Menjawab Tempo yang Cengeng

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Belum lama media online Tempo bak anak kecil yang cengeng, menangis hingga berguling-guling gegara web beritanya diretas orang. Gak cukup dengan mewek bombay, Tempo pun menuduh pemerintah ada di belakang aksi peretasan dan teriak lantang "kebebasan pers dipasung," ucapnya sambil tetap nangis berguling-guling. Lucu. Ini yang saya bilang kemarin, beberapa saat setelah berpulangnya Mr Jacob Oetama, Pers Perjuangan saat ini sudah mati. Yang ada sekarang Pers Pragmatis.

Tempo berteatrikal seperti itu ingin menyuarakan, seolah semua media yang kritik kepada pemerintah dibungkam dengan cara kotor dan sadis yakni meretas sampai teror mengancam. Sementara pihak istana mungkin cuma tersenyum menahan gelak, "Iki bocah ngapa yak?" Lha wong pemerintah gak ngapa-ngapain kok dituduh-tuduh sabotase dan otoriter? Malah pemerintah sangat memberi kebebasan kepada pers dan warga yang ingin menyampaikan aspirasi dan ekspresi politik.

Kalau pemerintah otoriter, maka ILC yang paling pertama ditutup. Kalau pemerintah otoriter maka Tempo gak bebas membuat berita yang penuh asumtif dan tuduhan. Gak mungkin ada demo yang sampai menghujat presiden. Lantas mengapa cengeng baru diretas saja? Karena semangatnya bukan perjuangan lagi, melainkan membuat iklan bagi yang membayar mahal. Rating Oriented, hedon dan pragmatis. Idealisme pers hanya cover untuk menutupi perilaku para bohir yang membayar mahal.

Sebelum kasus Tempo terjadi, sebelumnya juga ramai peretasan akun Twitter para pesohor. Pembobolan data identitas pribadi juga dialami oleh seorang Projo, Denny Siregar. Sebelumnya lagi seorang relawan jurnalis online, Ninoy Karundeng, mengalami kekerasan fisik, diculik dan dianiaya. Tapi mereka semua tidak cengeng seperti Tempo, menangis dan menuduh orang sembarangan. Baru-baru ini pun seorang jurnalis media online, Liputan6dotcom, Cakrayuni Nuralam, di kanal Cek Fakta, mengalami persekusi berupa doxing atau penyebarluasan informasi pribadi kepada publik.

Hal itu terjadi setelah Cakrayuni menulis artikel berjudul “Cek Fakta: Tidak Benar Anggota DPR, Arteria Dahlan, dari Fraksi PDI Perjuangan Cucu Pendiri PKI di Sumbar" pada Kamis (10/9/2020). Tidak hanya dirinya pribadi, tapi keluarganya juga. Data pribadi berupa alamat rumah, nomor telepon, tautan akun privat yang mengarah ke foto keluarga, termasuk foto bayi, disebarluaskan ke publik. Sadis dan menakutkan bukan? Bagaimana jawabmu Tempo, siapa yang harus dituduh?

Namun pihak Liputan6dotcom tidak eaton menuduh, mereka hanya mengecam tindakan teror yang menghambat dan mengancam kerja jurnalis yang harusnya dilindungi undang-undang. Menurut mereka, jurnalis tidak bekerja untuk dirinya sendiri melainkan atas nama institusi (media). Mereka lebih memilih jalur hukum, melaporkan kepada pihak yang berwajib. Dan memang yang benar adalah seperti itu, (sekali lagi) bukannya mewek sampai ngesot-ngesot.

Serangan doxing bermula pada Jumat (11/9/2020) dengan skala masif. Sekitar pukul 18.20 WIB, akun Instagram @d34th.5kull mengunggah foto korban tanpa izin dengan keterangan foto sebagai berikut:

"mentioned you in a comment: PEMANASAN DULU BRO??
No Baper ye jurnalis media rezim .
Hello cak @cakrayurinuralam .
Mau tenar kah,ogut bantu biar tenar ???? .
#d34th_5kull
#thewarriorssquad
#MediaPendukungPKI"

Kemudian, akun Instagram cyb3rw0lff__, cyb3rw0lff99.tm, _j4ck__5on__, dan __bit___chyd_____, menyusul dengan narasi serupa. (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Sunday, September 13, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: