Menjawab Soal Rombongan Keluarga Presiden Joko Widodo ke German dan Turki

Ilustrasi

Oleh : Heru Sutrantoso

Dua hari belakangan media sosial diributkan dengan terdapatnya rombongan Presiden yang tampak anak, menantu dan cucu ikut dalam kunjungan kerja ke German serta Turki. Dalam beberapa medsos tertangkap kamera 3 anak Joko Widodo yakni Gibran, Kahiyang maupun Kaesang. Kemudian Nampak pula Selvy Ananda, istri Gibran menggendong Jan Ethes putra mereka. Foto itu diambil jelang keberangkatan Presiden bersama rombongan untuk menghadiri KTT G20 di Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta.

Foto itu cepat menyebar dibagikan oleh para pembenci Presiden seperti group-group FPI, alumni 411-212, hingga Jonru. Mereka menuding macam-macam atas keikutsertaan keluarga presiden. Padahal sejak dahulu jangankan Presiden atau Menteri, banyak kepala daerah, DPR/D, kepala dinas, pejabat lain mengajak keluarga pada diam. Bedanya dulu medsos tidak sekencang sekarang jadi banyak tidak tahu. Bahkan sewaktu Suryadharma Alie menjabat Menteri Agama, dia memanfaatkan jabatannya mengajak sanak saudara pergi haji. Akibatnya dia harus menanggung tanggungjawab atas peraturan yang dilanggar.

Bahkan pada September 2015, Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengakui Ketua DPR (Setya Novanto), Ketua BURT (Roem Kono), Robert Joppy Kardinal serta Nurhayati Assegaf membawa keluarga. Ingat, kepergian Presiden Joko Widodo keluar negeri bersama keluarga tidak melanggar aturan apapun. Bahkan dalam UU No 7 Tahun 1978 tentang Hak Keuangan Administratif Presiden dan Wakil Presiden Serta Bekas Presiden dan Wakil Presiden pasal 3 disebutkan bahwa disamping gaji pokok dan tunjangan sebagaimana dimaksud pasal 2, kepada presiden dan wakil presiden diberikan a) seluruh biaya yang berhubungan dengan pelaksanaan tugasnya; b) seluruh biaya rumahtangganya; c) seluruh biaya perawatan kesehatan beserta keluarganya.

Disamping itu, dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 164/PMK.05/2015 tentang Tata Cara Perjalanan Dinas Luar Negeri disebutkan bahwa keluarga Presiden bisa diajak.

Pada pasal 2 diuraikan “peraturan menteri ini mengatur pelaksanaan dan pertanggungjawaban perjalanan dinas bagi pejabat negara, PNS, PPPK, Anggota TNI, anggota Polri, Pejabat lainnya, dan pihak lain yang dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara”. Adapun penjelasan Pihak Lain sesuai pasal 1 ayat 10 menjelaskan yakni “orang selain pejabat negara, PNS, PPPK, Anggota TNI, Anggota Polri, dan pejabat lainnya yang melakukan perjalanan dinas termasuk keluarga yang sah dan Pengikut.” Dengan demikian keberangkatan anak, mantu dan cucu Presiden Joko Widodo masih sesuai dengan aturan.

Jika kita bandingkan dengan presiden lainnya, sebetulnya mereka juga kerap membawa keluarga. Hanya jaman dulu tidak ada medsos sehingga tidak seramai sekarang. Pun demikian rombongan Presiden Joko Widodo ini lebih ringkas. Dari sisi biaya sebetulnya lebih efisien dibandingkan dengan rombongan Presiden ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam kunjungan kerja menghadiri APEC serta G20 di tahun 2014 Presiden Jokowi hanya membawa rombongan 46 orang sudah termasuk paspampres, staf maupun wartawan. Saking dibatasinya, Kepala Biro Pers dan Media Kepresidenan tidak turut diajak. Sementara SBY membawa 75 orang rombongan. Bedanya, SBY mengangkut serta tim dokter, intelejen lengkap,  protokoler serta ajudan menteri. Dalam hampir setiap kunjungan resminya, SBY lebih pede membawa teleprompter sementara Joko Widodo hanya memakai power point untuk presentasi. Konsekuensinya, operator teleprompter harus dibawa. Teleprompter adalah monitor yang dipasang didepan narasumber seperti layaknya pembawa acara agar tidak seperti membaca teks.

Otomatis dengan jumlah rombongan besar dengan rombongan terbatas maka biaya yang dikeluarkan negara tidak besar. Untuk gambaran tentang biaya, sewaktu melakukan perjalanan dinas didalam negeri dan istirahat makan siang biaya yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo jauh lebih kecil dibandingkan dengan rombongan SBY. Pada 28 Maret 2017, Gubernur Jatim menjamu SBY di Restoran Bon Ami dengan memesan sirloin steak, krupuk kulit ayam, jagung goring dan nasi campur menghabiskan Rp 8.219.300. Jumlah yang sangat fantastis. Nah saat Joko widodo berkunjung ke Balikpapan dan makan siang di RM Biru Laut Balikpapan hanya menghabiskan Rp 800.000.

Jadi, Presiden Joko Widodo sebenarnya sudah pembawaannya efektif dan efisien. Hanya saja tidak mungkin semua hal yang ditanyakan masyarakat selalu dijelaskan sendiri. Banyak hal dibalik kejadian tidak seperti sangkaan semua orang. Bagaimana beliau masih tetap istiqamah memakai baju putih, belanja di mall, di warung, sholat di musholla kecil, rutin berkunjung ke pondok pesantren, silaturahim dengan para kyai dan tak lupa puasa senin – kamis. Janganlah kebencian kalian menutupi kebenaran yang sebenarnya selalu terlihat.

Thursday, July 6, 2017 - 18:15
Kategori Rubrik: