Menjadi Rakyat Yang Baik

Ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Dulu sewaktu menjadi dosen baru, ada perasaan kurang percaya diri ketika berhadapan dengan mahasiswa yang rata-rata umurnya kurang lebih sama atau mungkin selisih 1-2 tahun. Apalagi pindah institusi, berada di universitas baru, ada perasaan masih seperti orang asing. Itu berlangsung beberapa bulan. Maka ketika suatu saat menghadiri acara wisuda di Jurusan, saya merasa bukan bagian dari acara itu. Merasa asing dan hanya tamu karena saya belum mengajar para mahasiswa yang diwisuda itu. Sepertinya tidak ada juga mahasiswa yang cukup memberi perhatian bahwa saya ada di situ. Dosen-dosen yang lebih senior saya lihat mendapat penghargaan semestinya. Namun ini hanya perasaan saya saja. karena perasaan tidak percaya diri tadi.

Namun tiba-tiba saya merasa sangat dihargai ketika ketua himpunan dengan sopan meminta saya ke atas panggung untuk memberikan semacam sertifikat kelulusan kepada beberapa wisudawan. Saya merasa menjadi 'sangat berguna' atau eksis ketika itu. Ketua himpunan itu mengubah sesuatu.

Ketua himpunan yang tidak banyak bicara itu punya perasaan yang halus. Dia punya penghargaan yang tinggi kepada orang lain terutama kepada yang lebih tua apalagi dosennya. Dia termasuk mampu dari sisi ekonomi dan termasuk mahasiswa yang pintar di angkatannya namun tidak ada sedikitpun rasa sombong atau sok. Teman dosen lain beberapa waktu kemudian bercerita bahwa ketika datang ke rumah kos-kosannya, ketua himpunan itu naik motor, padahal sehari-harinya dia naik mobil kalau ke kampus. Jaman itu (1993) mahasiswa bawa mobil adalah sesuatu hal yang mewah. Mungkin dia tahu bahwa dosennya itu hanya punya motor. Untuk menjaga perasaan dosennya dan sebagai bentuk hormatnya, dia ke sana tidak bawa mobil. Perasaan yang sangat halus dan peka. Hal-hal yang mungkin orang lain tidak memikirkannya.

Menghadapi mahasiswa yang seperti itu pasti dosen juga akan memberikan penghormatan yang setara meskipun lebih tua atau secara status berbeda posisi.

Ketua himpunan itu sekarang jadi dosen, jadi kolega. Tidak berubah sikapnya, masih seperti dulu. Sebagai dosen dia termasuk yang berprestasi dan mampu mewarnai Jurusan meskipun masih sama dalam satu hal: tidak banyak bicara.

Relasi dosen - mahasiswa, selain sikap dasar dosennya, tentu akan dipengaruhi juga sikap mahasiswa kepada dosennya. Jika dosen menemukan mahasiswa yang malas atau sering tidak mengumpulkan tugas, pasti ada perasaan kecewa. Atau dosen yang menemukan mahasiswa bimbingannya kurang perform di kelas atau kurang menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas akhir, thesis atau disertasi, pasti ada rasa yang kurang enak. Tapi jika mahasiswanya rajin, bekerja keras, dosen pasti akan semakin bersemangat memberikan ilmunya atau melakukan pembimbingan.

Tentu saja ada mahasiswa yang 'baik' dan 'kurang baik' dimata dosen dari aspek perilaku. Begitu juga ada dosen yang baik dan kurang menyenangkan di mata mahasiswa dengan cara penilaian yang subyektif maupun obyektif. BIasanya ada juga dosen favorit, karena cara mengajar yang enak, ilmunya banyak, sikanya baik. Dan sebaliknya. Jika ada dosen yang bagus, jarang bolos, melayani mahasiswa dengan baik, ilmunya banyak, tapi mahasiswa tidak respek, mungkin mahasiswanya yang bermasalah.

Relasi pemimpin dan rakyat kurang lebih seirama. Jika ada pemimpin melihat rakyatnya suka bekerja, nggak banyak menuntut, mungkin akan mendorong semangat pemimpin memberikan imbalan yang lebih. Atau rakyat yang baik akan menghargai pemimpin yang bekerja dengan baik, tulus dan jujur.

Ada juga pemimpin yang nggak peduli rakyatnya. Banyak juga rakyat yang nggak bisa membedakan pemimpin yang baik. Atau sengaja, meski melihat pemimpinnya bekerja baik, jujur, tulus, tetap dimusuhi atau dihujat terus menerus.

Jika suatu negara ribut terus, protes sana-sini, demo nggak habis-habis, maka bisa dilihat pemimpin dan rakyatnya. Jika pemimpinnya otoriter, memperlakukan rakyat sebagai obyek pemerasan untuk memperkaya diri dan kelompoknya, kebebasan bicara ditekan, kekayaan negara dikuasai keluarga dan kelompoknya, maka penyebab demo, keributan adalah sang pemimpin.

Sebaliknya jika pemimpinnya bekerja baik, tidak banyak bicara, tidak banyak membuat pernyataan yang menyerang, selalu rendah hati, melayani rakyat, tidak otoriter, tidak memperkaya diri, tapi sebagian rakyat masih suka ribut, menghujat, demo, maka kemungkinan besar yang suka bikin ribut adalah rakyatnya. Keributan tidak semata-mata faktor pemimpin, tetapi juga perilaku masarakat yang dipimpin.

Entah benar atau tidak, pernah terjadi dalam sejarah kepemimpinan di jazirah Arab ketika khalifah ke 4 khulafaur rasyidin, Ali Bin Abi Tholib menjadi khalifah di Arab, beberapa sahabat atau rakyat bertanya kurang lebih begini:

" Wahai Ali mengapa di jaman kepemimpinanmu ini banyak sekali keributan? Ini berbeda dengan jaman khalifah-khalifah sebelumnya terutama Abu Bakar dan Umar?"

Ali menjawab dengan cerdas kurang lebih begini:

"Iya waktu itu aku jadi rakyat. Sekarang rakyatnya orang-orang seperti kalian".

Khalifah Ali termasuk orang yang jujur, pemberani dan baik akhlaknya.

Dalam banyak kasus orang sering menyalahkan pemimpin. Ada apa-apa langsung mencari siapa yang salah, pasti salahnya Jokowi dan seterusnya. Kita perlu belajar menjadi rakyat yang baik, yang taat aturan, yang kerja keras, yang bangga dengan kemampuan sendiri. Bukan rakyat yang suka menunggu bantuan pemerintah, mendapat dana APBN, mengharap lowongan kerja, mengharap apa-apa murah. Kita semua adalah khalifah di bumi harus menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain. Tidak menuntut dan menyalahkan orang lain atau pemimpin.

Saya sungkan melihat Pak Jokowi begitu giat bekerja, tidak punya capai, tampil begitu sederhana, sehari bisa mengunjungi beberapa tempat untuk meresmikan hasil pembangunan atau ketemu dan menyapa masyarakat.

Pembangunan begitu gencar, sampai kadang nggak percaya begitu mewahnya terminal 3 Cengkareng dan dibangun skybridge yang megah di sana. Bagi yang pernah ke LN bisa membandingkan kemewahan terminal 3 dengan beberapa bandara di negara lain. Kita tidak kalah. Di Jakarta, MRT sudah mau selesai pembangunan tahap pertama, dan kita punya fasilitas transportasi penciri negara maju, MRT.

Asli saya sungkan kalau melihat presiden bekerja begitu keras dan sepertinya tidak silau melihat uang besar yang bisa ia korupsi lewat berbagai kebijakan atau melibatkan anak, sanak saudaranya. Anaknya tes CPNS pun beliau tidak mau membantu. Begitu hebatnya Pak Jokowi ini menjauhi nepotisme. Capaiannya dalam 5 tahun sangat bisa dirasakan. Saya jadi ketua jurusan saja sudah pusing. Saya asli sungkan dan sangat respek, saya tidak mau jadi rakyat model jamannya khalifah Ali.

Bagaimana dengan Anda?

Sumber : Status Facebook Aizza Ken Susanti

Tuesday, December 11, 2018 - 13:45
Kategori Rubrik: