Menjawab Kekhawatiran SBY

Oleh: Erizeli Bandaro

 
"Tantangan utama yang bakal dihadapi oleh pemerintah adalah bagaimana fiskal dan APBN kita bisa dikelola dengan baik. Juga bagaimana utang Indonesia dapat dikontrol secara ketat dan serius. Utang yang ada menurut saya sudah sangat tinggi dan karenanya tidak aman. Persoalannya bukan hanya meningkatnya rasio utang terhadap PDB Indonesia, tetapi yang berat adalah utang yang besar itu sangat membebani APBN kita. Membatasi ruang gerak ekonomi kita. Betapa beratnya ekonomi kita jika misalnya 40% lebih belanja negara harus dikeluarkan untuk membayar cicilan dan bunga utang. [...] Jadi, jangan hanya berlindung pada persentase debt-to-GDP ratio yang dianggap masih aman dan diperbolehkan undang-undang. Bukan disitu persoalannya. Persoalannya terletak pada kemampuan pemerintah untuk membayar utang tersebut yang dirasakan sudah sangat mencekik," ujar SBY dalam akun media sosial Facebook resmi miliknya.
Pak SBY, saya sebagai anak bangsa sangat menghormati kekawatiran bapak. Itu membuktikan kepedulian Bapak kepada bangsa ini. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, bersama ini izinkan saya menanggapi kekawatiran bapak terhadap kebijakan APBN.
 
Pertama. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 pada bulan november tahun lalu, IMF melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 terbaik kedua setelah China. Di tengah pandemi, kinerja ekonomi kita tetap lebih baik dari negara lain. Saya rasa hasil riset IMF terhadap ekonomi Indonesia tidak perlu diragukan. Karena sejak reforamsi IMF tahun 2009, IMF tidak lagi melakukan intervensi politik. Tetapi lebih focus kepada menciptakan keseimbangan moneter global. Tentu risetnya sangat berdasar tentang ekonomi suatu negara.
Kedua. Tanggal 7 januari 2021, pemerintah menerbitkan global bond dengan seri baru masing-masing RI0331 (1,85 persen), RI0351 (3,05 persen), dan RI0371 (3,350 persen) , serta 1 SUN berdenominasi euro yaitu RIEUR0333 (1,10 persen). Itu semua SUN berjangka panjang. Creding rating dari Japan Creditr Rating Agendy (JCR) adalah A-, kemudian dari S&P adalah BBB, begitu pula dari Fitch Rating BBB. Itu membuktikan analisa makro ekonomi dalam jangka panjang sangat bagus. Lembaga rating adalah lembaga yang paling objetif menilai ekonomi suatu negara atau korporat. Karena dia sebagai indikator bagi investor. Kan engga ada investor yang bego.
Ketiga, sebagaimana bapak ketahui bahwa kebijakan ekonomi Indonesia di tengah pandemi sesuai dengan amanah UU No. 1/2020. Bahwa negara harus bertanggung jawab terhadap pandemi sebagaimana amanah UU tentang bencana nasional, namun pada waktu bersamaan kita juga harus menjaga ekonomi kita tetap di jalur yang benar. Kita tidak seperti AS dan Eropa yang gagal menciptakan keseimbangan antara kebijakan ekonomi dan pandemi. Makanya mereka masuk dalam lubang resesi yang dalam.
Terimakasih Pak SBY. Sehat selalu.
 
(Sumber: Diskusi dengan Babo)
Saturday, January 9, 2021 - 13:30
Kategori Rubrik: