Menuruti Keinginan Nafsu

ilustrasi

Oleh : Vika Klaretha Dyahsasanti

Ketika anak saya masih berumur satu tahun, saya pernah dimarahi ayah saya habis-habisan karena mengajak Jepri berkeliling perumahan naik motor. Dengan tangan kiri memeluk Jepri, dan tangan kanan memegang stang motor. Bapak duka sekali. Saya pun membela diri, "Lha Jepri nangis minta ikut, aku nggak tega..."

"Keinginan bocah dituruti...." demikian kata Bapak dengan galak. "Sama anak kecil nggak perlu demokratis. Dia cuma punya keinginan, belum tahu itu berbahaya atau tidak. Baik atau buruk. Hanya keinginan..."

Bapak memang sedikit menurunkan emosinya setelah tahu saya terlihat takut sekali dengan kemarahan Beliau. Intinya Bapak berkata, anak kecil itu belum cukup pengetahuannya, belum cukup juga kematangan jiwanya. Jangan semua keinginannya diikuti, apalagi bila berbahaya. Paling-paling dia cuma akan menangis. Hanya menangis. Menangis tidak berbahaya.

Hampir dua puluh tahun berlalu. Peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini, baik di dunia maupun di sekitar saya, membuat saya teringat nasehat Bapak tersebut. Tapi kali ini bukan berkait dengan anak, melainkan dengan dua fenomena besar era post truth: demokrasi dan algoritma.

Demokrasi mengalami senjakala di era kini. Demokrasi yang lahir terutama agar setiap individu dapat menyuarakan pendapatnya, memperjuangkan haknya, menjadi konyol di era digital. Kita berhadapan dengan sekelompok orang yang (maaf) belum cukup dewasa untuk memilih. Bukan dewasa dalam arti usia tentu saja. Tetapi dewasa dalam pengertian kematangan pemikiran dan emosi.

Segera saja jargon-jargon seperti 'vox populi vox dei' menjadi konyol. Suara Tuhan yang bagaimana yang diwakili oleh rakyat yang bahkan tak paham sifat-sifat Ilahi. Bahwa dalam sifat Ilahi itu, ada kelemah lembutan, bukan caci maki. Ada kemanusiaan, dan bukan rasis. Ada kesetaraan dan bukan arogansi. Merangkul dan bukan mengeliminasi. Tapi coba lihat apa yang terjadi. Orang mengira Tuhan hadir dalam diri orang yang beteriak garang, meski materi teriakannya kesetanan dan didominasi bisikan setan.

Di banyak negara pada pemilu era post truth, yang menang pemilu adalah calon yang paling sektarian. Tokoh politik yang disukai dan dielu-elukan adalah yang mengumbar kebencian. Karena memang itulah yang disukai masyarakat, gambaran pikiran masyarakat umum. Pikiran yang lugu, naif, emosional dan berjarak dengan ilmu pengetahuan. Dan dunia bisnis memanfaatkan tokoh populer, pemikiran-pemikiran populer, gaya hidup yang populer, untuk meraih keuntungan setinggi-tingginya, tanpa menyisakan idealisme tentang masa depan bangsa. Semua berlomba untuk populer. Meningkatkan popularitas dengan mengumbar citra-citra populer, tak peduli itu palsu.

Algoritma juga sebelas dua belas dengan demokrasi. Algoritma bukan hanya membuat orang berlomba-lomba untuk populer, tetapi membuat masyarakat makin terpolarisasi, dan nyaris tak ada dialog antara dua kutub ini.

Algoritma membuat orang hanya melihat, mendengar dan membaca apa yang ia suka. Seperti gadget saya yang tak akan menampilkan kanal youtubers Atta Haleluyah, Kekepi, Ria Receh, karena tahu saya tak suka acara mereka. Namun sekali seseorang kagum pada Jennifer Siput dan rumah 40 kamar serta 70 pembantunya, ia pun akan ditawarkan video seleb tajir Nia Ra-madangi yang berkata manis di pinggir kolam renang rumah mewahnya, "Harta itu tak penting. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh materi.."

Lalu si seleb pun berputar-putar menunjukkan kamar-kamar di rumahnya yang sungguh mewah. Termasuk kamar tidur, kamar untuk bercinta, kamar untuk membersihkan diri setelah bercinta, kamar dengan sound dan lighting khusus agar mudah bikin video bercinta, serta kamar untuk menangis tersedu-sedu karena tak lagi diajak bercinta. Rumahnya memang berkamar banyak sekali.

Singkatnya, demokrasi dan algoritma membuat kebodohan menjadi panglima bila kita berada di wilayah dengan tingkat literasi rendah. Orang-orang yang belum pantas untuk diberi kesempatan 'one man one vote'.

Saya teringat Eropa dan kemakmurannya, membuat mereka bermurah hati membantu masuknya imigran dari negeri porak poranda. Mereka para korban negeri yang selalu berperang. Di sana mereka mendapat banyak fasilitas termasuk juga berobat gratis. Namun jangan dikira para imigran merana itu akan membalas budi. Tidak. Mereka justru menuntut ini itu pada negara barunya. Termasuk juga rajin beranak memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis, sedang warga asli Eropa sendiri berhati-hati untuk memiliki anak. Bayangkan 20 tahun lagi. Negeri itu tahu-tahu memiliki lebih banyak penduduk keturunan imigran daripada warga asli. Dengan ke'barbar'an mereka, bisa saya bayangkan saat mereka menjadi mayoritas dan mendadak jadi penguasa negeri karena memenangkan pemilu, kebijakan apa yang akan mereka ambil. Bisa jadi tak akan jauh dari teror dan kebencian.

Seperti kata Bapak tentang jangan meminta pendapat anak kecil yang tak mengerti, Demokrasi dan algoritma mensyaratkan, syarat utama, yaitu pandai. Melek literasi. Mampu menelaah apakah suatu informasi hoax dan bukan. Di sinilah peran pendidikan.

Lalu pendidikan yang bagaimana? Jangan tanya saya dong, saya bukan ahlinya. Dalam. obrolan dengan teman kemarin, ia menceritakan bahwa era milennial telah menjauhkan manusia dari kemanusiaan kita. Salah satu contoh tentu saja komunikasi. Kita memang kini mampu menghubungi siapa pun di belahan planet ini dengan cepat. Namun, kata teman, kita juga kehilangan banyak kemampuan komunikasi. Terutama berkenaan dengan bahasa tubuh, serta sikap-sikap yang baik serta kepekaan melihat situasi. Hal-hal yang tak terwakili oleh komunikasi gadget. Komunikasi tak langsung menghilangkan kehati-hatian juga. Orang kehilangan sensitivitas pada kata-kata yang berpotensi keributan. Katakanlah kita mengumpat, "Lont*.."

Dalam komunimasi langsung head to head, face to face, seseorang yang menghina Nyai sebagai lont* bisa diludahi, ditampar, atau ditendang kemaluannya sampai jatuh mengangkang dan menyibakkan benda super kecil di balik dasternya. Meski ada konsekuensi hukum dari tindakan emosi ini, tapi paling tidak si pengucap sudah babak belur duluan. Orang akan hati-hati berkata demikian.

Teman saya akhirnya berkata, "Mungkin pendidikan harus kembali mengajarkan 'lifeskills' dasar. Cara-cara survival bertahan hidup. Memasak, bercocok tanam, bela diri, bertukang.... sesuatu yang membuat manusia kembali menggunakan seluruh tubuh dan inderanya. Karena kemanusiaan dibangun dari kepekaan, yang didapat dari indera-indera yang aktif... "

Saya termangu-mangu mendengarkannya. Membenarkan apa yang ia katakan. Ditambah saya menganggap, di masa depan akan semakin banyak profesi yang terlibas zaman. Bukan karena salah Jokowi, tapi memang trend dunia seperti itu." Sehingga uang akan semakin sulit didapat," kata saya serius ala Ibu-ibu yang prihatin harga cabe naik.

"Maka dengan uang yang makin terbatas tadi, mereka yang hidup swasembada akan relatif bertahan. Karena overhead cost kecil. Dan swasembada, Kakak Wisik," tambah saya. "Bisa dimulai dengan lifeskills dasar itu. Menyediakan dan melakukan sendiri apa yang mampu dilakukan."

Teman saya mengangguk-angguk ceria. Bersulang mengangkat gelas mojitonya...

#vkd

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti

Thursday, November 19, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: