Menyadari Terkena Covid 19

ilustrasi
Oleh : Teguh Arifiyadi
Dua hari pasca dinyatakan positif C19 dengan gejala demam, tidak bisa tidur, dan nangis semalaman hingga subuh, si bayi Langit akhirnya membaik sampai hari ini. Hari ketiga dia sudah mulai lari memutari rumah dan bermain, makan, seperti biasanya.
 
Sehari sebelumnya, istri saya juga demam tinggi, sesak ketika bernafas, sakit kepala, linu di sekujur tubuh, dan muntah-muntah. Ada kemungkinan terpapar virus yang sama. Di hari yang sama bayi Langit membaik, adik ipar saya yang sedang tinggal satu rumah, mengalami gejala yang sama dengan istri saya. Keesokan harinya, giliran anak kedua saya, Banyu Bumi (5 tahun), demam tinggi dan sakit kepala.
 
Istri saya membaik setelah 1 malam 2 hari demam, adik ipar saya membaik setelah 2 hari 2 malam demam, sementara Banyu Bumi hanya semalam saja demam dan besoknya sudah bisa beraktifitas normal lagi.
 
Bagaimana dengan saya?
Kemarin saya mendapat giliran, demam tinggi, sesak ketika bernafas, sakit kepala, linu di sekujur tubuh, dan berkurangnya sensitifitas penciuman. Seharian saya tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Alhamdulillah malamnya saya membaik. Pagi ini bisa beraktivitas normal lagi dan tinggal linu di sekujur tubuh yang belum hilang.
 
Saya dan istri memahami, risiko tertular C19 sangat tinggi jika tidak memisahkan si bayi positif dengan penghuni rumah. Tapi memisahkan bayi ASI dan orang tuanya jelas tidak menjadi solusi. Terlebih emaknya juga diduga terpapar dengan gejala. Jadi ketika kami demam bergantian (kemungkinan terpapar), ya kami berupaya jalani dengan tenang dan semangat. Tidak enak rasanya. Tapi meski kami tau ini belum usai, kami yakin kami bisa lewati dengan baik sampai beberapa minggu kedepan. Modal terbesar kami selain persiapan dan doa, adalah semangat!
 
Jauh sebelum kami tertular C19, bahkan sampai dengan H-1 sebelum kami semua tes swab PCR, saya dan istri sering membicarakan sekenario ketika salah satu atau kita semua terpapar C19, dan sekenario tersebut akhirnya kami terapkan ketika kami terjangkit.
 
Sebelumnya, kami sudah siapkan stok beras, gas, air galon, makanan beku, madu, tabung oksigen, dan lain-lain. Kami ingin siap ketika skenario buruk terjadi. Kami jadi paham pentingnya rencana dan alternatif rencana.
Kami juga termasuk beruntung, banyak sekali orang baik yang membantu kami, mulai dari tetangga, kawan lama, teman kantor, teman facebook, dll. Tak terhitung jumlahnya kiriman makanan dan kue, suplemen, mainan, buku, masker, dan lain-lain. Saldo gopay istri saya bahkan diisikan satu juta rupiah oleh para tetangga.
 
Oh iya, saya tak sungkan menanyakan kepada calon pengirim, barang apa yang akan dikirim. Ini dilakukan untuk menghindari stok berlebihan khususnya untuk makanan atau suplemen.
 
Terimakasih dari kami untuk kawan dan sedulur semua, baik yang sudah mengirim barang ataupun ikut mendoakan kami. Benar-benar jadi penyemangat.
 
Bagaimana dengan 'kehadiran' pihak Puskesmas?
Lima hari setelah orang tua kami dinyatakan positif, mereka baru hadir untuk swab kepada kami. Lima hari lho, bagaimana tracing bisa efektif? Kebayang jika kami tetap beraktifitas normal selama 5 hari sementara diantara kami ternyata ada yang positif.
 
Mereka datang ke rumah, tak menanyakan kabar apapun, langsung melakukan swab dan pergi begitu saja. Sudah hari ketiga sejak swab dilakukan terhadap saya, tak ada kabar soal hasilnya. Tak ada juga supply obat atau suplemen (meski sejujurnya kamipun memang tidak berharap itu dari mereka).
 
Kami melakukan test swab mandiri karena kesadaran kami untuk melakukan tracing, 1 hari pasca orang tua kami dinyatakan positif, kami melakukan swab PCR terhadap seluruh anggota keluarga besar kami. Total 15 orang dewasa dan anak yang diswab. Sudah bisa dikalkulasikan berapa dana yang harus disiapkan. Ini kami lakukan agar bisa memberi informasi ke orang-orang yang melakukan kontak erat dengan kami dengan segera guna memutus rantai penyebaran.
 
Jadi selain logistik, dana darurat keluarga juga harus kita siapkan untuk melakukan test swab PCR atau untuk kemungkinan yang lebih buruk lagi jika harus dirawat.
 
Suplemen/obat apa yang kami konsumsi?
Saya tak berani merekomendasikan apapun karena setiap suplemen/obat bisa memiliki reaksi yang berbeda-beda untuk setiap orang. Kami menerima kiriman berbagai macam vitamin, madu berbagai jenis (clover, urai, dll), ekstrak jinten hitam, ramuan dr Suradi, ramuan Jagad, Linhua, obat antivirus kimia, Spirulina, dll. Tentu tidak semua kami konsumsi. Kami memilih beberapa diantaranya.
 
Beruntungnya, sejak dulu kami adalah keluarga pecinta buah. Kami bisa menghabiskan banyak buah-buahan dalam sehari. Percaya atau tidak, belanja terbesar kami setiap minggu adalah buah-buahan. Dari situ kami mendapat asupan vitamin alami yang jelas lebih enak.
 
Bagaimana kami tertular C19?
Bagaimana awal kami tertular masih menjadi misteri. Saya dan adik ipar saya yang selalu keluar rumah berkali-kali test swab. Adik saya bahkan sudah 21 kali test PCR dengan hasil negatif sebelum akhirnya pada test yang ke-22 dinyatakan positif. Prokes sebisa mungkin kami ikuti. So? Selain ikhtiar patuhi prokes, bersiap dengan kehadiran si virus ini di tubuh kita akan lebih baik.
 
Dengan pengalaman ini, saya kok merasa yakin seyakin-yakinnya banyak sekali penderita covid yang tak sadar atau tak mau melakukan test di luaran sana. Coba tarif test PCR diturunkan menjadi 300 atau 400 ribuan (seperti di Turki misalnya), saya yakin banyak orang sukarela melakukan test mandiri meski hanya bergejala demam.
 
Ada joke yang bilang, "covid hanya penyakit orang-orang yang mampu saja". Ternyata ada benarnya juga. Artinya covid 'baru ada' ketika orang mampu membayar test swab PCR. Bagi yang bergejala tapi tidak mampu melakukan test mandiri, covid itu mungkin dianggap "tidak ada". Apalagi bagi yang tidak bergejala. Entahlah. Itu hanya joke, bukan fakta.
 
Terakhir, kalau boleh bersaran, selain patuhi prosedur kesehatan, buat rencana A, B, C, atau D jika kita atau anggota keluarga kita terpapar, pastikan logistik aman jika kita isolasi mandiri, dan siapkan dana cair untuk kebutuhan mendesak jika kita terpapar.
Sumber : Status Facebook Teguh Arifiyadi
Tuesday, January 12, 2021 - 10:00
Kategori Rubrik: