Menolak Digaji Besar Demi Nasionalisme

ilustrasi

Oleh : Teguh Arifiyadi

Hampir satu setengah dasawarsa jadi ASN, beberapa kali diuji 'kesetiaan' saya menjadi pelayan negara. Ada saja kawan baik yang mengajak saya memulai 'hidup baru' menjadi pekerja swasta (lagi) dan menanggalkan baju Korpri saya.
.
Terakhir, minggu lalu, seorang kawan mengirim pesan singkat, menawarkan saya lowongan pekerjaan sebagai cyber security specialist yang gajinya jika dikonversi dengan pengalaman kerja saya cukup untuk membeli sebuah mobil, setiap bulannya! Menggiurkan banget nget nget. Tapi sayangnya, untuk menjemput rizki itu, saya harus bekerja untuk negara lain. 
.
Saya ucapkan terimakasih dan menolak tawaran itu dengan halus.

Iseng, pesan wa kawan tadi saya tunjukkan ke istri untuk menggodanya. Istri saya hanya mesem kecut, terus bilang "emang yang selama ini kamu cari gaji?? Lha dulu dapat gaji besar dari swasta kenapa malah ditinggalin pilih jadi PNS? Nanti saja kamu boleh keluar dari PNS, kalau kamu sudah tidak dibutuhkan lagi.." Kata istri saya sambil berlalu.
.
Jawaban yang sudah saya duga, sama dengan jawaban-jawaban sebelumnya. Istri saya mendadak beraliran nasionalis-pragmatis.
.
Saya heran, kenapa ada saja yang menawarkan saya lowongan cyber security specialist. Kompetensi saya tidak sejauh itu. Saya hanya ASN biasa peminat teknologi, sama dengan ASN lain.
.
Kalau kata mas Adun (CPNS di tempat kami), "Mas Teguh cocoknya jadi security saja, gak usah pakai cyber-cyberan lah.."
.
Baiklah.

Sumber : Status Facebook Teguh Arifiyadi

Friday, November 22, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: