Menjadi Nahdliyin yang Merdeka dan Idealis

Oleh: Saefudin Achmad

 

Menjadi manusia merdeka dan idealis di zaman modern yang sangat kompetitif ini bukan perkara yang mudah. Contoh kecil adalah merdeka dan idealis dalam ideologi yang diyakini bagaimanapun kondisinya. Terkadang, situasi dan kondisi mendesak manusia menjadi seorang yang pragmatis.

Saya akui bisa nulis seperti ini karena belum pernah berada pada kondisi yang sulit yang terkadang ideologi menjadi pertaruhannya. Namun saya berharap dalam kondisi apapun, teman-teman bisa mempertahankan ideologinya. Ideologi adalah prinsip hidup. Mempertahankan ideologi adalah bagian dari kemerdekaan diri.

 

Saya seorang muslim dan dalam beribadah mengikuti amaliah ormas NU secara kultural. Saya bisa dikatakan tetap menjadi manusia merdeka jika tetap menjadi nahdliyin dalam kondisi apapun. Sebaliknya, jika saya tidak lagi menjadi nahdliyin karena tuntunan pekerjaan (misalnya karena bekerja di lembaga milik ormas lain yang menuntut pegawainya untuk mengukuti ormas tersebut), maka saya tidak lagi menjadi manusia merdeka dan idealis, melainkan seorang pragmatis.

Ada salah satu kyai yang melarang keras santrinya bekerja di lembaga milik ormas tertentu yang notabene berseberangan dengan nahdliyin. Jika tahu ada santrinya yang bekerja di situ, kyai tersebut meminta keluar. Kyai tersebut sampai mengatakan tidak akan ridho terhadap santri yang bekerja di lembaga milik ormas tertentu.

Salah satu misi dari ormas dan aliran adalah menyebarkan pengaruh dan merekrut anggota sebanyak mungkin, dari cara yang terang-terangan dan kasat mata, sampai cara yang halus dan tidak kasat mata. Saya tidak akan menjelaskan cara yang terang-terangan dan kasat mata karena sudah jelas. Saya hanya akan mencontohkan cara yang halus dan tidak kasat mata, yaitu dengan mendirikan sekolah dan membuka lowongan kerja.

Tak bisa dipungkiri, ekonomi adalah segalanya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Jika kondisi ekonomi benar-benar minus, maka bekerja apapun asalkan halal akan dilakukan asalkan bisa memulihkan kondisi ekonomi. Hal ini menjadi peluang bagi beberapa ormas untuk menyebarkan pengaruh dan merekrut anggota sebanyak mungkin.

Beberapa ormas mendirikan lembaga pendidikan. Selain untuk menyebarkan paham ormas tersebut, juga untuk merekrut anggota melalui membuka lowongan pekerjaan misalnya sebagai guru atau tenaga pengajar. Ada ormas yang mensyaratkan siapapun yang hendak bekerja di lembaga pendidikan milik ormas tersebut, harus menjadi anggota dan ikut menyebarkan paham ormas tersebut. Terkadang ada yang mensyaratkan harus membuka kantor cabang di daerahnya. Bagi orang yang ekonominya sangat terdesak, biasanya memilih menjadi pragmatis. Toh, menjadi idealis tidak membuat ekonominya pulih. Lebih baik ikuti persyaratan biar bisa bekerja dan dan dapat uang.

Ada juga ormas yang tidak mesyaratkan seperti itu untuk orang yang ingin bekerja disitu. Cara mereka lebih halus lagi. Setelah orang yang ingin bekerja masuk, ormas tersebut mulai memoles agar para guru bisa mengikuti amaliah ormas tersebut melalui serangkaian kebijakan dan program. Misalnya, membuat aturan semua guru harus memakai pakaian tertentu yang identik dengan ormas tersebut, membuat program kegiatan yang identik dengan ormas tersebut, serta mewajibkan guru mengajarkan ajaran agama Islam yang sesuai dengan paham ormas tersebut. 

Lambat laun, para guru yang awalnya bukan bagian dari ormas tersebut akhirnya mulai terlihat menjadi bagian dari ormas tersebut, mulau daru cara berpakaian, hingga pehaman agama. Mereka sulit untuk menolak karena ormas tersebut telah berjasa memulihkan ekonomi sehingga para guru bisa hidup lebih baik.

Untuk membuat orang-orang tertarik untuk menjadi guru atau tenaga pengajar di lembaga pendidikan milik ormas tersebut, biasanya ditawarkan gaji yang besar dan di atas rata-rata sekolah milik pemerintah, apalagi sekolah milik nahdliyin. Hal ini yang membuat manusia-manusia dengan ideologi dan prinsip yang masih lemah tergiur untuk bergabung dengan mereka.

Tak bisa dipungkiri selama ini NU belum mampu memberikan apa yang diberikan ormas lain kepada guru atau tenaga pengajar. Rendahnya honor guru di lembaga ma'arif membuat beberapa nahdliyin yang memilih menyeberang ke lembaga pendidikan milik ormas lain yang menawarkan gaji yang fantastis. Memang ada yang tetap memegang ideologinya kuat-kuat, tapi tak sedikit juga yang memilih menyeberang dengan alasan tuntutan ekonomi.

Untuk mengantisipasi hal ini, saya berharap NU dan pesantren lebih serius lagi untuk mengampanyekan "kemandirian ekonomi" kepada para santri. Jangan sampai karena tak mampu mandiri secara ekonomi, beberapa nahdliyin akhirnya memilih menyeberang (menjadi guru di lembaga pendidikan milik ormas lain) yang lebih menjanjikan kemandirian ekonomi.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Sunday, January 26, 2020 - 16:00
Kategori Rubrik: