Menkes Layak Direshuffle?

Oleh: Jemima Mulyandari

Artikel ini murni membicarakan soal kinerja dan soal keberpihakan pada 269,6 juta jiwa rakyat Indonesia. Bukan soal like or dislike. Itu dulu yang harus kita sepakati bersama di sini. Sebab yang namanya Menteri Negara adalah pembantu Presiden yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Sampai di bagian ini sebetulnya sudah sangat jelas. Yang namanya pembantu itu tugasnya ya membantu dalam artian positif. Membantu meringankan beban Presiden sesuai tugas dan tanggung jawab yang sudah ditetapkan.

 

Makanya jika keberadaan menteri tersebut dalam kabinet bukan membantu meringankan tugas Presiden, tapi malah justru menambah beban Presiden jadi tambah berat, reshuffle adalah jawabannya. Segera ganti menteri yang tak niat kerja sepenuhnya untuk rakyat tersebut dengan orang yang lebih punya hati dan semangat untuk melayani masyarakat demi kemajuan negara.

Di artikel kali ini akan saya khususkan untuk membahas kinerja buruk Terawan selaku Menteri Kesehatan RI saat ini. Dari pembahasan inilah akan muncul dengan sendirinya kesimpulan jika Terawan memang layak direshuffle. Begini penjelasannya.

Pertama. Terawan banyak memberikan pernyataan meremehkan bahkan ngaco tentang serangan corona.

Saya masih ingat persis ucapan Terawan saat merespons dua warga Depok, Jawa Barat yang dinyatakan positif virus corona bulan Maret 2020 lalu. Saat itu Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan virus corona covid-19 merupakan jenis penyakit self limited disease yang dapat sembuh dengan sendirinya jika tubuh seseorang memiliki imunitas yang baik.

"Harus diingat ini penyakit self limited disease, penyakit yang bisa sembuh sendiri. Sama seperti virus lain," ujar Terawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 2 Maret 2020.

Pernyataan Terawan ini jelas ngaco dan menyesatkan publik. Karena faktanya, virus covid 19 ini bisa sembuh sendiri dengan catatan jika kondisi tubuh betul-betul sehat dan tidak punya penyakit bawaan.

Takkan ada masalah jika tubuh manusia seperti robot yang tak bisa drop dan tak punya penyakit bawaan. Masalahnya manusia kan bukan robot. Lalu bagaimana jika kondisi tubuh sedang drop tidak fit atau malah punya penyakit bawaan??? Solusi apa yang dibawa Terawan untuk ini??? Menunggu sembuh sendiri atau menunggu mati??? Cuma itu???

Sampai di bagian ini saya jadi emosi sendiri saat mengingat jawaban Terawan yang saat itu menjelaskan jika pengobatan pasien gejala virus corona sama dengan penyakit influenza. Pengobatan diberikan kepada pasien untuk meredakan gejala yang timbul seperti demam, flu, dan batuk. Pasien juga diberikan vitamin untuk memperkuat imunitas tubuh.

"Tidak diberi antibiotik karena bukan disebabkan bakteri, hanya pengobatan flu, serta diberikan vitamin dan makanan sehat untuk mengobati gejala yang timbul," kata Terawan.

Enteng banget ya jawabannya, seakan-akan tubuh rakyat Indonesia itu tak bisa drop dan tak punya penyakit bawaan. Dari sinilah awal mula saya tak enak hati dengan keberadaan Terawan sebagai Menteri Kesehatan yang kesannya sangat meremehkan serangan virus corona di negara kita.

Kedua. Terawan mengakui penyerapan anggaran penanganan pandemi virus corona di sektor kesehatan masih rendah disebabkan karena jumlah pasien yang masih sedikit.

Adapun realisasi belanja kesehatan dalam penanganan pandemi virus corona baru sebesar Rp4,48 triliun per 8 Juli 2020. Jumlah tersebut setara 5,12 persen dari total dana yang dialokasikan sebesar Rp87,55 triliun.

"Kalau penyerapan kurang kan berarti pasiennya sedikit. Santunan juga kalau penyerapannya kurang berarti yang meninggal sedikit, untuk tenaga kesehatan," kata Terawan dalam Rapat Badan Anggaran, Rabu, 15 Juli 2020.

Pernyataan ini jelas-jelas ngaco. Sementara data pemerintah pusat per 15 Juli 2020 menunjukkan jumlah pasien virus corona terus meningkat setiap harinya. Tercatat, kasus positif bertambah sebanyak 1.522 menjadi 80.094 kasus. 

Sementara itu, update kasus corona dunia per Kamis, 30 Juli 2020 berdasarkan worldometers.info. menyatakan Indonesia berada pada urutan 24 di atas China yang berada di posisi ke 28. Padahal China adalah negara awal yang kena pandemi corona ini terlebih dulu. Total kasus corona di Indonesia adalah 104.432 kasus.

Tak tersentuhkan hati Terawan dengan fakta yang semacam ini??? Jumlah pasien corona masih sedikit kata Terawan??? Heloooowwww…. 

Mau tunggu sampai berapa banyak lagi korban berjatuhan baru Menteri Kesehatan yang satu ini bekerja sungguh-sungguh mengoptimalkan anggaran yang sudah disediakan negara demi menyelamatkan rakyat Indonesia??? Haruskah dirimu atau keluargamu dulu yang kena corona baru bisa mengerti betapa ngeri dan tidak enaknya terkena penyakit yang satu ini??? 

Di sisi lain, saat dimintai tanggapan mengenai insentif atau tambahan penghasilan khusus kepada para tenaga medis yang selama ini berjuang antara hidup dan mati dalam menangani pasien atau suspect virus corona, Terawan hanya tersenyum.

Bagi Terawan, tenaga medis sudah bangga dilibatkan dalam penanganan infeksi virus corona yang disebutnya sebagai bentuk bela negara.

"Dia (tenaga medis) diberi penghargaan saja sudah bahagianya luar biasa, apalagi dilibatkan turut serta membela negara dalam hal ketahanan kesehatan nasional ini. Jadi itu adalah kebanggaan mereka untuk dilibatkan dalam mengatasi permasalahan Corona," kata Terawan di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Senin, 2 Maret 2020.

Sekalipun saya bukan tenaga medis, melihat tanggapan Terawan yang seperti ini jujur saya ikut tersinggung. Saya bisa mengerti jika akhirnya ada banyak tenaga medis yang kecewa bahkan marah dengan sikap Terawan yang seperti ini.

Atau, jangan-jangan Terawan jauh lebih rela jika anggaran kesehatan jadi bancakan sana sini, termasuk mafia alkes dan oknum-oknum rakus lainnya daripada diberikan dalam bentuk insentif pada para tenaga medis yang menjadi tiang penopang negara dalam menghadapi serangan corona ini. 

Just info, pemerintah Singapura menyiapkan anggaran 800 juta dolar Singapura khusus bagi tenaga medis yang bekerja menangani virus corona di negaranya. Bandingkan dengan tenaga medis Indonesia yang cuma dapat senyuman Terawan. 

Ketiga. Terawan tidak sepenuh hati mendukung Terapi Plasma Konvalesen. Instruksi Presiden Jokowi sebetulnya sudah sangat jelas agar TPK dilaksanakan dengan skala nasional. Faktanya perintah ini justru tidak dijalankan oleh para pembantu Jokowi itu sendiri. TPK justru menghadapi banyak halangan dan penjegalan.

Sayapun jadi teringat pada artikel Mas Alif yang menuliskan kurang lebih sebagai berikut:

Memang para pembantu Jokowi cukup nyaring berkomentar di media membahas TPK. Tapi sebenarnya itu cuma koar-koar saja. Di lapangan, justru mereka-mereka ini yang mempersulit pasien mendapatkan plasma. Bahkan kini permintaan penggunaan plasma lebih dipersulit lagi. Sempat juga beralasan ditutup karena alasan penelitian. Entah maksudnya apa, intinya pasien yang meminta plasma kini tidak diperkenankan lagi. Padahal sejauh ini, kalau ada pasien covid kondisi buruk, satu-satunya yang dicari ya plasma. Bukan vaksin Unpad, bukan obat racikan Unair.

Di sisi lain, Terawan sendiri tahu sudah ada banyak pasien covid kondisi buruk dan kritis sembuh berkat TPK. Sebagai dokter, Terawan juga pasti tahu jika TPK sampai saat ini menjadi satu-satunya metode pengobatan yang terbukti efektif menyembuhkan corona selain ucapan “pasrah” Terawan yang menyatakan jika corona bisa sembuh sendiri tak usah diberi antibiotik karena bukan disebabkan bakteri, hanya pengobatan flu, serta diberikan vitamin dan makanan sehat bla bla bla nging nging nging sambil mengabaikan jika tubuh manusia bisa drop bahkan ada yang punya penyakit bawaan.

Tiga point penjelasan di atas saya rasa sudah cukup untuk menyimpulkan sebetulnya Terawan selaku Menkes niat kerja untuk rakyat atau tidak. Terawan sebetulnya punya sense of crisis atau tidak. Sementara Terawan sendiri juga sudah tahu jika pandemi corona ini tak hanya menyerang masalah kesehatan saja, tapi juga mendatangkan ancaman resesi bagi NKRI akibat ekonomi ambruk, inflasi dan PHK.

Atas dasar inilah saya berkesimpulan jika Terawan harus segera direshuffle dari jabatannya sebagai Menkes RI. Lalu siapakah pengganti Menkes yang cocok???

Jawabannya adalah Dr. dr. Theresia Monica Rahardjo Sp.An., KIC. M.Si., Begini penjelasannya.

Sejak awal Dok Mo dengan gigih berusaha sana sini dalam memulai misinya menyelamatkan rakyat Indonesia dengan menyampaikan surat kepada Presiden Jokowi untuk penerapan TPK di seluruh Indonesia. 

Dok Mo juga ikhlas mengembalikan semua bayarannya, sampai ikhlas berkorban jiwa raga termasuk mengorbankan nyawanya sendiri demi bisa memberi harapan kesembuhan pada seluruh rakyat Indonesia lewat sebuah program bernama TPK.

Dok Mo tak punya urusan apapun dengan yang namanya harta. Dok Mo sudah punya semuanya dari hasil kerja kerasnya dan suaminya selama ini. Saya tahu Dok Mo mengembalikan semua uang bayarannya untuk disumbangkan pada orang-orang yang membutuhkan. Saya juga saksi hidup yang tahu keganasan Dok Mo “melibas” dan “menghabisi” tanpa ampun siapapun juga yang berniat mendompleng mendapatkan keuntungan dari program TPK yang digagas Dok Mo.

Dok Mo juga tak punya ambisi apapun dengan yang namanya jabatan. Saya tahu persis Dok Mo lebih suka jadi orang biasa dengan segala kebebasannya.

Orang tak punya agenda pribadi seperti Dok Mo inilah yang layak menduduki jabatan Menteri Kesehatan RI menggantikan Terawan demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Sekali lagi ini soal kinerja dan soal keberpihakan pada 269,6 juta jiwa rakyat Indonesia. Itu kata kuncinya.

Sumber referensi:

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200302162005-20-479814/menkes-virus-corona-penyakit-yang-bisa-sembuh-sendiri

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200715200049-532-525169/terawan-serapan-anggaran-corona-rendah-karena-pasien-sedikit

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200302173252-20-479838/menkes-soal-insentif-staf-medis-mereka-bangga-dilibatkan

Thank you so much guys. Peace on earth as in Heaven. Amen.

(Sumber: Seword)

Friday, July 31, 2020 - 20:30
Kategori Rubrik: