Menjelang dan Sesudah 22 Mei 2019

Oleh: Saiful Huda Ems

Sudahkah pembaca mendengar penetapan Bachtiar Nasir (BN) dan Eggi Sudjana (ES) sebagai tersangka oleh polisi? BN dijadikan tersangka untuk kasus kejahatan korupsi pencucian uang, sedangkan EG dijadikan tersangka untuk kasus makar. Dua dedengkot barisan pendukung Capres kalah Prabowo lainnya, yakni Ratna Sarumpaet (RS) dan Ahmad Dhani (AD) sudah lebih dulu ditahan dan diproses di persidangan, dan keduanya sudah sangat dekat dengan vonis hakim. 

Jika pembaca mencermati hal itu, tidakkah pembaca berpikir telah adanya gerakan prakondisi diam-diam oleh aparat keamanan, sebagai langkah antisipasi untuk tidak terjadinya gerakan people power yang dicetuskan oleh Amin Rais cs. pendukung Prabowo? Dan semua langkah-langkah antisipatif dari pihak aparat keamanan tersebut penulis pikir sangat patut untuk kita apresiasi. Lalu bagaimana pula penulis mencermati hal tsb., prediksi apa yang dapat dikemukakan penulis untuk situasi Indonesia menjelang dan sesudah keputusan resmi KPU di tgl. 22 Mei 2019? Mungkinkah people power itu benar-benar akan terjadi?.

 

Pembaca yang budiman, beruntung sekali jauh sebelum peristiwa kebangsaan yang sangat dilematis ini terjadi, penulis seolah diperkenalkan satu persatu oleh Tuhan pada beberapa pelaku utama politik di dua lingkaran besar yang sedang berkonfrontasi ini melalui berbagai peristiwa. Ada beberapa jenderal mantan Panglima TNI di kedua belah pihak yang pernah bekerjasama dalam politik dengan penulis melalui organisasi-organisasi yang didirikannya. Ada pula teman-teman advokat dan teman pengusaha di kubu sebelah yang mendadak jadi ustadz yang gemar bikin gaduh. Ada teman-teman aktivis lama yang berada di kedua kubu yang sebagian membakar dan sebagian menjadi pemadam kebakaran emosi. Ada teman-teman polisi di Mabes POLRI yang kerap menangani kasus-kasus mereka. Ada teman-teman wartawan senior yang terus memantau gerak mereka, ada teman-teman politisi yang sukses dan gagal nyaleg di kedua kubu dlsb. Pertemanan penulis dengan semuanya itulah yang penulis jadikan dasar pengamatan jalannya peristiwa politik yang sedang dan akan terjadi.

Amin Rais misalnya, penulis kenal lama sebagai seorang yang inkonsisten dan besar mulut saja, sama halnya dengan Eggi Sudjana yang pernah menjadi aktivis masjid di Berlin beberapa bulan atau mungkin hanya setahun. Lalu Jend. purn. TNI Joko Santoso (Ketua BPN) yang pernah membentuk INDONESIA ASA (Adil, Sejahtera, Aman), dan beberapa teman dekat penulis dahulu yang sekarang mempagar betis kepemimpinan Prabowo-Uno, penulis mengenalnya tak lebih hanya kumpulan orang-orang yang tak memiliki idealisme dan hanya berhasrat ingin mendapatkan kekuasaan saja. Pada jiwa-jiwa seperti ini, keberanian untuk serius menggerakkan people power yang berdarah-darah tidaklah mungkin, selain tentunya pula teori revolusi sosial yang tak utuh dipahaminya. Mereka teriak-teriak people power tak lain hanyalah untuk bargaining posisi dalam kedudukannya di pemerintahan saja.

Di sisi lain, yakni pada kelompok di lingkaran Presiden Jokowi, penulis juga mengenal beberapa orang dengan karakternya. Jend. Pur. TNI Wiranto misalnya, yang dahulu penulis pernah bergabung di mesin tim suksesnya (POS WIRANTO) untuk PILPRES 2009, mengenalnya sebagai pribadi yang tidak tegaan, bolak balik mengancam mau menindak kejahatan Ormas ini itu dengan tegas, tetapi nyatanya tidak pernah ada tindakan yang benar-benar tegas dan nyata dilakukan kecuali hanya pada HTI, hingga kejahatan yang dilakukan Ormas tsb. terus saja berjalan. 

Lalu Jend. Purn. TNI Moeldoko yang merupakan ketua dewan pembina Ormas HARIMAU JOKOWI, penulis melihatnya sebagai sosok yang sangat piawai mencetuskan ide-ide baru untuk menghadapi pergerakan lawan, dengan mendirikan kelompok-kelompok strategis. Namun sayangnya Moeldoko merupakan salah seorang tokoh politik yang tergolong tidak begitu bersemangat melakukan lobi-lobi horizontal, hingga berpotensi segala instruksinya tidak mengakar.

Jadi, jika dicermati dari karakteristik para pelaku politik di dua kelompok yang sedang memanas ini (baca: kelompok Jokowi dan Prabowo), penulis nyaris tidak melihat adanya potensi pertarungan besar dan berdarah apapun dalih atau kemasan media konfrontasinya, mau people power ataupun revolusi. Penulis sama sekali tidak yakin, yang kelompok Prabowo berani memulai perang dan kelompok Jokowi berani menyerang balik, akan tetapi yang ada adalah hanya sekedar kubu Prabowo menabuh atau melempar kaleng kosong dan para politisi kubu Jokowi hanya balik menabuh dan melempar kaleng kosong pula, hingga yang terdengar hanya suara gaduh belaka.

Meskipun demikian, kerusuhan nasional berdarah itu akan bisa benar-benar terjadi, manakala kaleng kosong yang ditabuh itu suaranya makin keras dan menjalar dimana-mana, hingga suasana nasional semakin memanas dan hati orang-orang di kedua kubu yang semula sudah mulai tenang kembali terusik dan terbakar. Orang-orang yang awalnya hanya bicara tentang Jokowi vs Prabowo meluas menjadi Pribumi vs Non Pribumi, NU vs Wahabi, Tito Karnavian vs Bachtiar Nasir, Luhut Binsar Panjaitan dan Hendropriyono vs Rizieq Sihab, Kivlan Zen, Amin Rais dan Yusuf Martak, China vs Arab, dlsb. terus meluas dan meluas. Api konfrontasi kian membesar, meluas dan kaleng-kaleng yang ditabuh serta dilempar itu mengenai kepala orang-orang yang selama ini diam tak bersikap, atau bersikap tetapi cukup di belakang layar, disaat seperti itulah perang saudara terjadi, dan tak ada siapapun yang patut disalahkan kecuali dia yang nyapres berkali-kali tapi terus kalah dan marah, lalu melemparkan percikan api ke daun-daun hati yang telah kering di mana-mana.

Sebagai warga bangsa yang sangat mencintai perdamaian tentu kita sangat tidak menginginkan perang saudara ini terjadi. Kita harus sebisa mungkin mencegahnya, dan semoga Indonesia tetap diberikan keselamatan oleh Tuhan, serta pemimpin nasional yang kembali terpilih, bekerja dengan tenang tanpa gangguan...(SHE).

09 Mei 2019.

Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan Penulis, Ketua Umum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI.

Thursday, May 9, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: