The Mentality Of PANJAK (Jongos, Kacung, Budak)

ilustrasi

Oleh : Lalu Agus Firad Wirawan

350 tahun lebih dijajah tentu telah banyak sekali menghilangkan rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa yang seharusnya berdaulat di tanah sendiri. Karena selama 3,5 abad bukanlah waktu yang sebentar untuk seseorang, apalagi segenerasi menjadi Panjak (bahasa Sasak yang artinya Jongos) pastilah orang akan menganggap nasib selalu di bawah itu sudah suratan takdir Illahiah!

Belum lagi pada era setelahnya, muncul lagi model penjajahan modern yang mengadopsi teori sosial baru yang dipoles ajaran agama, maka lengkaplah penguasaan suatu masyarakat lemah oleh mereka yang sejak awal sudah mewarisi kedigdayaan dari generasi orangtuanya.

Indonesia baru benar-benar bebas dari penjajahan sejak berakhirnya perang Kemerdekaan di penghujung 1949, dan kita baru mulai berdemokrasi pada pemilu 1955 yang sebenarnya cukup sukses.

Sayang, pasca peristiwa berdarah 1965, revolusi yang dicanangkan para founding father sebelumnya (Soekarno dan Hatta) harus memasuki masa "suram yang terang-benderang!" Saya menyebutnya demikian karena sedianya apa yang dilakukan rejim Suharto tak lebih baik dari diktator absolut ala Komunis yang bertopeng demokrasi terpimpin. 
Selama 32 tahun, pemerintahan Indonesia tak lebih dari sebuah junta militer yang mengaku sebagai Republik Demokratis. Dari Pemilu pura-pura hingga pembungkaman oposisi dan kebebasan berpendapat.

Tulisan ini tak hendak membahas detail perjalanan kehidupan demokrasi Indonesia yang terseok-seok selama 32 tahun itu. Saya lebih tertarik menulis tentang menguatnya mentalitas "bangsa jongos alias panjak" pada sebagian masyarakat Indonesia yang mungkin saja jumlahnya cukup besar sehingga mengakibatkan sulitnya bangsa ini menyeimbangkan akselerasi kemajuan ekonomi nya ditengah persaingan global melawan bangsa-bangsa yang secara waktu lebih telat merdeka dibanding kita.
Dan sebagai putra kelahiran Lombok, saya tentu akan memakai apa yang saya alami di lingkungan yang cukup "ndeso" ini sebagai variable terukurnya.

Mumpung juga, NTB adalah daerah yang paling lambat akselerasinya dalam perkembangan ekonomi maupun Indeks Prestasi Pembangunan (IPM) yang 'teramat betah' berada di posisi 30-an dari 34 provinsi sejak dulu kala! Pun saat jumlah provinsi Indonesia masih 27 saja, NTB cuma bisa mengungguli TimTim (sekarang Timor Leste) dan NTT.

Saat kecil dulu, selayaknya anak-anak keluarga miskin, saya dan teman-teman seumur waktu itu sangat terbiasa jadi "jongos" di keluarga-keluarga kaya di kampung kami. Saat itu, keluarga kaya biasanya dipimpin oleh orangtua yang bekerja di pemerintahan (Pejabat PNS), BUMN atau Kontraktor Proyek Pemerintah. Dari mulai mencuci pakaian, cuci piring bekas makan, atau sekedar menemani anak-anak para juragan itu. 

Saya beruntung, kecepatan membaca saya yang sudah terlatih baik sejak TK nol kecil, membuat saya punya rejeki lebih baik, jadi pembaca terjemahan text video VHS dari film-film Kungfu Hongkong yang trending saat itu. Bayarannya lebih tinggi 1,5 x daripada mencuci motor tetangga atau jadi babu pengupas kulit kacang di gudang boss Tionghwa kampung sebelah.

Ilmu juga bertambah tentunya, kemampuan membaca cepat saya semakin meningkat, istilah-istilah asing yang sering muncul di layar video itu banyak yang kini jadi kata-kata ilmiah setelah saya dewasa. Telik Sandi, Kontijensi, Spionase, Agen Rahasia, Intrik, Revolusi Genetika, Induksi Elektromagnetik dan sejenisnya ternyata masih sering saya pakai.
Beruntungnya saya pula ketika semua istilah dan banyak substansi film-film itu teramat berguna bagi kehidupan saya pasca "jaman kegelapan" itu.

Tak demikian halnya bagi banyak teman segenerasi saya, "pengabdian" mereka pada keluarga "wong gede" itu malah berlanjut hingga sekarang. Tak seperti saya yang mengalami berbagai tamparan transformasi budaya luar Lombok bahkan luar negeri, teman-teman saya hingga kini masih banyak yang justru mewariskan tradisi "manjak" atau "ngejongos" atau "ngawulo" pada para aristokrat sosial lama dengan label baru: Pejabat, Juragan, Cukong, Boss dan sejenisnya. Mereka masih percaya apa yang oleh orang tua miskin mereka dulu diajarkan sebagai "sudah suratan takdir kita jadi bawahan", sehingga apapun yang dilakukan oleh kaum yang sudah terlanjur mereka anggap sebagai "tuan" itu memang wajar dan harus diterima sebagai suratan takdir Illahi!

Jadi jangan heran kalau tanah-tanah nan elok di Pantai Kuta Lombok yang kini jadi lokasi The Mandalika Resort itu, yang harganya sampai miliaran rupiah per 100 meter perseginya itu, yang kini jadi incaran investor sedunia itu, dulu pada 80-an cuma dihargakan persis semangkuk bakso di perempatan kantor Gubernur NTB dekat rumah TGB !!!

Orang Lombok marah? Orang Lombok dendam? Orang Lombok berontak? On no! Tidak! Meski banyak juga darah mereka yang tumpah mempertahankan haknya diujung laras senapan dan sangkur tentara, sebagian besar orang Lombok toh memakluminya juga! Kata mereka "wajar lah, mereka (para perampas tanah rakyat itu) kan anak-anaknya datu/raja (Suharto maksudnya), kita ini kan orang kecil, kita bisa apa selain nerima?"
Apalagi yang jadi makelaar (perantara) pembebasan tanah itu adalah para tokoh setempat yang diberi kedudukan istimewa di pemerintah saat itu, maka komplit lah sudah "pengabdian" polos orang Sasak Lombok pada mereka yang selama ini memang dituankan turun-temurun!

Seperti halnya di banyak daerah ber-SDM rendah, komposisi birokrasi pemerintahan di Lombok sebagian besar diisi oleh lagi-lagi mereka yang sudah punya hubungan darah dengan tokoh pejabat dan penguasa setempat, dan itu semua tersusun melalui rekruitmen penuh nepotisme tarik-menarik dan jatah menjatah dengan ikatan kekerabatan trah! Hingga kinipun birokrasi di NTB masih diisi para keturunan bapak ini, tuan itu, haji ini dan haji itu. Pokoknya tak jauh-jauh dari trah Desa asal para pejabat/penguasa lama sejak pertama ada provinsi ini. 

Dan mereka yang tidak termasuk dalam keluarga atau trah orang-orang besar itu pastilah mereka yang beruntung jadi pejabat berkat pengabdian menjadi PANJAK pada keluarga pembesar tadi.

Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi adalah contoh pemimpin muda yang lahir dari kalangan "orang besar", tapi kehidupan masa kecil dan keluarganya samasekali jauh dari borjuisme dan hedonisme anak-anak pembesar NTB lain, saya pun mengalami masa-masa dimana dia dan saudara-saudaranya lebih suka bergaul dengan kami anak-anak kaum miskin Mataram ini. TGB juga tak sama sekali menunjukkan eksklusifisme nya sebagai cucu Tuan Guru (ulama) besar, karena dalam kesehariannya ia tetap saja bergaul dekat dengan teman-teman kecilnya yang sebagian besar beragama non-Muslim, Hindu, Kristen dan Budha. 

Maka seketika ia menjadi Gubernur NTB pada 2008 saya sangat berharap TGB bisa sedikitnya memantik percikaan awal api revolusi generasi muda NTB dengan ketokohannya yang cukup fenomenal itu. Tapi apa yang terjadi? 

Ternyata seorang sekelas TGB pun tak sanggup menggeser paradigma PANJAK yang begitu kuatnya diwariskan dari generasi ke generasi di NTB khususnya Lombok.
Terbukti, orang NTB lebih percaya fitnah bahwa Jokowi itu PKI, Jokowi mendzolimi ulama, Jokowi itu aseng, Jokowi itu kafir, Jokowi pembohong dan segala titel kesyaitonan lainnya, meski dalam setiap ceramahnya yang beredar viral di sosial media maupun televisi TGB tak henti-henti membantah fitnah itu!

Tiga kali sudah NTB ganti Gubernur di jaman reformasi ini, Harun Al-Rasyid, Lalu Serinata dan TGB yang sedianya sama sekali tak terkait dengan dosa-dosa masa lalu rejim Orba di Bumi Gora ini. Pak Lalu Serinata bahkan adalah salah satu korban penggusuran putra daerah yang dilakukan rejim Orba saat itu. Tapi mereka semua tak sedikitpun mampu membuka mata hati rakyat NTB tentang siapa yang sesungguhnya menanam benih dosa dan menumpahkan darah rakyat NTB sekeji peristiwa perampasan tanah Lombok Selatan, kerusuhan bernuansa SARA di Sumbawa pada 80an, pemberangusan tokoh adat masyarakat Bima, dan kasus Buku Kuning yang membenamkan para tokoh Sasak Lombok!

Orang NTB khususnya Lombok tetap saja lebih latah meniru teriakan seorang begal motor yang ditangkap Polisi menjelang pilpres lalu; "Pokoknya Sundhel Jokowi!!!"
Tanpa pernah menyadari bahwa si kerempeng kurus kering berwajah tukang bakso katrok nan ndeso yang mereka caci maki dan sumpah serapah itu, sejatinya adalah jelata yang lahir, tumbuh, berkembang dan berjuang dari lingkungan yang sama tak beruntungnya dengan mereka!
Mereka tak pernah diberitahu dengan gamblang bahwa adalah si planga-plongo itulah yang sesungguhnya kini berjuang keras untuk membebaskan seluruh rakyat Indonesia wabil khusus orang Lombok dari pembodohan PANJAK-MEMANJAK dan Ketidakadilan bagi seluruh rakyat Indonesia!

Ditulis di Lombok Utara pada 10 06 2019
Sambil mendengarkan lagu Sasak 
Inaq Tegining Amaq Teganang

Sumber : Status Facebook Lalu Agus Firad Wirawan

Thursday, June 13, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: