Menuju Demam Biasa?

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Kelihatannya kita sudah memasuki kawasan pertumbuhan 500-600 kasus baru per hari. Masih kalah dengan Singapura yang berada di kawasan 700-900 kasus baru per hari.

Tapi, di sisi lain, fatality rate kita menurun secara gradual. Setelah sempat dua bulan berada di rerata 9.5% per hari, sekarang di rerata 6.5%i. Singapura berada di rerata 0.1an%.

Penurunan fatality rate di Indonesia berlangsung dalam deret ukur -0.1% per hari. Kalau itu konsisten, satu bulan lagi kita bakal berada di kawasan pertumbuhan 3an%. Bulan berikutnya di kawasan 0 komaan%.

Kenapa pertumbuhan kasus baru meningkat tiap pekan?

Dari perserakan datanya tersimpulkan bahwa daya tumbuh kasus baru bakal terus meningkat. Bulan depan, mungkin, kita sudah berada di kawasan pertumbuhan 2,000 kasus baru per hari.

Ya, tapi kenapa?

Karena arus data pelaporan dari daerah semakin lanncar. Semula butuh 5 hari untuk sampai di Jakarta, sekarang cuma 1-2 hari.

Kedua, jumlah pengetesan semakin banyak. Pastilah jumlah kasus baru semakin banyak. Beberapa daerah sudah melakukan tes mandiri.

Ketika, katakanlah, jumlah kasus baru mencapai 10,000 per hari, tidakkah kita perlu gemetar?

Selama fatality rate di bawah 1% maka Covid-19 sudah jadi demam biasa di Indonesia. Setiap tahun rerata kematian atas demam biasa di Indonesia berada di kisaran 0.6%. Setiap hari ada lebih dari 10,000 orang terserang demam. Indonesia paling ahli dalam mengatasi influenza. So, apa anehnya? Kenapa menakutkan?

Apa sih yang Anda lakukan kalau terserang demam?

Sebagian masih tetap bepergian atau berkantor. Sebagian masih berlatih paduan suara atau berjudi catur. Sebagian nonton Liga tarkam Indonesia. Gak ada yang takut bersalaman dengan orang yang sedang demam.

Sebagian masih ke panti pijat. Mbak di sana berbisik: "kok punyamu anget, Mas?"

Covid-19 sedang menuju ke sana. Apalagi kalau kalian tenang, girang setiap saat, diselaputi cinta, kita bisa hidup damai dengan Corona.

Saran saya kepada Presiden Joko Widodo, kalau fatality rate konsisten bergerak turun -0.1% per hari sampai Lebaran nanti, bukan cuma relaksasi: HAPUS PSBB per 2 Juni 2020.

Bego aja kalau kita masih terus nyatet berapa jumlah orang demam di Indonesia hari ini?

Ngapain nyatet gituan?

Yang perlu dicatet, berapa jumlah orang patah hati di Indonesia. Itu bahaya karena Didi Kempot sudah pergi. Emangnya Rhoma Irama sanggup mengangkat mereka agar selalu bersemangathidup meski baru ditalaktiga, diambyarno, dilepehin, diduain?

Rhoma cuma sanggup ngelarang Inul goyang ngebor. Kelasnya masih Stephen Tong, Gilbert Lumoindong, Jacob Nahuway dan gerombolan. Rhoma dan para badut tak berdaya mengatasi persoalan hidup sesungguhnya dan paling besar: Kehilangan harapan.

Itu kasta Nabi. Itu kelasnya Didi Kempot.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Friday, May 15, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: