yang nggak mau pakai azas Pancasila, tapi pakai azas Islam seperti PKS, pernah menyetor presidennya jadi koruptor pula. Juga yang jadi gubernur, anggota parlemen, dari partai dakwah ini, perilakunya sama saja dengan partai politik lain.

Maka, pada sisi itu, saya kok nggak percaya, korupsi sebagai masalah paling berat, paling serius, paling gawat, paling gede di negeri ini. Saya lebih meyakini bukan korupsi persoalannya. Tetapi masalah formalisme dalam dua hal: Pendidikan dan agama. Agama jadi masalah? Iya. Bahkan bisa jadi sumber masalah untuk beberapa alasan.

Formalisme agama, membuat Wahyu Sulaeman bisa santai, menghadapi pers. Meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Tapi adakah penyesalan atau rasa bersalah di sana? Atau setidaknya rasa malu? Sulit diterka. Banyak tersangka koruptor, dengan rompi oranye dk KPK, memberi pernyataan pers bisa dengan senyum. Bahkan ATF, perempuan kepercayaan WSE, senyam-senyum ke kamera TV. Ada sih yang malu seperti Romahurmuziy. Terpaksa pakai masker mulut, dan menyembunyikan kedua tangannya seolah memegang selembar kertas, padahal diborgol.

Jika pendidikan dan agama tak berhenti dalam formalitas, mestinya ia operasional. Karena agama, juga pendidikan, berkait dengan akhlak. Tak diutus dirinya ke dunia, begitu pengakuan salah satu nabi, selain daripada memperbaiki akhlak manusia di dunia. 

Kalau pendidikan dan akhlak manusia baik, maukah dia korupsi? Menyalahkan sistemnya? Tapi masalah terpenting lainnya, adalah penegakan hukum. Masalahnya, gimana kalau yang di situ juga para formalis dalam pendidikan dan agama? 

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Saturday, January 11, 2020 - 05:00
Kategori Rubrik: