Menjelaskan Soal Utang Luar Negeri Kepada Awam

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Sering baca di koran, utang luar negeri Indonesia membengkak sekian trilyun, lantas para politisi menakut nakuti secara berlebihan. Ungkapan popular yang sering muncul “gali lubang tutup lubang”

Bagaimana sebetulnya hitung-hitungan utang pemerintah? tentu saja sangat kompleks. Untuk memudahkan pemahaman tentang utang luar negeri kita bisa menganalogikan utang luar negeri pemerintah dengan utang rumah tangga. Katakanlah seseorang memiliki profil gaji dan tekor rumah tangga seperti berikut ini:

- Gaji: 120 juta/tahun. Ini analog dengan PDB nominal
- Kenaikan gaji per tahun: 12%. Ini analog dengan pertumbuhan PDB nominal atau sering juga disebut pertumbuhan ekonomi nominal
- Tekor rumah tangga (di luar pembayaran bunga) = 2% gaji/tahun. Ini analog dengan defisit primer dalam APBN
- Tekor 2% gaji itu ditutup dengan utang. Ini analog dengan utang luar negeri pemerintah
- Bunga bank = 6%/tahun. Ini analog dg suku bunga nominal utang pemerintah

Dengan defisit terus menerus setiap bulan sebesar 2% dari gaji, bagaimana utang orang itu dalam jangka panjang? apakah akan meledak? Jawabannya tidak, karena kenaikan gaji orang itu lebih besar dari bunga bank yang dibayarkan.

Rumus untuk menghitung besarnya proporsi utang seseorang terhadap gaji dalam jangka panjang adalah sebagai berikut:

utang/gaji = (defisit rumah tangga) / (pertumbuhan gaji - bunga bank)

Kalau data-data dalam contoh hipotetis dimasukkan dalam rumus di atas. maka besarnya rasio utang gaji orang tersebut dalam jangka panjang adalah:

utang/gaji = 2/(12-6) = 33%

Dalam jangka panjang nilai nominal utang akan membengkak terus, namun karena gaji juga terus meningkat tiap tahun, maka rasio utang terhadap gaji orang tersebut akan stabil di level 33%

Mengapa rasio utang bisa stabil kendati orang dalam contoh di atas tidak henti-hentinya menambah utangnya tiap tahun? Jawababnya: rasio utang akan stabil karena walapun tiap tahun “gali lubang” 2%, namun “tutup lubang” lebih besar, yaitu kenaikan gaji setelah dikurangi pembayaran bunga = 12%-6% = 6%

Kehati-hatian dalam mengelola utang

Namun perhatikan juga rasio utang orang tersebut akan dengan cepat membengkak jika empat hal berikut ini terjadi, baik sendiri2 apalagi jika terjadi sekaligus: 
- defisit rumah tangganya membengkak (misalnya: mendadak sakit dan memerlukan perawatan mahal)
- pertumbuhan gajinya mendadak anjlok (misalnya: karena dipecat)
- suku bunga pinjaman menjadi mahal (misalnya: pindah utang ke rentenir)
- khusus untuk utang dalam dollar, maka utang bisa membengkak jika dollar mendadak jadi mahal

Catatan Akhir

Analogi utang rumah tangga di atas mungkin bisa memberi gambaran umum pengelolaan utang luar negeri dan membantu untuk tidak menyikapi utang luar negeri secara berlebihan. Pertama, besarnya nilai nominal utang bukan ukuran yang tepat untuk menilai baik buruknya pengelolaan utang, ukuran yang tepat adalah rasio utang terhadap PDB.

Kedua, kendati rasio utang dapat dijaga di level rendah, namun rasio utang bisa tiba tiba membengkak karena gejolak ekonomi. Ketiga, terkait dengan point kedua. Indonesia tidak boleh lengah. Untuk menghindari resiko membengkaknya utang, maka perlu terus dijaga/diusahan agar tidak terjadi defisit anggaran yang tidak terkendali bagian terbesar penerimaan dari utang luar negeri disalurkan ke hal-hal produktif atau untuk meningkatkan produktivitas sehingga pertumbuhan ekonomi bisa dijaga tetap tinggi bunga utang pinjaman dijaga tetap rendah dengan mengurangi resiko ekonomi; semakin tinggi ketidakpastian ekonomi semakin tinggi bunga utang tidak terjadi lonjakan nilai dollar secara berlebihan

Patut dicatat bahwa Indonesia telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola utang luar negerinya. Misalnya Indonesia menerapkan dua prinsip berikut: defisit APBN tidak boleh melampaui 3% dari PDB dan Rasio utang tidak boleh melampaui 60% PDB

Utang bermanfaat jika utang ditanamkan dalam usaha produktif yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Kendati utang pada dasarnya bermanfaat namun pengelolaan utang tetap perlu memperhatikan prinsip kehati-hatian. Sikap rasional dan tidak emosional dalam perdebatan tentang utang luar negeri Indonesia sangat diperlukan.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Monday, December 4, 2017 - 13:30
Kategori Rubrik: