Menteri Yang Sederhana dan Pelayan Masyarakat

Oleh : Hilman Fajrian

Pagi ini saya satu pesawat dengan Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indarparawansa dari Balikpapan ke Tarakan di pesawat Garuda. Ia akan menghadiri sebuah acara di sana, dan saya juga akan menghadiri acara itu sebagai undangan. Saya lebih dulu naik ke pesawat dan duduk kursi barisan kedua. Tak ada tanda-tanda bahwa seorang pejabat sekelas menteri akan naik pesawat ini. Tak ada protokoler yang biasa mendahului pejabat. Tiba-tiba ia muncul saja ke dalam pesawat seperti penumpang biasa. Orang yang tidak mengenali wajahnya pasti tak tahu ia menteri. Khofifah cuma diiringi 2 orang yang saya duga sebagai sekretaris dan ajudannya (pasti pejabat negara punya 2 tenaga ini). Satu lagi tampaknya seorang Dirjen dari kementeriannya. Tak ada kehebohan ala protokoler yang biasa kita kenal. Awak kabin Garuda juga biasa saja. Khofifah masuk sambil senyum, dan penumpang lain cuek-cuek aja (mungkin gak tahu).

Dia duduk di barisan keempat, dua baris di belakang saya. Secara 'kasta kabin' dia lebih rendah dari saya, hahahaha. Namun itulah yang asing. Yang seperti ini tidak biasa terjadi dalam pola perilaku pejabat yang kita kenal. Setiap satu pesawat dengan gubernur, walikota, bupati, atau kapolda, minimal lima baris kursi paling depan habis oleh rombongan mereka saja. Rombongannya tak mungkin cuma 3 orang, bisa 10. Yang ikut tak cuma sekretaris atau ajudan, tapi juga pejabat dinas, istri, anak, humas, sampai cukong pengusaha. Mau naik pesawat pun over acting bukan main. Minta dilayani seperti raja.

Saya tak melihat ada gambaran raja atau bahkan pemimpin dalam perspektif feodal pada Khofifah. Yang saya lihat adalah seorang rakyat biasa yang kebetulan dipilih untuk melayani masyarakat lewat sebuah kementerian. Di pesawat ini dia bukan pemimpin saya, begitu juga di darat nanti. Ia adalah pelayan saya, pelayan masyarakat banyak, pelayan negara, untuk bersama-sama mencapai tujuan bangsa. Saya menghormatinya karena ia adalah pelayan yang baik.

Demikianlah semestinya kita memandang entitas dalam pemerintahan, birokrasi dan politik yang selama ini kita sebut 'pemimpin'. Bagi saya pemimpin cuma ada 2: ayah saya, dan imam sholat. Selain itu tidak. Selain itu adalah rekanan, mitra, kolaborator, bahkan pelayan, dimana saya dan mereka melakukan konsensus-konsensus untuk mencapai tujuan bersama. Bahkan di perusahaan. Instead, I am that 'leader'.

Kepada seluruh pejabat yang melayani rakyat secara baik, jujur, berintegritas, serta berperilaku terpuji, terima kasih untuk segala pelayanan baik anda.

Kepada seluruh pejabat yang merasa dirinya raja dan selalu ingin diperlakukan lebih tinggi dibanding para pembayar pajak yang menghidupi dan memberi mereka nafkah, ada satu tempat khusus bagi kalian di neraka.** (ak)

Sumber : Facebook Hilam Fajrian

Friday, May 13, 2016 - 12:00
Kategori Rubrik: