Menjawab Nyinyiran HNW Soal Prediksi Hujan dan Class Action AB

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Dalam ilmu prediksi dikenal bahwa risiko meramal akan terjadi hujan padahal tidak hujan itu lebih kecil, dibanding meramal tidak hujan padahal hujan.

Di dalam ilmu hukum membebaskan orang yang bersalah itu lebih baik daripada menghukum orang tidak bersalah.
Jadi BMKG dengan segala kekurangannya masih bagus. Kalau cuma diramal hujan tapi nggak hujan, orang justru siap2 utk menghadapi kemungkinan buruk.
Bayangkan kalau diramal tidak hujan tapi hujan ekstrim, apa yang terjadi?

Namanya prediksi ada error itu biasa. Sejauh metodenya benar dan sudah serius ya begitulah prediksi, tidak mungkin akurat 100%. Tidak bisa hasil prediksi di class action. Mungkin nanti kalau prediksi itu sudah 100% akurasinya, untuk semua hal, dunia sudah dekat kiamat. Artinya kemampuan manusia sudah mendekati kemampuan Tuhan. Tapi dalam sains sebenarnya Tuhan tidak diikutkan. Karena mengikutkan Tuhan dalam sains akan mengecilkan semangat eksplorasi.

" Itu sudah kehendak Tuhan " biasanya dihindari dalam riset. Karena kalau sudah keluar kalimat itu, riset mandek, menyerah, pasrah. Itu penyakit yang sekarang banyak disebarkan ustadz2 bodoh tanpa sains yang memadai. Keimanan dimaknai sebagai kepasrahan total tanpa usaha.

Untuk pernyataan pak HNW (Coklat, cowok Klaten) yang kedua, berkali2 diramal tidak hujan tapi hujan ekstrim itu kapan terjadinya?
Apa benar 1 Januari tanpa aba2 dari BMKG?
Mitigasi risiko itu memang antisipatif. Terjadi atau tidak hujan ekstrim para pejabat sudah harus dari awal siap2, tidak perlu nunggu BMKG mengeluarkan ramalan cuaca.

Ternyata BMKG, BPPT, BNPB, AU melakukan rekayasa cuaca mengurangi hujan deras terjadi di daratan. Jadi BMKG tidak salah.

Di Surabaya pompa2 selalu disiapkan menjelang musim hujan. Hujan atau tidak, pegawai rumah pompa sudah siaga. Jika lalai, ibu wali akan marah2 dan si pekerja bisa dipindah atau dihentikan. Begitu hujan, bu Risma sudah mantengin tinggi air di sekitar rumah pompa lewat layar monitor. Bahkan saking semangatnya kadang ketinggian air daerah sekitar rumah pompa belum mencapai ambang batas, bu Risma sudah perintahkan pompa dihidupkan. Pompa kadang terbakar karena air terlalu minim untuk disedot.

Tapi itu lebih baik daripada terjadi banjir air nggak dipompa. Bu Risma sangat concern dengan antisipasi banjir ini.
Kami pernah dimintai tolong pemkot Surabaya menghitung biaya pemeliharaan pompa ini. Dari sana saya tahu gimana pedulinya Bu Risma menjaga daerahnya, dan rasa sayangnya pada warga.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Tuesday, January 14, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: