Mentalitas Para Penghina Gibran Rakabu

Dulu, saya punya pengalaman pribadi ditolak secara halus oleh bapak (eks) pacar saya. Beliau mengatakan “mas Damar nda nyari kerja yang berpenghasilan tetap saja, bisnisnya utk sampingan?”

Saya terus terang emosi, maklum anak muda. Saya jawab, “kan saya punya bisnis pak, prinsip saya tetap berpenghasilan pak, bukan berpenghasilan tetap”. Dengan suara pelan tapi jengkel. Lusanya, saya diputusin. Saat itu saya punya usaha jualan voucher pulsa dan hape seken plus aksesoris di Taman Kencana, Bogor. Yang memang agak jauuh dari apa yang saya pelajari di kampus

Tapi peristiwa itu membangkitkan semangat saya. Saya tidak jatuh. Saya dan mitra bekerja sangat keras, berinovasi membuka pasar di salah satu lingkungan elit Bogor itu. Tidur selalu di atas jam 1 pagi. Toko buka jam 06.45, tutup jam 22.30. Setelah itu kami stock opname dan miting membahas kinerja hari itu.

Lalu pelan tapi pasti kami mempekerjakan beberapa karyawan karena transaksi makin rame. Sampe 2007 akhir atau setelah 2 tahun kami telah mengembangkan cabang di 7 tempat. Bogor maupun Jakarta. Transaksi pulsa di 6 lokasi di Bogor membuat kami adalah pemain nomor 2 terbesar se-Bogor Raya sepanjang 2008-2009. Lalu adalah sejarah untuk diceritakan kepada anak cucu kelak

Konsisten membuka dan menutup toko di jam yang sama dan panjang adalah salah satu kunci. Dan itu ga gampang 

Saya pernah kembali bersilaturahmi kepada si bapak itu. Bertemu tak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan, saya menjabat tangannya dan salim. Mengucapkan terima kasih telah menjadi jalan Tuhan bagi saya. Tak ada sisa sedikitpun kemarahan saya baginya.

Ucapan bapak itu ga akan pernah saya lupakan sampai saya melangkah sejauh ini. Sebagai pemotivasi dan pendorong semangat.

**

Saya mau bilang kepada teman2 pengusaha muda. Teruslah melaju walo kritik dan pandangan remeh sekitar menghantuimu. Tak ada satupun jenis usaha yang hina, selama engkau bekerja keras dan memotivasi diri untuk membuka pintu rejeki orang lain. Indonesia butuh banyak sekali wirausahawan baru.

JANGAN BANYAK KEPIKIRAN UCAPAN MERENDAHKAN DARI ORANG LAIN. MAJU TERUS.

Tak semuanya akan menjadi besar atau besar sekali. Tapi kita pastikan, kita adalah generasi baru yang berbeda. Kita generasi yang anti korupsi dan menghargai proses. Kita generasi yang sanggup membuat perubahan untuk bangsa. Dengan rejeki yang halal dan toyib.

Oh iya, itu contoh yang nomor satu adalah saya. Saat kuliah dulu menanggapi dibukanya outlet J** oleh seorang pengusaha salon 

Semangat mas Gibran! Semangat teman2 muda!

Semoga Tuhan memberkati sumpah dan janji kita

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *