Menjadi Ulama Itu Tidak Bisa Instan

Oleh : Vinanda Febriani

Subhanallah, salam Ta'dzim kagem Abah Ahmad Mustofa Bisri. Semoga selalu dalam lindungan, ampunan, karunia dan kasih sayang Allah SWT. Aamiin YRA.

Panjenengan adalah motivator bagi saya dan santri-santri NU diseluruh pelosok Nusantara bahkan dunia, Bah. Panjenengan menjunjung tinggi filosofi Padi, 'Makin menguning, makin merunduk' (semakin berilmu, semakin rendah hati). Di saat kelompok-kelompok radikal dan intoleran berebut gelar Ulama, justeru panjenengan yang benar Ulama, malah melepaskan gelar tersebut agar tetap terlihat sama dengan orang lain. Subhanallah, bah. Salam dan salim ta'dzim saking kula.

Bapak pernah ngendika, seseorang bisa menjadi Ulama itu sangat lama
1. Mondoknya
Biasanya seorang Ulama menghabiskan masa kecil hingga remajanya di pesantren bertahun-tahun hingga benar-benar matang dan siap untuk 'disajikan' (ilmu yang ia dapat) di Masyarakat. 
2. Ngajinya
Seorang Ulama selain nyantri bertahun-tahun lamanya di pesantren, mereka pasti sudah mengkhatamkan Al-Qur'an, banyak kitab dan hadits. Sehingga durasi ngajinya di pesantren lebih lama dari santri-santri biasa.
3. Prosesnya
Proses menjadu Ulama tidak semudah, sesimpel dan seinstan apa yang ada dalam pikiran kita. Terlebih sekarang, banyak bermunculan orang-orang yang belum khatam ngaji atau tidak pernah mondok sekalipun mengklaim bahwa dirinya adalah Ulama. Padahal istilah Ulama muncul dari kalangan masyarakat. Ulama adalah tokoh panutan masyarakat yang mana sudah menguasai ilmu agama dari berbagai sumber yang shahih (jelas). Ulama dikenal sangat alim (berilmu), menilai apapun dengan ilmu, bukan dengan emosi, amarah dan sesuai selera diri sendiri. Proses menjadi Ulama tidaklah mudah. Butuh kecerdasan ekstra baik lahir maupun bathin.

Kesimpulannya, seorang menjadi Ulama adalah dengan proses yang memakan waktu sangat lama. Tidak bisa instan dan tidak bisa didapatkan begitu saja.

 

 

Sumber : facebook Vinanda Febriani

 

Tuesday, October 16, 2018 - 07:30
Kategori Rubrik: