Menulis : Membuang "Sampah"

ilustrasi

Oleh : Eep Ivanovsky

Kalau kamu menulis bakal dapat apresiasi itu iya. Menulis (kadang) kamu juga bisa dapet fee itu mungkin. Atau dengan menulis kamu bakal dapat banyak ilmu juga merupakan suatu kepastian.
.
Tapi ada hal yang mungkin banyak tidak dipikirkan orang-orang dalam aktivitas menulis, yaitu membuang 'sampah'. Sampah dalam arti unek-unek, yang, kerapkali 'nyepam' di benak kita. Sampah yang kadang juga bisa jadi penyakit kalau terus didiamkan dalam pikiran.
.
Menulis itu membuang sampah. Mencurahkan masalah, tekanan, dan mungkin beban yang kita pikirkan dalam bentuk tulisan (meminjam istilah Alm. Hernowo) akan membuat pikiran kita jadi lebih plong, jernih, dan lebih enteng.
.

Wajar saja jika banyak tulisan (utamanya Novel) yang asyik untuk dinikmati. Membuat menangis untuk dibaca, dan kadang membuat tertawa. Seakan, itu menggambarkan kehidupan kita. Itu (kebanyakan) sebab penulisnya mencurahkan masalah-masalah hidup pribadinya dalam goresan pena. Tidak dibuat-buat. Murni. Mengalir apa adanya.
.
Menulis bisa menjadi salah satu alternatif untuk kita curhat, membuang unek-unek yang kadang membuat perih kehidupan. Menulis bisa menjadi salah satu jalan menghilangkan penyakit yang bermula timbul dari banyaknya memikirkan persoalan, termasuk persoalan mantan. Eh.
.
Sertifikat ini baru saja diberikan dari LP2M IAIN Pontianak, atas artikel saya yang ke-21 dengan judul "Meneguhkan Kesadaran Gender Mahasiswi: Potret Kajian Kitab Al-Mar'ah Bain Syarah wa Al-Haya di Yayasan Fahmina", Cirebon.

Sumber : Status Facebook Eep Ivanovsky

Tuesday, August 4, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: