Menjadi Produktif dengan Nonton

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Mengikuti petunjuk dr. Achmad Yurianto, agar kita produktif, pada hari ke 28 ngendon di rumah, saya bongkar-bongkar koleksi film DVD. Saya hitung masih tersimpan 548 keping. Seharmal saya cek satu-satu, ada 166 rusak. Sama sekali nggak bisa diputar. Hiks.

Untung sebagian besar sudah didigitalkan, pindah ke hardisk. Kebanyakan film-film ikonik yang menjadi tempat pembelajaran tak habis-habis, setidaknya bagi saya. Apalagi dalam lima tahun terakhir, tak lagi banyak membeli film. 

 

Hingga ketemu dua film yang cuma saya kasih catatan, tapi belum pernah saya lihat. “Artificial Intelligence” (2001) garapan Steven Spielberg, dan “Where God Left His Shoes” (2007), sebuah judul unik sutradara Salvatore Stabile (lebih dikenal sebagai penulis dan sutradara film televisi di AS). Memenangkan ‘Humanitas Prize Best Director’. Wih, keren.

WGLHS memang bukan style Hollywood, meski setting cerita di apartemen New York City. A Failed Boxer Struggkes to Find a Job, text promonya. Wah, saya jadi parno dengan isu paling aktual negeri ini. Soal banyaknya orang jobless, kayak saya. Sebetulnya ada satu film lagi, yang pasti menarik impuls negative saya, “Tsotsi”, atau gangster di Soweto, Johannesburgh, bagaimana kemiskinan melahirkan kejahatan. Tapi saya singkirkan dulu film itu, sebelum opini saya bermain-main. 

Dari film Spielberg, tentang kecerdasan buatan, saya tergoda ngubungin teori konspirasi dengan Perang Dunia ke III. Bukan lagi perang fisik, senjata api hingga kimia, dengan spirit nasionalisme, jeritan anak dan perempuan, yang terasa begitu ‘indah’ dalam garapan Rolland Joffe (The Killing Fields), Oliver Stone (Heaven and Earth), atau Francis Ford Coppola dengan pameran bintangnya (Apocalypse Now). 

Di Indonesia, ‘keindahan’ film perang masih dipegang Teguh Karya (November 1828, 1979), sekali pun Eros Djarot tetaplah perlu diacungi jempol (untuk film Tjoet Nja Dhien, 1988). Film Eros tetap menunjukkan kelasnya, sebagai film sederhana tetapi nyaris sempurna. Tidak dengan pendekatan teknis, melainkan kreativitas dan imajinasi, di tengah keterbatasan peralatan dan dana. 

Film perang jaman sekarang, dan kelak, mungkin akan sangat berbeda. Itu sebabnya industri film berkembang dengan berbagai teknik dan gimmicksnya. Termasuk tata-suara dan terutama visual effex, dengan animasi 3D, dan seterusnya. Spielberg bagaimana pun pionir dalam melakukan terobosan-terobosan teknik. 

Dengan proposal latar belakang seperti itulah, saya putuskan untuk produktif. Setidaknya produktif nonon film. Begitulah, hampir 4 jam saya habiskan nonton kedua film itu nonstop. Dan di jaman wifi terus bermasalah, juga Bioskop Online tiarap diburu Menkominfo, nonton film layar-lebar dalam monitor komputer tentu kemewahan tersendiri. Tanpa iklan dan buffering. 

Nantilah saya tuliskan review dua film itu. Agar produktivitas di dalam rumah tetap terjaga, sesuai anjuran pemerintah. Produktif nonton.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Tags: 
Tuesday, April 7, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: