Menjadi Orang Berilmu yang Tawadhu

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

Memakai mukena dengan warna dan motif sederhana selepas sholat subuh. lalu foto selfie. Saya suka selfie tapi tidak begitu sering.

Kalau ada yang tanya dan disuruh milih antara foto selfie atau menulis. Tentu saja saya memilih untuk menulis.

Menulis adalah cara saya berbagi pengalaman dan ilmu ilmu yang Allah amanahkan kepada saya. Dan juga agar bisa menginspirasi banyak orang untuk lebih produktif.

Saya aslinya lebih suka mengamati orang lain daripada harus menjadi sorotan orang lain. Saya lebih suka diem. Biarlah orang lain yang bicara, saya tidak begitu tertarik untuk ikutan tampil. Kecuali saat saya memimpin rapat di kantor, sedang mengajar di kampus menyampaikan materi kuliah, jadi pembicara di seminar. Ya harus ngomong lah.

Tapi diluar jadi pembicara, saya tidak suka jadi sorotan orang. Entah kenapa saya malu kalau dianggap hebat, apalagi ditambah pujian dan orang-orang sering berebutan minta selfie setelah saya selesai mengisi acara. Takut saya nya jadi melambung dan sombong.

Makanya pas dipuji orang, saya cuma senyum. Gak tau mau ngomong apa. Ketar ketir juga terhadap hati saya sendiri.

Iblis itu pinter dan taat sama Allah. Tapi iblis merasa lebih baik, makanya diusir dari surga.

Pokoknya ini aja yang jadi pegangan saya. Belum tentu yang ilmunya banyak, yang lebih taat bisa masuk surgaNya Allah kalaulah dia sombong dan merasa lebih baik dari orang lain.

Dunia panggung bagi saya itu melalaikan. Saya di atas panggung dan semua mata melihat kearah saya. Belum lagi tepuk tangan banyak orang terhadap saya.

Ini kenapa alasan saya selalu rendah hati saat di panggung ketika di puji orang banyak. Malu. Bener bener malu ketika dianggap lebih hebat. Lebih baik jadi orang belakang panggung saja tapi bisa memberikan manfaat yang besar dan baik bagi orang orang di sekitar saya.

Inilah yang saya suka. Saya lebih suka berkarya daripada mendengar tepuk tangan manusia.

Jangan sampai ada rasa membeda bedakan antara sesama manusia. Kalau mau belajar sama saya, ayo ayo aja. Tapi biasa saja. Jangan di puji puji.

Pun jangan terlalu menganggap saya hebat, wow, atau apalah. Pokoknya harus biasa biasa saja kalau ketemu saya. Jadinya kita bisa ngobrol dengan santai. Iya kan?

Saya bukan artis. Dan saya tidak suka jadi sorotan orang lain. Melelahkan. Sampai sampai saya pernah bingung mau pakai baju apa ke acara acara. Yang ini salah, yang itu salah. Takut penampilan jadi jelek.

Tapi sekarang, mau acara formal, diundang jadi pembicara, mengajar di kampus atau undangan apapun, saya gak bingung lagi pilih baju.

Semakin saya belajar dan berilmu, saya jadi semakin malu untuk tampil berlebihan. Jadi sekarang saya menyederhanakan penampilan saya.

Gak silau lagi oleh gamis gamis unyu unyu dan cantik. Semua baju saya sekarang di dominasi oleh baju hitam dan merah polos warna kesukaan saya.

Menghormati orang lain itu bukan karena dia kaya, cantik, atau jabatannya tinggi. Biasa saja.

Bagi saya, saya akan lebih menghormati orang yang berilmu. Dan tingkatan tertinggi orang berilmu adalah semakin tinggi ilmunya maka dia akan merendahkan dirinya. Tawadhu.

Beda dengan orang yang baru berilmu, biasanya dia akan sombong. Baru tau ilmu sedikit sudah sombong seperti hanya dia yang paling pintar. Padahal diatas langit masih ada langit.

So, tak pantas kita menyombongkan diri ini. Kita ini tidak ada apa apanya. Banyak orang yang lebih hebat dari kita. Mereka tawadhu. Ingatlah, Jangan bangga dengan pujian manusia.

Begitupun ketika saya sedang berkarya tanpa harus diketahui banyaknya mata, sambil berharap ini akan bermanfaat besar nantinya dan bersinar layaknya berbasuh cahaya.

Be yourself with your good personality, and always be grateful for the blessings and gifts of giving God.

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

Friday, September 18, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: