Menjawab Tafsir Politis di Media Sosial; Dari Pilkada Hingga Politisasi Agama

Oleh :  Udji Kayang Aditya Supriyanto

Alquran tak akan lekang oleh zaman. Ketaklekangan itu, diakui atau tidak, di antaranya karena para ulama menafsirkan ayat-ayat Alquran sesuai konteks ruang dan waktu. Setiap ayat pada dasarnya bisa dikontekstualisasi sesuai dengan zaman, dan oleh karena itu menjadi senantiasa relevan. Di masa kini, saat setiap orang dari seluruh penjuru dunia bisa terhubung lewat media sosial, kita lantas menjumpai ayat-ayat Alquran dibicarakan di situ.

Medsos adalah penanda zaman ini. Medsos menunjukkan pada kita bagaimana ayat-ayat Alquran diartikan dan dimengerti. Hal itu lantas ditanggapi oleh Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) dalam bukunya Tafsir Al-Quran di Medsos: Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci pada Era Media Sosial (2017).

Medsos adalah belantara informasi yang sebegitu liar dan tak bisa serta-merta kita percayai. Untuk hal itu, Gus Nadir menulis, “Umat tidak lagi bisa memfilter mana yang benaran ustaz dan mana ustaz yang ‘benar-benar, deh’. Semua orang bisa mendadak jadi ustaz. Kualifikasi dan hierarki keilmuan menjadi runtuh. Walhasil, medsos juga dipakai sebagai alat menyebarkan kajian keislaman yang tidak ramah, isinya marah-marah, dan parahnya lagi tidak jelas mana yang asli dan mana berita hoaks.”

Karenanya, saat Gus Nadir menanggapi pembicaraan ayat-ayat Alquran di medsos, ia mengistilahkannya dengan “turun gunung”. “Banyak kawan saya para akademisi yang tidak tahan dengan hiruk pikuk medsos… Seolah mereka tidak mau kotor berlumuran caci maki di medsos oleh para haters? Namun, kalau kita diam saja, bagaimana dengan nasib umat?”

Salah satu peristiwa yang menunjukkan wajah “Islam marah” di medsos adalah kisruh video Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu. Ucapan Ahok dalam video itu dianggap sebagai penistaan agama. Ahok lantas didemonstrasi besar-besaran oleh ribuan massa yang mendaku mewakili umat muslim.

Memang, aksi itu terasa bias kepentingan, lantaran itu terjadi menjelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Entah, adakah andil musuh politik Ahok atau tidak di belakang demonstrasi itu, yang jelas hari ini Ahok mesti berakhir mendekam di penjara. Kita bisa membayangkan, hanya karena ucapan seseorang tentang satu ayat Alquran, yakni Al-Maidah ayat 51, terjadilah peristiwa politik terburuk di Indonesia setelah G30S.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya, Allah tak memberi petunjuk pada orang-orang yang zalim,” demikian terjemahan Al-Maidah ayat 51 yang kerap beredar.

Terjemahan itu sebetulnya problematis, karena “awliya” serta merta diterjemahkan jadi pemimpin. Terjemahan itu kita temui pada Alquran terjemahan Kementerian Agama, sedang dalam berbagai kitab tafsir, semisal At-Thabary dan Ibn Katsir, awliya diartikan semacam sekutu atau aliansi.

Ibn Katsir memberikan penjelasan terkait asbabun nuzul Al-Maidah ayat 51, “As-Saddi menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah Perang Uhud, ‘adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada Yahudi itu, lalu saya berlindung kepadanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal.’

Sementara itu, yang lainnya menyatakan, ‘adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung kepadanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya.’” Awliya dalam tafsir Ibn Katsir ini jauh dari artian pemimpin, apalagi gubernur.

Tafsir ayat-ayat yang dibicarakan secara politis di medsos dapat kita simak dalam buku Tafsir Al-Quran di Medsos Gus Nadir. Selain Al-Maidah ayat 51, Gus Nadir juga membahas surat An-Nisa yang tak kalah dipolitisasi. Pada subbab Tafsir An-Nisa (4): 138-139 Bukan Mengenai Pilkada, Gus Nadir melanjutkan persoalan awliya. Gus Nadir menulis, “tafsir Al-Qurtubi mengatakan ‘awliya’ dalam ayat ini konteksnya membantu dalam amalan yang berkenaan dengan agama.

Tafsir Al-Munir juga mengatakan hal yang sama. Itu artinya, kalau kita ikuti alur kedua kitab tafsir ini, berhubungan baik dengan nonmuslim di luar masalah agama, seperti bermuamalah, bertetangga, bekerja. transaksi, dan lain-lain, dibenarkan oleh Islam.”

Maka, sebetulnya pemaknaan terhadap awliya selaras dengan Al-Kafirun ayat 6 yang terjemahannya, “bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” Islam tak membenarkan tindakan murtad dan syirik. Namun, untuk tindakan yang sifatnya muamalah atau sosial bersama pengikut agama lain, bahkan dengan yang tak beragama sekalipun, Islam tidak melarang itu. Islam menghendaki umatnya memiliki kesalihan ritual (hablumminallah) dan kesalihan sosial (hablumminannas) sekaligus.

“Spirit Islam adalah keadilan,” tulis Gus Nadir, “kalau ada orang adil (mampu berbuat adil dan menegakkan keadilan) ya kita dukung meskipun dia bukan muslim dan Allah akan menolong orang yang adil tersebut. Kalau ada orang muslim, yang bersikap zalim dan melakukan kezaliman, ya, jangan didukung.”

Pada akhirnya, kita pantas bersepakat pada saran penting dari Gus Nadir. Umat harus terus diedukasi dan diberi pencerahan akan makna dan kandungan ayat Alquran sesuai tafsir para ulama, bukan pakai logika dan kepentingan para politisi. Setiap upaya mereduksi ayat suci ke dalam kubangan politik kotor harus kita lawan.

Setiap upaya pembodohan terhadap umat dengan semata hendak membangkitkan emosi massa harus kita tangkal. Setiap penafsiran dan penerjemahan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah tafsir harus kita jelaskan dengan merujuk pada kitab-kitab tafsir yang mu’tabar (representatif).

Sumber: islami.co

Tuesday, March 27, 2018 - 11:30
Kategori Rubrik: