Mentertawakan Perdebatan Di Medsos

ilustrasi

Oleh : Robbi Gandamana

Di medsos masih banyak orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk membenci orang lain. Tidak untuk memperkaya pikiran dan memperbaiki diri sendiri. Nggak tahan untuk tidak berdebat dan eker-ekeran ketika membaca postingan yang nggak disuka. Mbok wis dikomen "mantap ndes!".

Asline wong saiki iku sedang mengalami gila hormat massal, termasuk aku. Bikin postingan itu sebenarnya hanya ingin mendapat komen pujian atau minimal di-like. Ayo jujur saja. Gak popo, itulah manusia. Makane ojok overposting, biar nggak memperparah gila hormatmu. Gendeng koen engkok.

Orang yang suka eker-ekeran itu biasanya kurang hiburan. Pikirane burek, nggak fresh. Jidatnya panas terus, iso gawe nggoreng endok ceplok. Orang seperti itu perlu diajak piknik atau hiburan yang lain.

Hiburan itu banyak macamnya. Salah satunya adalah nonton film. Nggak harus ke bioskop. Film donlotan pun oke. Yang penting bisa terhibur, memanfaatkan waktu luang dengan bahagia dan murah.

Maka berbahagialah orang yang punya waktu luang.

Bener jarene Suyat, kemewahan yang sesungguhnya itu adalah waktu luang. Waktu luang untuk keluarga, waktu luang untuk menyalurkan hobi, waktu luang untuk pul kumpul dengan teman, dan yang paling penting --> punya waktu luang untuk menyiapkan disusul malaikat maut.

Orang sekarang ini saking takutnya miskin, kerja dobel-dobel sampai nggak punya waktu luang. Budal ngantor raine rembes, ganok seger-segere blas. Saking wedehi kere, melbu pegawai negeri direwangi nyogok. Wadoh, nang akhirat bakal ngelu ndase iku. Padahal kemiskinan yang sesungguhnya adalah takut miskin.

Alhamdulilah kalau akhirnya mereka jadi jutawan. Yang kasihan itu kalau sudah kerja dobel-dobel sampek ndelosor tetep nggak sukses. Pancet ae ganok perubahan. Sing berubah iku cuman raine sing dadi boros banget. Umur tigapuluhan sudah kayak umur enampuluhan. Mewek pol. Koyok bintang film kartun.

Kalau bisa bahagia (punya waktu luang) dengan kerja dobel-dobel itu nggak masalah, bagus. Tapi kalau memaksakan diri, mending sak madyo ae. Kerja keras itu oke, tapi kalau sampai nggak punya waktu luang itu apes. Neraka dunia. Hidupnya bingung, bingung numpuk duit. Ketika duitnya sudah numpuk, bingung mau dipakai apa. Akhire dibuwak nang sampah.

Banyak orang kaya yang bingung. Berlomba-lomba membangun rumah di dunia, sampai lupa membangun rumah di akhirat. Ngrenovasi rumah menghabiskan duit milyaran masih saja belum puas. Rasa tidak puasnya sampai dibawa mati. Di alam kubur masih kepikiran rumahnya.

­Makane gak usah minder nek urip pas-pasan. Jarene Prayit, urip iku nggolek bahagia. Banyak orang berburu kaya tapi malah nggak sempat bahagia atau nggak paham makna bahagia.

Banyak yang punya tabungan ratusan juta, tapi hatinya nggak tenang. Yang gajinya pas-pasan malah sumringah. Nonton film donlotan wis bahagia banget. Karena tidak semua orang diberi kemewahan seperti itu. Ada yang punya fasilitas mewah dan uang turah-turah tapi nggak sempat atau nggak punya hobi. Hobinya cuman bagaimana caranya menghasilkan uang yang banyak.

Ngomong soal film, nonton film iku wasyik (terutama sing donlot gratis). Apalagi kalau kita sudah merdeka, artinya sudah nggak terbatas oleh satu jenis film. Nggak cuman nonton film Amrik atau yang terkenal saja. Sudah nggak gengsi nonton film Korea, India, atau negara manapun selama film itu bagus dan menginspirasi.

Sadar atau nggak sadar kita punya sifat inferior (merasa rendah diri terlahir sebagai bangsa Asia). Dipikirnya film yang terbaik itu pasti dari Amrik (Hollywood). Dipikirnya kalau nonton film selain film Hollywood itu nggak cool, kacangan. You think you're cool, huh? You know what, you're just fucking kuper. Kuper iku boso inggrise opo rek.

Dulu aku juga begitu. Ketika direkomendasi film india, 3 Idiots (2009), aku tersenyum sinis. Saat kuputar di rumah, volume-nya kukecilkan. Sungkan kalau kedengaran tetangga. Apa kata dunia nanti. "Woeeee Ibor nonton film India!" Matane, ojok banter-banter cok.

Itu dulu. Ternyata film India nggak selalu lebay yang penuh dengan adegan joget kolosal orang sepasar. Kalau nggak mau ada adegan seperti itu nonton saja Neerja (2016), Lion (2016), Hotel Mumbai (2018), banyaklah, golekono dewe.

Dulu aku nonton film selain film Hollywood itu cuman selingan karena film-film terbaik Hollywood (versi Imdb) dari tahun 40an sampai sekarang sudah pernah aku tonton (dengan catatan, itu yang ada link donlotnya. Kere!).

Sekarang sudah enggak begitu. Asline film dari mana pun itu sama saja. Ada yang lebay, juga ada yang mbois. Film kita juga sebenarnya nggak kalah dengan Hollywood kalau soal akting. Kita hanya kalah budget.

Andai budget kita segede mereka, Indonesia bisa bikin film superhero yang dahsyat kayak Spiderman, Batman, Thor, dan kawan-kawan. Kita juga punya banyak superhero yang legend. Cuman superhero kita beda. Sebut saja Ponari, Mak Erot, dan banyak lagi.

Sekarang penggemar film dari Amrik malah banyak yang melirik film Indonesia setelah The Raid (2011) sukses di sana ---Film yang sebenarnya nggak Indonesia banget, bacokan tok---Setelah itu film-film sejenis yang dibintangi Iko Uwais selalu banjir pujian. Mereka menyebut film laga Indo yang berdarah-darah itu sebagai genre baru.

Penggemar film sejati harusnya nggak "rasis", yang hanya mau menonton film buatan Hollywood saja. Kalau ingin hidup lebih berwarna dan punya wawasan yang luas, jangan berhenti pada satu jenis atau genre film. Musik pun juga begitu, kalau sudah ngeklaim dirimu metalhead, jangan gengsi mendengarkan lagu dangdut. Sekoplo apa pun grup dangdut, kebanyakan gitarisnya mantan gitaris grup metal atau rock.

Ah embuh rek, ini cuman contoh tulisan Nggedabrus, jenis prosa baru Angkatan Milenial.

Sumber : Status Facebook Robbi Gandamana

Wednesday, December 2, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: