Mensyukuri Natal

Ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Mulai malam ini, saudara-saudara kita yang beragama Kristen akan memulai perayaan Misa jelang natal. Mereka pasti berbahagia dan karena itu tidak akan melewatkan begitu saja momen sakral yang hanya dijumpai satu tahun sekali ini. Sebagaimana yang kita lihat dari pemberitaan di televisi, jemaah umat Kristen mulai mendatangi gereja beramai-ramai.

Hari Natal ini mungkin setara dengan Hari Raya Idul Fitri bagi umat Islam. Sebelum beridul Fitri kita menyambutnya dengan mengucap takbir. Saya juga ikut berbahagia dan mensyukuri ketika saudara-saudara kita umat Kristen masih bisa merayakan Natal dengan aman dan khusyuk. Meskipun aparat kepolisian, TNI dan tak ketinggalan Banser-GP Ansor harus selalu siap siaga menjaga keamanan.

Mensyukuri Natal adalah mensyukuri nikmat Allah, mensyukuri anugerah keberagaman, mensyukuri keislaman yang didasari dengan perspektif Indonesia dan Nusantara. Menjadi Muslim yang bisa hidup damai tanpa curiga dengan siapapun. Menjadi Muslim yang punya komitmen menjaga kedamaian dan keselamatan. Karena pada dasarnya, semua agama menuntun umatnya kepada jalan kebaikan.

Natal tahun ini dirayakan ketika kondisi zaman masih marak dengan peristiwa intoleran. Sebagian umat Islam masih saja terpengaruh isu-isu murahan seputar mengucapkan selamat natal haram, menaruh curiga yang berlebihan kepada umat agama lain, mengharamkan pemimpin non-Muslim dan lain sebagainya. Termasuk perilaku mempolitisir agama semakin jelas mengemuka. Ayat suci Al-Qur'an dijadikan alat untuk menghujat dan membenci umat agama lain.

Kita harus memahami bahwa umat agama Kristen, Katholik, dll, termasuk yang berbeda aliran, bahkan yang tidak beragama sekalipun adalah saudara, selama kita masih komitmen pada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam momen perayaan Natal ini, mari kita jadikan ajang untuk memperkuat persatuan sebagai sesama warga bangsa.

Islam tidak pernah punya ajaran untuk mencurigai dan membenci umat agama lain. Islam tidak pernah menuntun umatnya untuk mengganggu dan apalagi merusak kekhusyuk-an umat agama lain yang sedang beribadah. Jangan sampai ada lagi aksi bom bunuh diri di gereja, penyegelan, pengrusakan gereja dan sejumlah aksi intoleran lainnya. Saya juga prihatin dengan kekhawatiran dan penolakan dari sebagian umat Islam yang ketakutan ketika umat agama lain, termasuk umat Kristen yang akan membangun rumah ibadah yang baru.

Mari kita beragama dengan dewasa, tanpa curiga dan kebencian. Caranya, adalah dengan membuka wawasan dan pergaulan agar pandangan kita menjadi inklusif. Para tokoh antar agama harus saling menginisiasi dialog-dialog lintas agama. Termasuk menjalin kerja sosial dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. Tak kalah penting juga adalah menanamkan toleransi di kalangan pelajar dan pemuda agar persatuan dan kesatuan umat beragama terus terjaga secara merata.

Akhirnya, mari kita sudahi sikap-sikap kerdil terhadap umat agama lain. Saya sangat beruntung bisa belajar kepada umat agama lain, menyimak mereka berbicara dan menyaksikan kebaikan hati mereka. Semakin saya belajar tentang ajaran umat agama lain, keyakinan saya kepada keislaman ala Nahdlatul Ulama dan pesantren, justru semakin kuat. Saya mengucapkan natal, saya mensyukuri natal, saya bergaul dengan umat agama lain, itu semua justru semakin memperkuat ke-NU-an saya. Selamat merayakan Natal 2017 untuk saudara-saudara kita yang beragama Kristen dan Katolik.

Wallahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang Haerudin

Sunday, December 24, 2017 - 21:00
Kategori Rubrik: