Menjadi Teman Curhat Pasien (Cerita dari Pot)

ilustrasi

Oleh : Alia Sahnaz

Salah satu tugas extra sebagai dokter relawan di RSDC Wisma Atlet selain memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang tepat agar sembuh dan selamat adalah menjadi pendengar curhat bagi para pasien.

Tadi malam seorang ibu curhat ke Pot. Suaminya (57 tahun) yg bekerja sbg pekerja kontrak di Denso tiba2 sakit demam, batuk dan maag. Saat dibawa ke RS dilakukan cek rapid ternyata positive Corona. Dari pemeriksaan darah juga diketahui ternyata ada gula darah yg tinggi. Padahal selama ini dikira sehat saja. Dirawat 4 hari sang suami semakin sesak. Akhirnya dirujuk ke RS Persahabatan. Di RS ini sang istri dipanggil dokter untuk memberi penjelasan tentang kemungkinan dipasang ventilator.

Sang dokter bertanya apakah jika bapak memerlukan ventilator yg terbatas akan memakainya ataukah ibu ikhlas untuk tidak pakai ventilator? Setelah berdoa dan meminta kekuatan pada Allah sang ibu menjawab bahwa sang bapak tidak usah dipakaikan ventilator yg juga fifty-fifty kemungkinan survive-nya dg progresifitas covid yg diderita. Sambil menangis sang ibu menjawab terbata-bata. Membayangkan akan kehilangan pasangan hidup yg baik yg telah menemaninya lebih dari 25 tahun. Dua anak mereka kuliah: satunya di Unand, satunya di USU. Satu yg kecil masih SMA. Sang ibu yg menyadari akan menjanda membayangkan betapa sulitnya mengarungi hidup tanpa tulang punggung. Selama ini ia hanya ibu rumah tangga yg bekerja di dapur.

Sang dokter ingin menjelaskan bahwa jika sang suami meninggal akan ada protokol covid. Sang ibu yg hanya lulusan SMP menghentikan pak dokter "Dok, saya sudah mengerti, tidak perlu saya dijelaskan", kata sang ibu sambil menetes airmata deras di pipinya. Di ICU 3 hari, sang bapakpun meninggal dunia. Sang ibu dan bungsu yg tinggal di rumahpun dites positive keduanya. Disarankan untuk dirawat di wisma atlet. Hasil swab menunjukkan positive covid.

Membayangkan akan kehilangan pasangan hidup yg baik yg telah menemaninya lebih dari 25 tahun. Dua anak mereka kuliah: satunya di Unand, satunya di USU. Satu yg kecil masih SMA. Sang ibu yg menyadari akan menjanda membayangkan betapa sulitnya mengarungi hidup tanpa tulang punggung. Selama ini ia hanya ibu rumah tangga yg bekerja di dapur.

Sang dokter ingin menjelaskan bahwa jika sang suami meninggal akan ada protokol covid. Sang ibu yg hanya lulusan SMP menghentikan pak dokter "Dok, saya sudah mengerti, tidak perlu saya dijelaskan", kata sang ibu sambil menetes airmata deras di pipinya. Di ICU 3 hari, sang bapakpun meninggal dunia. Sang ibu dan bungsu yg tinggal di rumahpun dites positive keduanya. Disarankan untuk dirawat di wisma atlet. Hasil swab menunjukkan positive covid.

Pot hanya mampu mendengarkan semua keluh kesah sang ibu yg sedang sakit sekaligus kehilangan suami dan ayah putra-putrinya. Hanya mendengar dan berharap semoga hati sang ibu dikuatkan oleh semesta alam.

Sumber : Status Facebook Alia Sahnaz

Thursday, May 21, 2020 - 23:15
Kategori Rubrik: