Menjajal Kaum Millenial yang Bermoral

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Ramai dan viral perbincangan tentang kaum penerus yang bakal menyambut estafet apa saja yang terus bergulir didunia. Bisnis, Politik, Kepemimpinan, dst.

Indonesia diramaikan dengan kehadiran Sandiaga Uno yang tiba-tiba menyeruak kepermukaan menjadi cawapres Prabowo. Walau kehadirannya di isukan dengan bermacam pembicaraan, tetap saja keberadaannya menghadirkan sebuah tanda bahwa kaum tua harus mulai sadar, dimana posisi mereka mulai memudar.

Tidak bisa di pungkiri tarik ulurnya cawapres yang diusung oleh para pihak adalah sebuah usaha bagaimana kaum muda bisa ditarik suaranya. Deklarasi ijtimak ulama sebagai strategi penguatan posisi Prabowo bersama ulama setelah beberapa isu gagal dihadirkan untuk mengkerdilkan Jokowi. Dari mulai PKI bangkit lagi, Puluhan juta tenaga kerja cina, Kriminalisasi ulama, PDI tidak butuh suara umat islam, dst. Sampai pada detik dimana Jokowi belum menghadirkan cawapres, Prabowo masih mengincar ulama sebagai wakilnya, makanya sampai ada ijtimak ulama, framing ini sengaja dikuatkan bahwa Prabowo lebih dekat dengan ulama dan islam, sedang Jokowi yang sudah di posisikan mengkriminalisasi ulama akan mereka buktikan, walau sejatinya mereka tau Prabowo sendiri diragukan keislamannya, tapi memilih pemimpin islam itu cuma labelnya saja, yang penting bisa diajak kerjasama, keislamannya asal ada cukup, hidup dengan cara islami nanti saja.

 

 
 
 

Situasi berkata lain, Ma'ruf Amin di jadikan cawapres Jokowi, runtuh lagi strategi mereka, sehingga deklarasi ijtimak menjadi basi dan lumer untuk dijadikan strategi. Saat itu juga Sandi ditarik untuk meletakkan positioning sebagai pendamping dari Kaum Milenial, kenapa bukan Anies, ya..Anies juga dalam pertimbangan, sayang uangnya tak menunjang, biarkan saja dia di DKI ngumpulin dana untuk bayar utang. Sandi dipasang dengan target suara milenial pada pilpres 2019 +/- 30 % besarnya atau sekitar 50 jutaan.

Apes buat Sandi, Jokowi menarik Erick Thohir sohibnya sejak kecil yang tau isi perutnya dijadikan Ketua Tim Kampanye . Dan tampilan saat pengumuman Ketua Tim yang hadir anak-anak muda, cawapres boleh tua, tapi dibelakangnya anak-anak muda, sebaliknya Prabowo cawapresnya muda, yang lainnya tua-tua, dan panjang-panjang mulutnya.

Sandi dihadapkan dengan Erick dengan track record kesuksesan dalam bisnis yang luar biasa, terakhir namanya viral sebagai Ketua penyelenggaraan Asian Games yang fenomenal. Sandi boleh kaya namun cara mendapatkannya jauh beda, namanya ada di Panama Peper, juga Prabowo ada disana, kasus-kasus yang sempat mampir di kepolisian, walau tidak berkelanjutan, hal itu menjadi catatan. Sampai disana kita harus melihat, kita tidak boleh hanya berteriak milenial, kita harus juga berteriak tentang " MORAL " karena negeri ini 42 tahun dilumat oleh manusia tak bermoral, saat ini sedang diperbaiki oleh manusia berakhlak tinggi, JOKOWI. Tidak perlu banyak dikomentari, dia sudah membuktikan bahwa dia telah selesai dengan dirinya sehingga dia bisa bekerja untuk rakyat dan negerinya.

MENJUAL KAUM MILENIAL TAK BERMORAL ADALAH TINDAKAN FATAL DAN BRUTAL. HARUS SELALU DIINGAT " BAKAR RUMAHNYA DAN RAMPOK ISINYA " MASIH MENJADI PONDASI STRATEGINYA, KITA JANGAN MAU DIPERDAYA DENGAN TIPUAN MURAHANNYA.

# JAGA INDONESIA DENGAN MORAL, BUKAN CUMA VIRAL

 
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)
Tuesday, September 11, 2018 - 13:30
Kategori Rubrik: