Mentalitas Para Penghina Gibran Rakabu

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Oke. Mari segarkan malam jelang hari Senin yang HARUS selalu penuh berkah 

**

1. Oh, kalo cuman jualan donat kayak J** mah gampang, gue bisa bikin lebih enak. Aku kan belajar ilmu dan teknologinya.

2. Halah, cuman jualan voucher pulsa aja apa susahnya. Sewa ruko, 3 lokasi sekaligus, nyari orang beres. Tinggal ditungguin, orang dateng. Tapi apa bisa loe nikahin anak gue?

3. Jualan martabak? Ga bergengsi banget. Itu anak lulusan SD jg bisa.

4. Mbuka angkringan mah gampang. Tinggal gelar tiker.

5. Bikin aplikasi ojek online? Ah gue bisa bikin yang lebih canggih. Remeh itu.

6. Jualan sembako? Kayak ngga ada jenis bisnis lain aja. Gampang itu.

7. Ah kalo cuman njalanin mesin fotokopi doang gampang.

8. Jualan batik tulis? Halah tinggal order terus dipajang. Beres.

**

(Ini terinspirasi oleh mas Gibran. Yang tempo hari diremehkan oleh beberapa akun media sosial karena "hanya" jualan martabak)

Oke. Begitulah sebagian kecil (mudah2an ga mayoritas) masyarakat melihat dan berpola pikir terhadap jenis bisnis UMKM zaman dulu. Mungkin saat ini sedikit berbeda.

Mereka tidak tahu bagaimana para wirausahawan itu melewati malam. Bagaimana mereka bertahan dari gempuran pungli atau oknum yang kejam meminta uang kerja mereka sehari semalam. Bagaimana mereka harus merugi saat harga bahan baku melonjak tak terkendali dipermainkan segelintir durjana.

UMKM lah salah satu komponen penyelamat bagi ekonomi Indonesia saat krismon 1998.

Iya, Gibran, saya atau teman2 UMKM lain merintis usaha dari bawah. Sebagian anak pengusaha tapi tak mau mengekor bapaknya. Sebagian lagi sarjana, yang merasa bahwa mereka ingin mengubah lingkungan dengan membuka lapangan kerja. Sebagian lagi adalah mereka yang tak punya ijazah tinggi dan tak punya pilihan karena tak mampu terserap lowongan kerja

Yang tak sanggup kau tiru wahai para pengecil hati, kerja keras terus menerus. Mengelola tingkat stres tinggi saat krismon dan harus memikirkan karyawan. Juga saat harus tetap tegar saat bisnis sedang turun, lalu harus bangkit karena anak butuh beli susu atau buku sekolah. Atau karyawan dibajak oleh pemodal besar setelah susah payah dibina.

Iya, semua contoh di atas adalah bisnis yang relatif mudah dimasuki semua orang. Tapi tidak semua bisa berlanjut. Hanya mereka yang bertekad dan berkemauan kuat plus tahan banting lah yang terus melaju. Dari data, hanya 30% yang terus melaju melewati tahun kelima.

Gibran, yang menolak proyek2 pemkot Solo, sekarang adalah "5 besar" penyedia katering di Solo Raya. Perlu kita tahu, proyek penyediaan makan di tiap pemda itu sangat menggiurkan. Apa Gibran langsung besar? Tidak. Bebannya sangat berat. Jika melangkah cepat, orang berpikir "ah nama bapaknya sebagai walikota pasti membantu". Jika bisnisnya tidak sukses, "ah anak walikota yang pengusaha ga punya kemampuan, goblok". Serba salah.

Dulu, saya punya pengalaman pribadi ditolak secara halus oleh bapak (eks) pacar saya. Beliau mengatakan "mas Damar nda nyari kerja yang berpenghasilan tetap saja, bisnisnya utk sampingan?"

Saya terus terang emosi, maklum anak muda. Saya jawab, "kan saya punya bisnis pak, prinsip saya tetap berpenghasilan pak, bukan berpenghasilan tetap". Dengan suara pelan tapi jengkel. Lusanya, saya diputusin. Saat itu saya punya usaha jualan voucher pulsa dan hape seken plus aksesoris di Taman Kencana, Bogor. Yang memang agak jauuh dari apa yang saya pelajari di kampus

Tapi peristiwa itu membangkitkan semangat saya. Saya tidak jatuh. Saya dan mitra bekerja sangat keras, berinovasi membuka pasar di salah satu lingkungan elit Bogor itu. Tidur selalu di atas jam 1 pagi. Toko buka jam 06.45, tutup jam 22.30. Setelah itu kami stock opname dan miting membahas kinerja hari itu.

Lalu pelan tapi pasti kami mempekerjakan beberapa karyawan karena transaksi makin rame. Sampe 2007 akhir atau setelah 2 tahun kami telah mengembangkan cabang di 7 tempat. Bogor maupun Jakarta. Transaksi pulsa di 6 lokasi di Bogor membuat kami adalah pemain nomor 2 terbesar se-Bogor Raya sepanjang 2008-2009. Lalu adalah sejarah untuk diceritakan kepada anak cucu kelak

Konsisten membuka dan menutup toko di jam yang sama dan panjang adalah salah satu kunci. Dan itu ga gampang 

Saya pernah kembali bersilaturahmi kepada si bapak itu. Bertemu tak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan, saya menjabat tangannya dan salim. Mengucapkan terima kasih telah menjadi jalan Tuhan bagi saya. Tak ada sisa sedikitpun kemarahan saya baginya.

Ucapan bapak itu ga akan pernah saya lupakan sampai saya melangkah sejauh ini. Sebagai pemotivasi dan pendorong semangat.

**

Saya mau bilang kepada teman2 pengusaha muda. Teruslah melaju walo kritik dan pandangan remeh sekitar menghantuimu. Tak ada satupun jenis usaha yang hina, selama engkau bekerja keras dan memotivasi diri untuk membuka pintu rejeki orang lain. Indonesia butuh banyak sekali wirausahawan baru.

JANGAN BANYAK KEPIKIRAN UCAPAN MERENDAHKAN DARI ORANG LAIN. MAJU TERUS.

Tak semuanya akan menjadi besar atau besar sekali. Tapi kita pastikan, kita adalah generasi baru yang berbeda. Kita generasi yang anti korupsi dan menghargai proses. Kita generasi yang sanggup membuat perubahan untuk bangsa. Dengan rejeki yang halal dan toyib.

Oh iya, itu contoh yang nomor satu adalah saya. Saat kuliah dulu menanggapi dibukanya outlet J** oleh seorang pengusaha salon 

Semangat mas Gibran! Semangat teman2 muda!

Semoga Tuhan memberkati sumpah dan janji kita

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Monday, February 26, 2018 - 22:45
Kategori Rubrik: